Oleh Qin Yufei

Cadangan devisa Tiongkok menurun sebanyak USD 19 miliar pada September lalu karena tidak mampu menghentikan arus keluarnya modal.

Media ‘Fortune’ melaporkan, cadangan devisa Tiongkok pada September turun sebesar USD 19 miliar sehingga sisanya tinggal USD 3.2 triliun. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar sejak bulan Mei tahun ini dan membuktikan bahwa Bank Sentral Tiongkok sedang berupaya untuk mendukung nilai mata uang mereka dalam situasi modal yang terus mengalir keluar.

Sejak Inggris keluar dari Uni Eropa, dunia luar secara luas meyakini bahwa Bank Sentral Tiongkok terus melakukan intervensi terhadap mata uang Renminbi agar tidak anjlok untuk mengimbangan nilai kerugian yang diakibatkan oleh keluarnya arus modal.

Pejabat otoritas keuangan Tiongkok menganggap situasi yang terjadi saat ini masih tergolong sebagai terkendali jika dibandingkan dengan arus modal keluar Tiongkok yang terjadi pada tahun lalu di mana cadangan devisi menurun sebanyak USD 500 miliar. Tetapi, masalah yang lebih besar dan sedang menghadang di depan adalah, bagaimana otoritas keuangan menghadapi tekanan dari  penurunan nilai Renminbi dari pedagang di pasar bursa dunia yang mungkin bisa terjadi kembali, apakah Bank Sentral Tiongkok masih mampu mengendalikan arus larinya modal ?

Ekonom dari Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan,memang harus diakui bahwa jumlah arus modal keluar yang terjadi pada September itu masih relatif kecil bila dibandingkan dengan tahun lalu. “Tetapi tekanan dari arus modal keluar itu ternyata masih belum lenyap”.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular