Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Surat kabar “Washington Post” baru-baru ini memuat sebuah berita yang mengatakan RRT akan kalah dalam persaingan industri manufaktur dunia, karena telah bermunculan banyak masalah dalam ketenagakerjaan RRT. Negeri tirai bambu itu sudah tidak lagi menarik bagi investor Barat, dan jalur produksi akan dipindahkan keluar.

Selain itu, setelah pertumbuhan drastis dan tidak lazim selama 30 tahun, tenaga pendorong industri manufaktur RRT pada dasarnya telah mandek. Hal yang lebih parah lagi, seiring dengan meningkatnya biaya tenaga kerja RRT, tenaga ahli yang dengan ketrampilan memadai justru sangat minim, kaum buruh kerap menimbulkan kekacauan, ditambah lagi dengan pengrusakan lingkungan dan pembajakan hak cipta, perusahaan internasional tengah memindahkan industri yang memiliki nilai plus tinggi kembali ke Amerika Serikat atau Eropa.

Di saat bersamaan, meskipun perekonomian RRT terjerumus macet dan bahaya inflasi kian menonjol, konflik kepentingan di tengah masyarakat kian meruncing, tapi di internet justru masih banyak warga RRT yang sesumbar dan  terus meluas hingga mencapai tingkat tak terkendali, membuat kalangan masyarakat normal khawatir dan takut.

Karena jika suatu bangsa telah kehilangan akal sehat dan kestabilan emosi serta kehilangan hati nurani, maka akan sangat berbahaya. Dalam sejarah manusia, bangsa, kerajaan, diktator, tiran yang sombong dan angkuh, pada saat keangkuhan mencapai ekstrim dan mengabaikan prinsip ilahi, maka akan mengalami realita dihabisi oleh lawannya, atau oleh alam, atau oleh takdir.

Berita di “Washingtong Post” ini adalah guyuran sebaskom air dingin ke tengah masyarakat Tiongkok yang sedang membara. Ini ada manfaatnya bagi pertumbuhan positif masyarakat Tiongkok. Di bawah kekuasaan PKT yang sangat marak akan kesombongan dan keangkuhan, berita bohong mengenai “satelit komunikasi kuantum” yang ‘digoreng’ oleh media massa yang tidak bertanggung jawab, adalah contoh baru yang terjadi belakangan ini.

Rakyat di daratan Tiongkok memerlukan renungan yang tenang dan lama akan hal ini, untuk membuat warga sadar dari kesombongan ini, dan mengenali secara jelas posisi RRT di dunia.

Saat ini RRT masih getol mengembangkan industri dirgantara dengan mengerahkan segenap kekuatan negara, juga merasa bangga dan puas diri atas prestasi saat ini. Banyak orang pun mempertanyakan, begitu canggihkah industri dirgantara RRT? Mengapa mesin dorong roket RRT bisa membuat roket mengangkasa, tapi mesin pancar jet pesawat tidak bisa dibuat?

Industri dirgantara AS telah mengalihkan bagian orbit rendah dan ruang bumi untuk dijalankan oleh perusahaan swasta. Badan antariksa Amerika NASA melakukan terobosan, eksplorasi ke planet Mars bahkan ke seluruh tata surya, mengembangkan sistem penggerak antariksa yang baru. Setelah teknologi baru mencapai terobosan, RRT baru akan menyadari, setelah sedemikian banyak tenaga dan materi telah dicurahkan, RRT mungkin telah tertinggal lagi. Lalu bagaimana? Organisir lagi kekuatan negara, lakukan “program humas” besar-besaran?

Jadi, menyelesaikan masalah industri terutama industri manufaktur sementara yang fundamental dan krusial, adalah jalan keluar yang sebenarnya.

Partai Komunis Tiongkok/PKT masih percaya secara irasional pada kekuatan negara, negara sebagai penggerak, “menghimpun kekuatan melakukan hal besar”, melakukan “humas teknologi”, dianggap dengan melakukan itu semua akan mencapai hasil yang paling besar.

Ketika puluhan tahun silam di provinsi Jilin jatuh sebuah meteor, waktu itu pemerintah RRT menghimpun kekuatan menerjunkan sekelompok ilmuwan, untuk menulis setumpuk tesis. Tapi penelitian yang didorong oleh negara seperti itu tidak cukup mendalam dan tidak mampu bertahan lama. Setelah demam meteor jatuh itu berlalu, ketertarikan melakukan riset pun melemah, bahhkan menghilang perlahan.

Sebenarnya, hasil riset yang berhasil mungkin sama sekali tidak membutuhkan skala yang sedemikian besar, apalagi begitu boros dan mengerahkan kekuatan negara secara membabi buta. Dari pengalaman Jerman berikut ini dapat diketahui bahwa berkembang pesatnya perusahaan swasta dan instansi riset swasta, dan dukungan pemerintah terhadap institusi swasta, adalah jaminan keberhasilan industri manufaktur.

Di dunia saat ini, siapakah penguasa industri manufaktur?

Mungkin tak lain tak bukan adalah Jerman. Jadi, jika RRT berharap meraih kemajuan pada industri manufaktur, bahkan tidak sampai ketinggalan, maka harus belajar dari pengalaman Jerman. Namun apakah industri manufaktur RRT mampu belajar intisari dari industri manufaktur Jerman, mampukah meniru keberhasilan industri manufaktur Jerman, masih merupakan sebuah tanda tanya besar.

Industri manufaktur Jerman, produk buatan Jerman, bukan selalu yang terdepan di dunia. Tak lama setelah dua kali perang dunia, produk buatan Inggris adalah produk paling unggul dan bermutu terbaik di seluruh dunia. Waktu itu orang Inggris dengan angkuh berkata pada orang Jerman, produk buatan Jerman harus ditempel label “Made in Germany”, karena kualitasnya terlalu buruk, maka harus dibedakan dengan produk unggulan Inggris.

Setengah abad kemudian, tidak ada lagi orang yang beranggapan bahwa produk Inggris lebih unggul daripada produk buatan Jerman. Lalu, bagaimana Jerman mengejar ketinggalannya, apa saja pengalaman keberhasilan mereka yang bisa ditiru oleh Tiongkok bahkan AS?

Baru-baru ini, Deke Ermahao Jitemai (Shanghai) Jiqing Limited Company yang berada di bawah panji grup DMG (Daimler-Motoren-Gesellschaft) dari Jerman akan resmi menutup perusahaan tersebut di akhir September. Pihak perusahaan menyatakan, karena pertumbuhan ekonomi di Tiongkok telah mengalami penurunan, kondisi pasar terus anjlok, perusahaan terus mengalami rendahnya produktivitas, tingginya inflasi, dan biaya produksi yang terus meningkat, serta permintaan pasar yang terus menurun dan berbagai masalah lainnya, menyebabkan perusahaan telah merugi cukup lama. Pada akhir Agustus 2016, pabrik Deke Ermahao Jitemai (DEJ) di Shanghai telah ditutup.

DEJ adalah produsen mesin CNC paling canggih di dunia, berbagai peralatan pembubutan pada industri peralatan presisi RRT hampir semua dipasok oleh perusahaan ini. Otomotif, ponsel, elektronika dan berbagai industri lainnya di Tiongkok, diproduksi dengan mengandalkan mesin DEJ ini. Bisa dikatakan, DEJ adalah pondasi bagi pondasi industri manufaktur Tiongkok.

Hengkangnya DEJ dari Tiongkok, bagi industri manufaktur Tiongkok adalah sebuah pukulan telak, posisi Tiongkok sebagai produsen nomor satu dunia pun tidak akan bertahan lagi. PKT berharap dapat memperoleh prestasi teknologi Tiongkok pada industri manufaktur untuk memenuhi tujuan strategi barunya di masa mendatang, serta mengembangkan robot “Buatan RRT 2025”, teknologi cetak 3D, serta rencana 10 tahun jaringan inudstri, mungkin hanya akan tinggal angan-angan. (epochtimes/widy/rmat)

Share

Video Popular