Oleh Liu Xiaozhen

Mantan Sekretaris Komite Provinsi Yunnan, Tiongkok, Bai Enpei divonis hukuman mati oleh pengadilan kota Anyang, Henan pada Minggu (9/10/2016). Ia terbukti menerima suap melebihi RMB 240 juta.

Selain itu juga ditemukan sejumlah besar kekayaan lain yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya. Bai memiliki hubungan erat dengan Zhou Yongkang dan Lin Jihua, terkait langsung dengan kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang itu.

Pelaksanaan hukuman mati dapat diundur sampai 2 tahun dan selewatnya masa itu, hukuman bisa diperingan menjadi penjara seumur hidup dengan tanpa pembebasan bersyarat.  Pengadilan juga memutuskan untuk menyita seluruh kekayaan yang ia peroleh secara tidak halal.

Dalam surat penuntutan jaksa disebutkan bahwa Bai Enpei terbukti telah memanfaatkan kedudukannya selama tahun 2000 hingga 2013 sebagai Sekretaris Komite Provinsi Qinghai, Sekretaris Komite Provinsi Yunnan, Anggota dari Wakil Ketua Bagian Perlindungan terhadap Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Kongres Nasional Rakyat RRT untuk menggaet keuntungan pribadi.

Bai Enpei melakukan dengan cara memberikan  bantuan kepada pengembang real estate untuk memperoleh lahan, memperlancar perolehan konsesi tambang, jual-beli jabatan di institusi pemerintah dan lainnya, menerima suap secara langsung atau melalui istrinya  hingga total sebesar RMB 246.764.511,- selain itu, Bai masih memiliki sejumlah kekayaan lainnya yang tidak dapat dibuktikan asal-usulnya.

Setelah putusan hukum dibacakan hakim, Bai Enpei mengaku bersalah dan menyatakan bertobat.

Bai yang kini berusia 69 tahun adalah antek Zhou Yongkang, termasuk sering membantu kelancaran kegiatan sewenang-wenang kelompok preman Sichuan yang dikepalai Liu Han (alm), sedangkan Liu Han adalah mitra bisnis Zhou Yongkang yaitu Zhou Bin.

Bai selain membantu dalam melancarkan jalan keluarga Zhou Yongkang mengantongi kekayaan haram, ia juga terbukti menyuap Lin Jihua dengan dana sebanyak RMB 600.000.

Dalam artikel yang dimuat Epoch Times pada Juni tahun ini pernah disebutkan bahwa selama Bai menjabat Sekretaris Komite Provinsi Qinghai maupun Yunnan, ia secara aktif terlibat penganiayaan terhadap Falun Gong. Bahkan Pusat Transformasi untuk Pengikut Falun Gong di provinsi Yunnan didirikan pada masa jabatannya.

Menurut statistik tidak resmi bahwa, ribuan praktisi Falun Gong di provinsi Yunnan pernah diculik, digeledah rumah, ditahan tanpa bersalah, dipaksa mengikuti ‘transformasi keyakinan’ di dalam tahanan. Hampir 500 orang praktisi dipaksa menerima hukuman ilegal berupa kerja paksa, lebih 300 orang menjalani siksaan fisik yang menyebabkan 44 orang meninggal dalam penganiayaan dan lainnya menderita cacat seumur hidup karena penganiayaan.

Selain itu, Yunnan juga menjadi provinsi yang paling menjamurnya rumah sakit atau klinik (lebih dari 40 unit) yang melakukan transplantasi organ tubuh. Salah satunya yaitu Rumah Sakit Kunming pernah berbangga karena berhasil menyelesaikan 164 kasus transplantasi organ dalam 12 tahun.

Orang luar menduga bahwa besar kemungkinan di Yunnan ada ‘gudang persedianan organ’ yang   menampung para praktisi Falun Gong tertangkap, mereka bisa dijadikan penyedia organ segar saat ada permintaan transplantasi.

Pengguna microblog Tiongkok dengan nama samaran ‘Zheng Zhi Quan’ mengungkapkan bahwa Wang Tianchao mantan Kepala Rumah Sakit Yunan yang sudah dipecat, memiliki hubungan yang akrab dengan Bai Enpei karena jabatannya itu ia peroleh lewat bantuan Bai. Sedangkan Wang Tianchao terlibat dalam kejahatan pengambilan paksa organ hidup.

Rumah Sakit Yunnan yang memiliki spesialisasi dalam transplantasi hati dan paru-paru berada di urutan 143 dari daftar resmi 165 rumah sakit Tiongkok yang melakukan transplantasi organ,  Termasuk 26 rumah sakit yang mengambilan paksa organ tubuh para Praktisi Falun Gong. Rumah Sakit Yunnan  pada 23 Desember 2014 sudah dimasukkan ke dalam daftar rumah sakit yang dituntut oleh Organisasi Internasional untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong (WOIPFG).

Rupanya saat Bai Enpei menerima ganjaran karma akibat aktif dalam menganiaya Falun Gong sudah tiba. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular