Telur pindang ( telur teh ) adalah sejenis masakan Tionghoa, yaitu olahan dari telur yang direbus menggunakan herba-herba tertentu sehingga memiliki rasa, aroma, dan tampilan yang khas. Di daerah asalnya, telur pindang dijual sebagai makanan ringan, telur yang masih setengah matang diretakkan kemudian direbus kembali dalam teh dan dicampuran bumbu-bumbu.

Telur pindang dikenal dengan nama telur teh di Tiongkok atau telur marmer. Penamaan tersebut disebabkan telur pindang memiliki pola kecoklatan mirip marmer. Jenis telur yang digunakan biasanya adalah telur ayam.

Telur teh yang harum dan kaya rasa merupakan masakan tradisional Tionghoa. Resep yang asli menggunakan berbagai bumbu, kecap, dan daun teh hitam. Bumbu yang biasa digunakan untuk memberi aroma pada telur teh adalah ngohiong yang terdiri dari kulit kayu manis, bunga lawang, adas, cengkih, dan bubuk andaliman.

Telur teh atau telur pindang yang direbus menggunakan herba-herba tertentu ini adalah makanan yang bergizi. Namun, para ahli mengatakan, nilai gizi dari telur teh tidaklah tinggi, dan justru dapat menyebabkan konstipasi (kondisi sulit buang air besar secara teratur, tidak bisa benar-benar tuntas, atau tidak bisa sama sekali) apabila makan berlebihan, dan tentu saja memengaruhi kesehatan kita!

Telur yang tampak imut ini kaya akan protein, mineral, vitamin, serta lesitin, asam lemak tak jenuh tunggal, DHA, EPA dan sebagainya, hampir semua nutrisinya lengkap, adalah makanan bergizi alami yang mutlak diperlukan oleh setiap rumah tangga.

Mungkin karena berwarna emas kehijauan, sehingga daun teh yang dijuluki sebagai “emas hijau”, dan khasiatnya dalam merawat kesehatan itu dianggap jauh lebih berharga daripada emas. Nutrisi yang dikandungnya meliputi kafein, teofilin, katekin, vitamin P, polifenol dan lebih dari dua puluh asam amino alami dan sebagainya itu adalah minuman kesehatan terbaik.

Mengapa telur teh tidak baik bagi kesehatan?

Berikut empat alasannya dari ahli :

1. Telur teh umumnya dikonsumsi selagi panas, telur teh yang sudah matang akan terus direbus dalam wadah untuk mempertahankan suhu. Akibatnya, ion fero dalam kuning telur akan membentuk besi sulfida bersama dengan sulfida dalam putih telur, membuat kuning telur berubah menjadi hijau keabuan, sementara besi sulfida tidak diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh, sehingga dapat memengaruhi penyerapan zat besi jika terlalu sering mengonsumsi telur teh.

2. Telur teh yang terus direbus atau dikukus dalam wadah panas, dapat menghasilkan nitrit penyebab kanker.

3. Asam tanat dalam teh, dapat merembes ke dalam telur ketika dimasak, kemudian menyatu dengan unsur besi dalam telur dan membentuk endapan, yang dapat merangsang saluran pencernaan, dan menghambat pencernaan serta penyerapan nutrisi di dalamnya jika terlalu sering mengonsumsinya, sehingga berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.

4. Alkaloid dalam teh dapat menyatu dengan kalsium dalam telur, yang memengaruhi pencernaan dan penyerapannya, yang berkemungkinan menyebabkan kekurangan kalsium dan osteoporosis jika terlalu sering mengonsumsinya.

Menurut ahli terkait, teh dan telur sebaiknya dikonsumsi secara terpisah. Dan untuk menghindari dampaknya terhadap pencernaan, dihimbau teh sebaiknya diminum satu jam setelah makan. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular