Oleh Wu Ying

Pemimpin besar rakyat Korea Utara Kim Jong-un akhir-akhir ini makin tidak berani meninggalkan ibukota Pyongyang. Pasalnya Kim takut dibunuh.

Media Inggris ‘Daily Star’ pada 10 Oktober memberitakan bahwa Kim Jong-un baru-baru ini kian merasakan bahaya bila ia meninggalkan ibukota Pyongyang untuk melakukan kunjungan ke daerah miskin. “Merasa Tidak Aman”, khawatir menghadapi serangan dari warga yang menderita kemudian memberontak dan membunuhnya.

Kabarnya, Kim tidak berani pergi ke tempat-tempat yang menjauhi pangkalan militer Pyongyang hanya untuk mengambil gambar-gambar bersifat promosi, termasuk lokasi peluncuran rudal dan uji coba nuklir, juga daerah pertanian dan pabrik-pabrik yang sudah dijaga ketat sekali pun.

Korea Utara yang mengisolir diri dengan dunia luar, pada pertengahan September lalu telah mengalami banjir besar karena meluapnya air sungai Tumen yang berbatasan dengan Tiongkok.

Hujan lebat yang turun selama berhari-hari membuat sungai Tumen tak mampu lagi untuk menampung kelebihan ‘muatan’ yang terpaksa ‘dibagikan’ kepada penduduk sekitar yang memang sudah dalam kondisi miskin dan kekurangan pangan. Hal ini tentu menjadi potensi memompa emosi sebagian besar rakyat Korut yang memang sudah cukup lama berada dalam kondisi  kekurangan bahan pangan, di mana pemberontakan rakyat atau kerusuhan sosial bisa saja terjadi.

Karena khawatir terhadap kerusuhan dan pembunuhan tersembunyi, Kim Jong-un sampai saat ini belum berani mengunjungi daerah bencana. Kecuali beberapa petugas yang diutus rezim, tetapi tujuan mereka bukan memberikan bantuan kepada warga yang terkena bencana, lebih cenderung datang dengan tujuan untuk memantau dari dekat gerak-gerik penduduk bencana.

Anggota Majelis Nasional Republik Korea (Selatan) Ha Tae-keung mengatakan, “Kim Jong-un merasa nyawanya mungkin akan terancam, karena ia sadar bahwa tingkat emosi warga di lokasi bencana bisa lebih tinggi daripada rakyatnya yang di daerah lain”.

Sudah ada sekitar 600.000 orang warga bencana banjir terpaksa kocar-kacir mencari tempat pengungsian, tetapi para prajurit Korut yang dikerahkan ke daerah bencana untuk membantu warga hanya bisa acuh-tak acuh terhadap ketidakpuasan atau keluhan mereka.

NK News yang terus memantau perkembangan di Korea Utara menulis dalam situsnya, setiap kali Kim Jong-un meninggalkan ibukota Pyongyang dengan kendaraan kepala negara, serangkaian kendaraan militer dan truk-truk yang mengangkut pasukan lengkap dengan senjatanya pasti mengiringi dari belakang sampai tempat tujuan.

Media asing melaporkan, Korut mungkin masih ingin melakukan uji coba senjata nuklir untuk yang keenam kalinya, dengan masa bodoh terhadap kecaman yang diberikan oleh masyarakat internasional termasuk sanksi yang memberatkan mereka. Belakangan ini, Korea Selatan sedang memrogramkan  sebuah tindakan dengan tujuan untuk meruntuhkan kekuasaan Kim Jong-un. Korea Selatan akan membiarkan Pyongyang lenyap dari peta dunia bilamana Korut terus meningkatkan gangguan terhadap perdamaian dunia.

Menurut berita yang baru-baru ini disampaikan oleh media Korea Selatan ‘Korea Times’ bahwa, sejumlah masyarakat terpelajar Tiongkok bersama pembuat kebijakan mulai membahas dukungan terhadap program yang diberi nama “serangan ala operasi pembedahan” dan “pemenggalan kepala” yang dibuat antara Amerika dengan Korea Selatan untuk melenyapkan rezim Kim Jong-un dari muka bumi.

Program “serangan ala operasi pembedahan” yaitu satu strategi serangan yang memanfaatkan keakurasian yang sangat tinggi dari rudal jelajah untuk meledakan target. Sedangkan program “Pemenggalan Kepala’ adalah strategi serangan ke basis-basis militer lawan dengan memanfaatkan keakurasian dari rudal jelajah dengan tujuan menghancurkan fasilitas militer termasuk mental perlawanan prajurit dan terbunuhnya para komandan perangnya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular