Refluks gastroesofagus adalah suatu kondisi yang mempengaruhi hingga setengah dari semua bayi di bawah usia tiga bulan. Hal ini dapat terjadi beberapa kali sehari, terutama setelah makan. Hal ini terjadi ketika makanan yang ditelan masuk ke dalam lambung, tetapi kemudian dimuntahkan kembali ke dalam esofagus (kerongkongan/pipa makanan). Kadang makanan masuk kembali ke dalam lambung (dan masuk ke dalam saluran pencernaan) atau kadang dimuntahkan kembali ke dalam rongga mulut atau lebih lanjut, menyebabkan muntah.

Mengapa begitu banyak bayi mengalami refluks?

Ketika kita menelan makanan, beberapa faktor biasanya bergabung supaya makanan berada di dalam lambung.

Pertama, orang dewasa umumnya dalam posisi duduk pada waktu makan, sehingga gravitasi membantu makanan turun dan masuk ke dalam lambung.

Kedua, orang dewasa biasanya makan makanan dengan berat dan kepadatan yang cukup supaya makanan berada di dalam lambung.

Ketiga, orang dewasa memiliki sfingter esofagus, yang merupakan otot yang mengitari sekitar ujung bawah esofagus, yang berfungsi mencegah makanan balik kembali ke dalam rongga mulut.

Keempat, esofagus orang dewasa cukup panjang, supaya ada jarak yang panjang yang harus ditempuh makanan untuk balik kembali ke dalam rongga mulut.

Pada bayi, tidak ada faktor tersebut di atas. Sebagian besar waktu bayi dihabiskan dalam posisi berbaring, hanya mengonsumsi cairan, otot-otot bayi belum berkembang secara sempurna, dan esofagus bayi masih relatif pendek. Akibatnya, bayi jauh lebih sering memuntahkan susunya.

Refluks tidak selalu merupakan hal yang buruk untuk bayi. Jika bayi telah menelan sejumlah besar susu (dan udara) selama makan, muntah adalah cara tubuh untuk mengurangi tekanan pada lambung dan meringankan ketidaknyamanan akibat lambung yang terlalu penuh.

Apa saja gejalanya?

Refluks sering terjadi pada bayi, dan banyak bayi yang tidak menunjukkan gejala apa pun.

Gejala yang paling umum dari refluks adalah memuntahkan sedikit susu setelah makan. Kadang ketika susu bercampur dengan asam lambung lalu kemudian balik kembali ke esofagus, maka menyebabkan nyeri.

Gejala lain meliputi tekanan atau ketidaknyamanan pada saat makan, menangis selama atau setelah makan atau memuntahkan makanan. Beberapa bayi akan menolak atau muntah begitu banyak makan sehingga berat badannya tidak bertambah, malahan pada beberapa bayi mengalami penurunan berat badan.

Sangat penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini juga dapat disebabkan oleh masalah lain selain refluks, seperti kembung, alergi terhadap protein susu sapi, infeksi dan gangguan pencernaan yang mendasari. Tinjauan medis berguna untuk mencari penyebab lain sebelum memberikan diagnosis refluks.

Refluks diam dipakai untuk menggambarkan bayi yang memuntahkan susu ke dalam esofagus tetapi tidak sampai masuk ke dalam rongga mulut.

Refluks diam ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan tekanan pada bayi, tetapi tidak menyebabkan muntah atau mengeluarkan susu dari mulutnya. Hal ini menyulitkan orangtua untuk mengidentifikasi penyebab mengapa bayinya tertekan.

Pengobatan

Biasanya refluks pada bayi bukanlah sesuatu yang memerlukan uji tambahan atau pengobatan, karena biasanya tidak menyebabkan masalah yang serius, dan gejala akan hilang dengan sendirinya.

Hal ini karena penyebab refluks pada bayi (berbaring, hanya minum cairan susu, otot yang belum berkembang secara sempurna dan esofagus lebih pendek) akan berkurang seiringan dengan waktu.

Banyak obat yang berbeda telah diuji coba untuk meredakan refluks. Umumnya, obat tersebut hanya dianjurkan untuk bayi dengan berat badan rendah atau bayi yang mengalami tekanan yang signifikan , serta regurgitasi. Obat tersebut umumnya tidak dianjurkan karena sangat sedikit manfaatnya untuk bayi yang regurgitasi biasa. Obat tersebut cenderung mengakibatkan beberapa efek samping seperti infeksi dada, nyeri perut dan muntah — gejala yang seharusnya diobati dengan obat tersebut.

Zat alginat dibuat untuk bayi (seperti gaviscon) bekerja dengan cara memekatkan susu serta melapisi bagian bawah esofagus dan lambung. Hal ini membantu meredakan beberapa gejala. Zat alginat mengandung jumlah garam yang relatif tinggi, sehingga harus digunakan setelah berkonsultasi dengan dokter. Zat alginat seharusnya tidak digunakan bersamaan dengan pengental susu formula.

Beberapa pengental susu formula dapat membantu bayi yang minum dengan botol susu. Susu yang kental membuat susu menetap di dalam lambung sehingga sulit untuk dimuntahkan kembali ke dalam esofagus. Tetapi, susu yang kental sulit untuk diisap dan ditelan oleh bayi, dan dapat memengaruhi kandungan zat gizi di dalam susu formula. Demikian pula, mengurangi volume susu akan mengurangi kejadian refluks, tetapi juga dapat berdampak pada gizi dan pertumbuhan bayi. Jumlah susu yang diberikan dalam sehari perlu ditingkatkan jika volume susu berkurang karena selalu dimuntahkan setiap kali diberikan.

Beberapa pilihan operasi bedah biasanya disediakan untuk anak yang lebih besar yang mengalami refluks yang parah atau mengalami komplikasi.

Terapi tanpa menggunakan obat dapat efektif, yaitu meliputi membiarkan bayi tengkurap (perut menghadap ke bawah) atau baring di sisi kiri tubuhnya pada saat tidak tidur setelah makan, dan dalam pengawasan orangtua/pengasuh. Jangan membiarkan bayi tidur dalam posisi tengkurap, karena akan meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak.

Komplikasi refluks pada bayi jarang terjadi. Komplikasi refluks lebih cenderung terjadi pada bayi prematur (yang memiliki tubuh yang sangat belum sempurna), dan pada bayi dengan masalah kesehatan yang bermakna lainnya.

Bayi yang mengalami muntah berlebihan akan mengalami kesulitan menaikkan berat badannya. Sering memuntahkan kembali asam lambung dapat menyebabkan trauma pada esofagus. Beberapa susu dapat dimuntahkan ke dalam trakea (tenggorokan), sehingga menyebabkan kesulitan bernapas atau infeksi.

Sangat sedikit bayi (kurang dari 5%) yang mengalami refluks memiliki gejala yang sedang berlangsung pada saat ia berusia sekitar satu tahun.

Pastikan berat badan bayi selalu dalam pantauan dan tenaga kesehatan yang profesional memeriksa bayi Anda untuk memastikan diagnosis yang paling mungkin adalah refluks. Sadarilah bahwa refluks sangat sering terjadi, refluks akan hilang seiringan dengan waktu, dan menjadi kurang sering terjadi seiringan dengan waktu. Terapi dan uji yang lebih lanjut biasanya tidak membantu.

Sebuah percobaan selama satu minggu sampai dua minggu terhadap pengental susu untuk bayi yang minum dengan botol atau memberikan alginat bayi untuk bayi yang diberi ASI memiliki beberapa efek, tetapi hanya dilakukan jika disarankan oleh dokter. Jangan bertahan dengan cara ini jika bayi Anda tidak membaik.

Obat lain hanya dianjurkan jika bayi memiliki tanda khusus lainnya dan harus diresepkan oleh seorang profesional medis. Langkah praktis seperti membiarkan bayi tengkurap pada saat tidak tidur setelah makan dan dalam pengawasan orangtua/pengasuh akan memberi perbaikan, asalkan bayi tidak boleh tidur dalam posisi tengkurap.(Epochtimes/Kirsten Thompson/Vivi)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular