Kadang-kadang hanya mendengar cerita dari seseorang, belum tentu merupakan gambaran yang lengkap dari seluruh kejadian, karena setiap orang memiliki naluri melindungi diri, insting ini tanpa sadar dimulai dari masa kanak-kanak yang berasal dari insting perlindungan diri , juga bisa dikatakan takut disalahkan orang tua, berkembang karena ingin berbuat sesuai dengan harapan orang tua, tentu saja, yang paling penting adalah usia anak masih kecil, tidak tahu nilai-nilai yang benar, tidak dapat membedakan antara benar dan salah.

Ketika anak saya baru masuk sekolah dasar kelas satu, satu hari setelah pulang sekolah, dia mengadu kepada saya, teman-teman sekelas mengganggunya. Saya pikir, anak yang baru kelas satu sudah diganggu teman sekelas di sekolah, maka saya harus mengetahui kebenaran, sehingga ketika mengantar anak ke sekolah saya pergi menemui gurunya untuk bertanya. Setelah mendengarkan penjelasan gurunya, fakta sebenarnya tidak seperti yang dikatakan anak saya, sebenarnya karena anak saya mengolok-olok temannya maka mendapat perlawanan kembali temannya.

Itu adalah akibatnya dia di-bully, penyebabnya adalah dia yang terlebih dahulu mengolok-olok orang lain. Dan aduan yang disampaikan kepada saya, di permukaan tampaknya sederhana dan benar, tetapi sebenarnya dia tidak bisa dengan jelas membedakan antara yang benar dan yang salah. Pada saat ini sebagai orang tua saya meminta dia untuk berempati dan berbaik kepada temannya, membiarkan dia memahami sebab-akibat, supaya dia bisa membangun konsep tentang benar dan salah.

Bulan lalu saya mendengarkan sepupu saya yang bernama Andi mengatakan bagaimana dia dirugikan, dia telah mengadukan kasus ini ke pengadilan, berharap saya menemani dia ke pengadilan untuk mendengarkan vonis. Namun, di ruang sidang setelah mendengarkan sidang hakim secara rinci saya menemukan fakta sesungguhnya. Andi dan temannya telah gagal untuk mengkoordinasikan sesuatu pekerjaan, ketika temannya marah dan ingin beranjak pergi, Andi dia berdiri di depan mobilnya tidak membiarkan dia pergi, sambil menarik wiper mobilnya hingga patah, temannya marah dan mendorong dia ke pagar sehingga jatuh terluka.

Saya tidak diceritakan kejadian awalnya, hanya menyebutkan bagaimana dia dilukai. Sebagai pihak ketiga jika saya hanya mendengarkan dari satu pihak, adalah mustahil untuk memahami kebenaran. Dan dia mengadu ke pengadilan maksudnya ingin mendapatkan ganti rugi, jika pihak lawan tidak mau berdamai maka akan meninggalkan catatan kriminal.

Saya melihat bahwa hati yang begitu kuat ingin membalas dendam, karena dia merasa dia benar, maka dia begitu percaya diri. Hal ini mengingatkan saya pada kejadian dari anak saya, jika sepupu saya dari dulu tidak ada guru, orang tua serta teman-teman yang menasehati serta dirinya dapat berintrospeksi dengan serius, perlahan-lahan akan membangun nilai-nilai bias diri sendiri. Oleh karena itu, perasaan simpatik awal saya juga segera menghilang, dari pengalaman ini saya menemukan saya harus lebih teliti menilai seseorang jangan hanya mendengar pengaduan sepihak.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular