Setiap kali melihat laut, selalu saja ada perasaan yang beda. Ketika berada di pinggir laut atau pantai di senja hari, lama kelamaan kisah tentang istana naga, putri duyung yang jelita di bawah laut, perlahan-lahan menari-nari dalam benak saya, laut yang biru, seperti mengambang dalam dongeng.

Seandainya berada di atas sebuah perahu, di laut yang dalam, menyaksikan gelombang yang tak berujung di sekeliling, tersendiri bak Jonathan Livingston Seagull (nama seekor burung camar yang sendirian sedang melatih terbang rendah di atas permukaan air), kini timbul sedikit rasa takut terhadap gelora laut. Laut adalah alam semesta lain, yang menyembunyikan banyak misteri dalam hati saya dan bahkan berhubungan dengan mimpi saya.

Namun, sebuah gempa bumi dahsyat telah mengguncang dunia, dan nyaris menghancurkan mimpi saya tentang laut. Gempa bumi 9 skala richter, tsunami dan tanah longsor, tanah retak dan kematian di Jepang, membuat kutub magnet bumi berubah, bahkan pulau Jepang pun bergeser oleh bencana yang mengerikan itu.

Terutama, gempa juga menyebabkan kebocoran nuklir, dan retakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, sejumlah besar air radiasi langsung meresap ke laut, diikuti dengan pembuangan limbah nuklir ke laut, sehingga laut pun bermasalah dengan kontaminasi nuklir yang menyebar ke laut dalam.

Untuk sementara Jepang menjadi target serangan (kecaman). Sebenarnya, tidak seharusnya semua akibat itu di alamatkan kepada Jepang, sebelum pencemaran nuklir, pengasaman laut dan sejumlah besar polusi akibat tumpahan minyak, laut telah menuju ke batas yang mengkhawatirkan.

Karena perkembangan industri, emisi karbon dioksida yang dibuang ke atmosfer, selain menyebabkan pemanasan global, juga terus meresap ke laut, sehingga air laut menjadi asam, yang secara serius mengancam kehidupan laut dan ekosistem (posisi teratas kemudian diambil alih PKT, menjadikan Tiongkok sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia).

Menurut statistik, air laut sekarang masih menyerap karbondioksida dengan kecepatan satu juta ton per jam, diperkirakan dalam waktu yang tidak lama, besar kemungkinan tidak akan ada ikan lagi di dunia.

Sungguh mengerikan jika dibayangkan, peradaban manusia, ternyata adalah bencananya bumi, siapa tahu, suatu ketika kita akan terperosok ke dalam liang kubur yang kita gali sendiri. Sementara itu, begitu banyak pesawat ruang angkasa, tapi tidak juga menemukan tempat yang layak bagi kita sebagai tempat bernaung. Dan cukup banyak rumor yang disangkal terkait segala macam teori akhir dunia.

Jika tidak ada laut lagi, maka sungai, hutan, hewan dan tumbuh-tumbuhan mungkin juga tidak ada lagi, dan segala sesuatu yang ada di atas bumi juga hampa tak berisi, tidak ada lagi yang namanya bumi. Tapi, “Saya melihat sebuah langit dan bumi yang baru. Karena langit dan bumi sebelumnya telah berlalu dan laut pun tidak ada lagi. Ini adalah nubuatan tentang pembaruan langit dan bumi. Selaksa makhluk diperbaharui, belum pernah terjadi sebelumnya, luar biasa, laut sudah tidak ada lagi, sebuah era baru yang sepenuhnya telah dimurnikan akan lahir, dan inilah intinya.

“Tidak ada lagi laut”, sekilas terdengar seperti dongeng. Suara yang menggema ini mungkin hanya membisikkan tibanya pada suatu ketika. Dan memang sudah saatnya mencari fakta dari “dongeng” itu. Kalau begitu, kita mulai dari laut saja, dari mana air laut itu, apakah berasal dari hujan di atas bumi atau air mata di surga. Gelombang menepuk pantai, dan pertanyaan ini telah berlangsung ribuan tahun. (epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular