Oleh: Cai Shenkun

Sang itik mengetahui terlebih dahulu ketika air sungai mulai menghangat pada musim semi! Lapisan elit PKT (Partai Komunis Tiongkok) adalah kelompok yang paling banyak menerima manfaat setelah “reformasi membuka diri.”

Mereka seharusnya adalah pihak yang paling mendukung sistem tersebut dan paling mencintai negara itu, namun di luar dugaan, mereka justru sama sekali tidak ragu untuk memilih meninggalkan tanah air. Sedangkan tempat tujuan mereka sebagai kampung halaman yang lebih indah, justru adalah Amerika Serikat yang pernah (dan masih saja) mereka kutuk dan benci.

Salah satu hal yang paling menyedihkan di Tiongkok dewasa ini adalah selama beberapa dekade mereka telah menjalankan aksi anti-Amerika dan anti-Barat, kesudahannya adalah para pemimpin mereka yang menggerakkan aksi tersebut telah berbondong-bondong meminta keturunan mereka beremigrasi ke AS dan Barat.

Sekarang ini kota-kota di AS, terutama New York dan Los Angeles, sudah lama menjadi pusat yang paling dipadati oleh keturunan lapisan elit PKT. Mengapa mereka memilih bermigrasi? Mengapa mereka tidak memiliki keyakinan terhadap masa depan negerinya sendiri?

Ekonomi Tiongkok berkembang dengan sangat pesat, tidak terdapat satu negarapun yang lebih mudah menghasilkan uang daripada di Tiongkok dan yang lebih mudah menjadi pejabat daripada di Tiongkok. Namun hal yang sangat membingungkan adalah, mengapa orang-orang ini tanpa menghiraukan segala biaya telah secara gila-gilaan lari beremigrasi dan mentransfer kekayaan mereka ke LN?

Beberapa media melaporkan bahwa antara 1994 – 2003, terdapat 3,147,820 orang WN RRT yang beremigrasi ke luar negeri, termasuk di antaranya 72,650 milyarder. Antara 2004 – 2013, terdapat 3,391,370 orang yang beremigrasi ke luar negeri. Di antaranya termasuk 143,700 orang milyarder.

Membawa serta kekayaan ilegal bernilai mencapai diatas 15,11 triliun Yuan. Meskipun masih merupakan angka konservatif, namun sudah setara dengan 23% dari gross domestic product RRT pada 2014.

Kementerian Perdagangan pernah secara terbuka membantah bahwa belum pernah menyingkap berita “puluhan ribu pejabat korup telah membawa lari ratusan miliar dollar AS.” Namun, sebenarnya terdapat berapa orang pejabat korup yang telah melarikan dengan berapa ratus juta dollar Amerika sampai sekarang masih merupakan teka teki, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa para penguasa dan orang kaya telah membawa pergi dan mentransfer jauh di atas miliar dollar AS.

Banyak pejabat telah mengirim dulu pasangan atau anak-anak mereka ke luar negeri dengan alasan niaga, kuliah dan lain sebagainya, setelah memperoleh kewarganegaraan atau green card, kemudian mentransfer dana besar ke luar negeri.

Yuan Mu, komentator kondang dari media TV yang dulu terkenal anti Amerika telah mengirimkan putrinya ke AS, pada usia tua dia sendiri juga telah pindah ke sana. Ruan Cishan pejuang anti Amerika yang terkenal itu ternyata adalah WN Amerika tulen, bahkan Sima Nan “ekstremis muda partai” yang merasa dendam terhadap AS sekarang ini tinggal di Amerika.

Pada 1998, Ma Nan seorang mahasiswi jurusan Bahasa Tionghoa di Universitas Bejing dalam kunjungan Clinton di Universitas Beijing pernah secara langsung mengecam kondisi “hak asasi manusia” AS yang buruk. Justru ironisnya adalah, begitu lulus dari Universitas Beijing, Ma Nan ini memilih untuk berangkat ke AS yang kondisi “HAM”-nya “buruk”, bahkan telah menikah dengan seorang WN Amerika.

Jiang Jie martir revolusioner yang sangat terkenal, konon surat wasiatnya adalah untuk meneruskan keinginan yang belum terwujud dari martir sebelumnya yakni, mengganyang imperialisme AS! Tak dinyana bahwa keturunan martir revolusioner tersebut sekarang ini justru tinggal di AS yang dikatakan merupakan “jurang penderitaan”.

Song Yaowu yang ketika itu memasangkan ban lengan “Pengawal Merah” pada “Pemimpin Besar yang mulia Mao Zedong” di Lapangan Tiananmen telah lama sadar dan beremigrasi ke AS. Sekelompok lelaki berangasan yang waktu itu merancang “Unhappy China”, setelah mendapatkan sejumlah besar uang dari para pemuda ekstremis, juga berbondong-bondong melarikan diri dari Tanah air mereka.

Dalam artikelnya “Mengapa masyarakat pada akhir dinasti Qing kurang patriotis?” Liang Fafei menuliskan, ”Berbicara mengenai Perang Candu, dalam pelajaran sekolah selalu dikatakan bahwa rakyat Tiongkok bangkit dengan bersemangat mengadakan perlawanan, masyarakat San Yuan Li telah terjun dalam perang melawan agresi. Sesungguhnya masyarakat Tiongkok tidak mengorganir perlawanan.”

Setelah pendaratan tentara Inggris, dalam kebanyakan waktu masyarakat Tiongkok berinisiatif berjualan sayur mayur, ternak dan bahan makan kepada mereka, ketika armada Inggris berperang dengan tentara dinasti Qing di sungai Zhu Jiang, masyarakat setempat melihat dari jarak jauh dengan gembira bagaikan menonton perlombaan perahu naga (Dragon Boat).

Hanya saja di San Yuan Li ketika masyarakat mendengar bahwa tentara Inggris telah memperkosa wanita setempat, barulah masyarakat San Yuan Li terjun ikut berperang, namun ini tidak ada hubungannya dengan membela negara dinasti Qing.

Dalam Perang Candu kedua, ketika armada Inggris menerobos banteng Humen dan menuju ke utara sungai Zhu Jiang, di kedua sisi sungai telah berkumpul puluhan ribu penduduk setempat. Mereka menonton peperangan antara tentara kerajaan mereka sendiri dengan bangsa asing dengan sikap dingin dan sangat tenang, seolah sedang menonton suatu pertunjukan. Ketika bendera kuning bergambar naga hijau bersama perahu tentara kerajaan ditenggelamkan dan tentara dinasti Qing berloncatan terjun ke dalam air, penduduk justru bersorak-sorai laiknya sedang menonton sirkus dengan atraksi yang luar biasa.

Liang pada bagian akhir artikel menuliskan “Ketika penguasa menganggap negara sebagai hak milik pribadi, ketika penguasa memaksakan sebagai penakluk dan penindas di atas kepala rakyat, maka rakyat sebagai objek yang diperbudak sudah pasti tidak akan antusias untuk bekerja mati-matian bagi negara atau pemerintahan seperti ini.”

Sesampainya hari ini, Tiongkok masih tetap belum keluar dari lingkaran setan ini, dahulu negara adalah milik kaisar, lalu sekarang menjadi milik siapakah?

Yang disebut rakyat masih tetap adalah kawula dari penguasa feodal dan bukanlah warga negara normal, warga negara mewakili massa rakyat suatu negara berkesadaran dan mempunyai hak berpartisipasi terhadap pemerintahan masyarakat dan negara, namun keadaan sekarang pada hakikatnya adalah menuntut rakyat untuk taat secara mutlak, tanpa ada martabat individu, apa lagi hak untuk mengatur negara, jadi masyarakat masih tetap merupakan kelompok yang diperbudak.

Teringat yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “Yang paling jahat dari suatu rezim otokratis, bukanlah merampas kebebasan Anda, melainkan karena telah membebaskan Anda dari tanggung jawab dan kewajiban. Apa yang disebut tanggung jawab, dan apa yang disebut sebagai kewajiban?”

Sebagai contoh, ketika ketidakadilan menjadi undang-undang, perlawanan adalah tanggung jawab. Ketika kediktatoran telah menjadi kenyataan, revolusi adalah kewajiban. Ketika kehilangan kebebasan, Anda hanya menjadi budak, jika melupakan tanggung jawab dan kewajiban, Anda akan selamanya menjadi budak. Perampasan kebebasan tentu merupakan hal yang sangat mengerikan, yang lebih mengerikan lagi adalah, kita sudah melupakan apa itu kebebasan, telah lupa bahwa membela kebebasan itu merupakan tanggung jawab setiap insan! (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular