Seiring dengan bertambahnya usia, kesadaran mandiri anak juga semakin kuat, dan punya pandangan sendiri terhadap segala sesuatunya. Sebagai orang tua tidak perlu sabar dan mengalah ketika anak mulai melawan, namun, perlu penangangan yang tepat.

Anak-anak yang keras kepala akan mengabaikan teguran atau nasihat ketika Anda terlalu lunak terhadapnya, mungkin untuk selanjutnya ia akan melakukan hal-hal yang lebih membuat Anda khawatir. Namun, jika terlalu keras, anak itu akan merasa tidak bisa menyampaikan perasaannya, lalu secara lambat laun akan menjauh dari Anda, tidak mau berkomunikasi dengan Anda.

Apabila di lain kesempatan anak mulai melawan, Anda bisa coba terapkan cara-cara berikut ini :

1. Tetap tenang

Baik orang tua dan anak sama-sama harus bersikap tenang, dengan begitu baru bisa membicarakan secara baik-baik tentang sesuatunya. Sebenarnya, sebelum orang tua siap “memberikan kuliah”, umumnya anak-anak sudah merasakan suasana yang tegang. Saat seperti ini, orang tua harus berusaha memperlihatkan suasana yang hangat. Jika Anda kembali membentaknya disertai dengan ancaman, atau dengan nada geram mengatakan “berani sekali kamu melawan, aku ini ibumu,” hal ini hanya akan membuat masalah menjadi semakin pelik dan runyam.

Cara yang terbaik adalah bersabar dulu, ambil napas dalam-dalam, sambil hitung puluhan kali dalam hati, setelah itu, coba tanyakan pada diri sendiri kata-kata yang ingin diucapkan, apakah dapat mencairkan suasana yang kaku pada saat itu. Jika si anak melawan (membantah atau membalas dengan sikap menantang), dihimbau jangan pernah memarahi apalagi membentaknya di depan umum, sebisa mungkin sebagai orang tua bisa menahan diri, nanti dibicarakan di rumah.

2. Pastikan akar masalahnya

Pahami dulu mengapa anak-anak melampiaskan emosinya pada Anda. Sebenarnya, melawan atau membantahnya anak-anak itu seringkali bukan pernyataan yang paling ril dari lubuk hati mereka. Ada kalanya mungkin si anak mengalami sedikit perselisihan dengan teman-teman di sekolah, sehingga selalu tampak cemberut, kemudian dilampiaskan kepada orang tuanya di rumah. Karema dalam pikiran anak-anak, orang tua adalah target pelampiasan yang paling aman.

Atau barangkali si anak merasa tertekan dengan pelajarannya di sekolah, sehingga terkadang berteriak-teriak yang ditujukan kepada ayah ibunya, tidak mau mereka berada di kamarnya.

Ketika terjadi hal seperti ini, pertama-tama orang tua harus tenang, coba tanyakan akar masalah yang dialaminya, misalnya “Apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah hari ini ?”, atau kamu ingin sendirian sejenak ?” dan sebagainya.

Setelah mengetahui faktor dibalik sikap kasar dan melawannya anak-anak, maka masalah yang menyebabkan anak-anak bersikap kasar seperti itu akan mudah diselesaikan.

3. Jelaskan garis bawah Anda (batasan yang dibolehkan)

Kadang-kadang ketika Anda meminta anak harus begini atau begitu, si anak yang selalu patuh itu mungkin akan berkata kepada Anda, “tolong jangan diulang lagi, ok?” Padahal yang ingin ia sampaikan adalah : “hal ini sudah Anda katakan berulang kali pada saya!

Saat demikian, Anda bisa memberitahu anak-anak : “Kamu boleh saja tidak senang, boleh tidak peduli dengan permintaan ayah atau ibu, tapi kamu tidak boleh berteriak-teriak memanggil ayah atau ibu!”.

4. Langkah-langkah hukuman yang cerdas

Terapkan hukuman yang sebenarnya, biarkan anak-anak tahu bahwa Anda sebagai orang tua itu serius! Dalam rutinitas sehari-hari, sebagai orang tua perlu membiarkan anak-anak tahu tentang berperilaku. Jika telah melakukan sesuatu yang buruk, mengucapkan kata-kata yang buruk, itu akan dihukum.

Tetapkan langkah-langkah hukuman yang sesuai, misalnya tidak boleh bermain game, tidak boleh menonton TV, mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, atau harus tidur lebih awal.

Sebelum diterapkan, langkah-langkah hukuman ini harus dikonfirmasikan dulu kepada anak-anak, jangan sampai anak-anak tidak mematuhinya setelah berbuat salah dan menerima hukuman.

Tentu saja, hal yang paling penting adalah harus mempertahankan langkah-langkah hukuman itu, karena hanya dengan demikian, anak-anak baru bisa memahami kalau Anda itu serius dan tidak main-main, sehingga ia akan lebih memperhatikan sikap dan tutur katanya sendiri.

5. Segera berikan dorongan semangat (pujian)

Berikan pujian padanya, biarkan ia tahu bahwa Anda memang merasakan perubahannya, dan jangan lupa harus memberikan pujian kepadanya ketika ia bisa bersikap menghormati orang lain dan mengungkapkan perasaannya.

Anda bisa katakan kepadanya “Mamah sangat menghargai dengan caramu merespon”, atau “Mamah sangat senang kamu tidak berteriak-teriak tadi ketika menanggapi mamah, bagus sekali nak, mamah sangat senang dengan sikapmu ini.”

Pujian-pujian ini bisa membuat anak-anak merasa nyaman, sekaligus juga bisa membuatnya menyadari, bahwa Anda bukan hanya memilih penyakit (kebiasaan jelek)-nya, tapi perubahannya yang sedikit demi sedikit itu juga bisa dirasakan oleh ayah/ibu.

Tentu saja, hal yang paling penting adalah anak itu sendiri, karena semakin tidak keras kepala lagi (melawan atau membantah dengan sikap kasar). Sebenarnya anak-anak akan ingat dengan sikap atau perilaku yang dilakukan orang tua terhadap mereka, dan akan mempelajarinya! (Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular