Oleh: Chen Simin

Perusahaan Dandong Hongxiang Industry provinsi Liaoning terseret ke dalam kemelut nuklir di Korea Utara, media massa mengungkapkan, Direktur utama perusahaan tersebut yang bernama Ma Xiaohong telah ditangkap.  Ma disinyalir didukung oleh pejabat tinggi dari kedua negara, serta memiliki “hubungan sangat dalam” dengan petinggi Korut.

Bertepatan dengan kasus ini akan diungkap pula bahwa di antara tujuh Anggota Tetap Komite Politbiro Partai Komunis Tiongkok/PKT Pusat, siapa lagi yang memiliki hubungan baik dengan Korut melebihi tiga anggota kubu Jiang yakni Zhang Gaoli, Zhang Dejiang, dan Liu Yunshan?

Di antara para petinggi PKT, yang menamatkan studi di Korea Utara bisa dikatakan sebagai “mahluk langka”, dua di antaranya Zhang Dejiang dan Zhang Gaoli yang pernah studi di Universitas Komprehensif Kim Il Sung di Korea Utara.

Hal yang berbeda adalah, di dalam biografi resmi Zhang Gaoli pendidikannya di Korut tidak disebutkan. Kalau ada pemalsuan dalam jenjang pendidikan pejabat bisa dikenakan sanksi “pemalsuan dokumen”, menutupi fakta juga bisa dikenakan sanksi yang sama. Selain jenjang pendidikan, di antara ketiga pejabat tersebut Zhang Gaoli memiliki hubungan yang lebih istimewa, yakni dikabarkan bahwa Zhang Gaoli “berdarah Korea”.

Dari kiri ke kanan: Jiang Zemin bersama tiga pengikut setianya: Zhang Dejiang, Liu Yunshan dan Zhang Gaoli pada suat acara di tahun 2014. (Epoch Times)
Dari kiri ke kanan: Jiang Zemin bersama tiga pengikut setianya: Zhang Dejiang, Liu Yunshan dan Zhang Gaoli di acara pada 2014. (Epoch Times)

Sementara Zhang Dejiang tetap menyebutkan pendidikannya di Universitas Komprehensif Kim Il Sung di dalam biografinya. Menurut informasi, jika bukan karena ijazah ini, Zhang Dejiang bahkan tidak lulus perguruan tinggi. Dan dipastikan Zhang Dejiang tidak memiliki “darah Korea”, namun karena ia menguasai bahasa Korea, dan pernah berkuasa di provinsi Jilin yang berbatasan langsung dengan Korut, sedangkan Kim Jong-Il pernah bersekolah menengah di Sekolah Menengah Yuwen di Kota Jilin.

Oleh karena itu, Zhang Dejiang tidak hanya memiliki hubungan pribadi dengan rezim keluarga Kim, namun juga membantu Jiang Zemin yang sudah tidak menjabat untuk tetap mempertahankan hubungan dengan Korut. Sebagai contoh, pada 2010 Kim Jong-Il membawa serta Kim Jong-Un berkunjung ke RRT, Zhang Dejiang yang waktu itu menjabat sebagai wakil PM menyambut Kim dan menjamunya, selain berkunjung ke almamaternya Sekolah Menengah Yuwen, Kim Jong-Il juga diajak pelesir ke kampung halaman Jiang Zemin, sambil menaiki perahu mengelilingi Danau Xi Hu di kota Yang Zhou.

Jika tidak menyinggung soal pendidikan di Korut atau pun garis keturunan, di antara petinggi PKT beberapa tahun terakhir ini, adalah Liu Yunshan yang memiliki banyak hubungan timbal balik dengan Korut.

Dilihat dari frekuensi kunjungan ke Korut, Liu Yunshan tidak hanya sekali ke Korut. Menurut informasi media, setidaknya pada 2007 ia telah berkunjung ke Korea Utara dan disambut oleh almarhum Kim Jong-Il. Oktober 2015, Liu Yunshan adalah Anggota Tetap Komite Politbiro periode ini yang pertama mengunjungi Korea Utara.

Dilihat dari interaksi di Beijing, sebelum Kongres Nasional ke-18 (2013), Liu Yunshan yang menjabat selain sebagai anggota Tetap Komite Politbiro, juga Sekjend di Kantor Kepaniteraan sekaligus merangkap Menteri Departemen Propaganda. Liu telah berkali-kali menerima para perwakilan dari Korut, dan melaporkan kondisi Kongres Nasional ke-17. Ia juga pernah menerima tim perwakilan penting dari media dan budaya Korut.

Ketika opera revolusi tradisional Korut ditampilkan di Beijing, Liu Yunshan khusus hadir menyaksikannya, serta menemui kepala rombongan dan para pemeran utamanya. Setelah Kongres Nasional ke-18 dan naik jabatan sebagai anggota Tetap Komite Politbiro, Liu tidak hanya menyambut duta khusus Kim Jong-Un yang bernama Choe Ryong-hae dan pada peringatan tiga tahun meninggalnya Kim Jong-Il, Liu sendiri secara khusus pergi ke Kedubes Korut di Beijing untuk mengikuti upacara peringatan tersebut.

Dengan kata lain, walaupun tidak menguasai bahasa Korea, tapi Liu Yunshan yang pernah secara langsung memberikan cinderamata Olimpiade kepada Kim Jong-Il, juga memiliki hubungan erat dengan rezim keluarga Kim, juga kenal baik dengan pejabat Korut dari berbagai tingkatan.

Kasus yang melibatkan direktur Hongxiang Industry membuktikan satu hal, yakni sebagai negara yang mengandalkan kepemilikan nuklir, Korea Utara tidak tergantung pada senjata nuklir melainkan pada Partai Komunis Tiongkok/ PKT. Seperti diketahui, rezim keluarga Kim memiliki hubungan sangat erat dengan kubu Jiang Zemin. Di awal masa jabatan Jiang, pada 1991 Kim Il-Song berkunjung ke RRT, Jiang Zemin mendampinginya berkunjung ke Yangzhou menaiki perahu. Ini juga alasan Kim Jong-Il membawa Kim Jong-Un harus pergi ke Yangzhou dalam kunjungan mereka pada 2010.

Pasca Kongres Nasional ke-18 pada 2013, media massa RRT melihat satu hal, pejabat tinggi Korut yang datang ke Beijing hanya berdiam di Kedubes saja, tidak lagi menemui para pejabat terkait RRT seperti dulu. Ini menunjukkan adanya jarak antara pemerintahan Xi Jinping dengan rezim Kim Jong-Un. Negara Korut yang mengandalkan nuklir, telah berubah dari seorang saudara kecil menjadi seorang masalah besar bagi RRT.

Data perdagangan menunjukkan, setelah pendukung lama Hongxiang Industry di Korut yakni Jang Sung-taek lengser, Ma Xiaohong masih bisa merapat pada rezim Kim Jong-Un, bahkan bisnisnya kian hari kian besar.

Pada 2013 Jang Sung-taek dibunuh oleh Kim Jong-Un. Setahun kemudian, di antara para petinggi PKT yang mampu memberikan dukungan pada Ma Xiaohong, yang paling patut dicurigai adalah tiga anggota Tetap Komite Politbiro dari kubu Jiang yakni Zhang Gaoli, Zhang Dejiang, dan Liu Yunshan. Jika hal ini terbukti, maka ketiga oknum ini, tidak hanya akan dicap sebagai pengkhianat bangsa Tiongkok, juga bersama Korut akan dianggap sebagai musuh bersama seluruh dunia. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular