Oleh: DR. Frank Tian, Xie

VoA (Voice of America) baru-baru ini mewartakan, produk bikinan RRT membanjiri seluruh dunia, tapi kesenjangan merek RRT sendiri masih terlalu jauh. Beberapa hari lalu juga ada reporter media massa menanyakan, RRT adalah negara pengekspor terbesar dunia, tapi mengapa tidak ada satu pun perusahaan RRT yang masuk dalam kategori 100 besar merek Asia, juga tidak memiliki suatu merek internasional yang terkenal?

Sebenarnya pertanyaan ini bisa dilontarkan begini, mengapa negara pengekspor terbesar dunia, harus memiliki sejumlah merek bertaraf internasional?

Pertanyaan ini memang patut direnungkan, tapi di balik pertanyaan tersebut sebenarnya ada suatu asumsi, yakni sebuah negara pengekspor besar sepertinya ditakdirkan memiliki beberapa merek internasional yang terkenal.

Faktanya, kondisinya tidak seperti itu. Nilai ekspor seluruh dunia adalah sekitar USD 18 trilyun (232.667 triliun rupiah) per tahun, atau setara dengan PNB Amerika Serikat dalam setahun. Jika kita melihat 10 besar atau 20 besar negara pengekspor dunia, tentunya banyak negara yang memiliki banyak merek bertaraf internasional, seperti AS, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Inggris, Italia, dan lain-lain.

Tetapi negara lainnya yang termasuk di dalam daftar tersebut, termasuk RRT, Belanda, Kanada, Brazil, Belgia, Meksiko, bahkan Singapura, Rusia, UAE dan lain-lain, nilai ekspor mereka tidak bisa dikatakan kecil, setiap negara tersebut mengekspor sekitar USD 300 milyar (3.877 triliun rupiah) lebih. Dalam hal rata-rata ekspor per kapita bahkan jauh melampaui RRT (nilai ekspor RRT memang yang terbesar di dunia, namun secara ekspor per kapita relatif sangat kecil), tapi negara-negara ini tidak memiliki banyak merek internasional.

Sebagai contoh, RRT sebagai negara pengekspor garmen terbesar di dunia, Hongkong di posisi kedua, Italia di posisi ketiga. Tapi ekspor busana Italia yang cukup mencengangkan dalam hal jumlah, namun jika dilihat dari harga per potong setiap busananya, akan lebih mengejutkan lagi. Tidak ada alasan lain, karena busana Italia adalah produk untuk merek dan segmen papan atas. Sedangkan RRT mengambil jalur produk murah dan pemrosesan. Coba tebak, siapa pengekspor busana urutan ke-4 dunia?

Bangladesh!

Adakah orang yang bisa menyebutkan merek busana dari Bangladesh? Mungkin sulit, karena Bangladesh serupa dengan RRT, hanya merupakan pabrik pemroses bagi merek-merek ternama di dunia. India, Turki, dan Vietnam juga masuk dalam daftar 10 besar negara pengekspor busana dunia, tapi mereka pun tidak memiliki merek internasional sendiri.

Orang yang membantu memproses atau OEM (Original Equipment Manufacturer) bagi merek orang lain, harus menjahitkan merek orang lain pada baju yang dibuatnya. Seorang pemroses yang ingin mendapatkan kehormatan dari merek tersebut ibarat orang yang bekerja di hotel bintang lima, seperti seorang pekerja di dapur atau pelayan kamar, yang menceritakan pada orang lain bahwa ia ingin membubuhkan namanya pada papan nama hotel, tentu akan menjadi cemoohan dan bahan tertawaan.

Tentu saja, bukankah semua orang tahu jika memiliki merek sendiri akan mendapatkan keuntungan terbesar?

Ya. Tapi di balik diterimanya suatu merek oleh toko retail, adalah keunggulan merek, nilai merek, kepercayaan terhadap merek, dan strategi suatu merek, yang sama dengan keunggulan jalur distribusi yang kuat, perolehan jalur pemasaran dan strategi pemasaran, serta akumulasi dari iklan dan propagasi selama bertahun-tahun.

Staf penghubung pengembangan dan kerjasama dari perusahaan konsultan bernama Web-Presence-In-China bernama Angela Berndt mengatakan, “kurangnya kepercayaan konsumen adalah faktor penyebab tertekannya perkembangan merek retail dan konsumen asal RRT.”

Pandangannya memang benar, tapi tidak secara mendalam menelaah lebih lanjut penyebab kurangnya kepercayaan konsumen. Tidak diragukan bahwa konsumen RRT lebih percaya pada produk asal AS, Jepang, dan Korea Selatan, mereka tidak percaya pada merek RRT, karena mereka telah merasakan keluarganya sendiri ditipu, dan dijerumuskan. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular