Oleh: Xia Xiaoqiang

Beberapa hari berturut-turut, media massa Hongkong yang pro-PKT (Partai Komunis Tiongkok) memberitakan timbulnya permasalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan petinggi PKT.

Media massa Hongkong yang pro-PKT gembar-gembor memuat artikel yang menghujat habis salah satu anggota Komisi Tetap Politbiro Pusat dan mantan pemimpin tertinggi PKT. Ini bisa dikatakan adalah yang pertama kali dalam sejarah Hongkong di bawah sistem pemerintahan “satu negara dua sistem”, benar-benar di luar dugaan dan sangat mengejutkan.

Sejak 28 September lalu, berita utama di “Sing Pao – Daily News” Hongkong memuat berita yang berjudul “Serangan Telak 31 Agustus oleh Zhang Dejiang Picu Peristiwa Pendudukan”, yang isinya mengkritik Ketua Kongres Rakyat PKT Zhang Dejiang dan Direktur Kantor Penghubung Pusat Zhang Xiaoming beserta Leung Chun-ying.

Pada 29 September berita utama lagi-lagi menghujat haluan keras Zhang Dejiang dalam soal memimpin Hongkong yang disebut ‘menghancurkan impian pemilu warga Hongkong’.

Pada 3 Oktober, surat kabar “Sing Pao” kembali mengkritik Zhang Dejiang telah membuka jalan bagi korupsi serta kerap mengacau, menghalangi reformasi, bahkan menyebut Zhang didukung oleh Jiang Zemin, Dewan Kongres Rakyat dihimbau untuk melakukan reformasi besar.

Dibandingkan dengan kota-kota besar di RRT, Hongkong adalah wilayah yang istimewa. Pasar ekonomi di Hongkong yang telah terbentuk selama di bawah pemerintahan kolonial Inggris selama seratus tahun, telah terbentuk hukum dan sistem pungutan pajak yang menyeluruh dan terintegrasi secara internasional.

Posisi penting Hongkong menjadikan Hongkong sebagai penghubung pertumbuhan ekonomi internasional dengan Tiongkok daratan, meski demikian bagi PKT sebagai rezim komunis juga tetap mengharapkan Hongkong bisa mempertahankan kemakmuran dan stabilitas.

Oleh karena itu, satu lagi keistimewaan Hongkong adalah, setelah kedaulatan atas Hongkong diserahkan kembali pada PKT 1997 lalu, diterapkanlah sistem “satu negara dua sistem pemerintahan”.

Meskipun setelah 1997, dengan segala upaya PKT untuk menyusup, mengendalikan, dan menekan Hongkong, atmosfir kebebasan, demokrasi, dan norma HAM serta norma universal di Hongkong telah memudar, tapi setidaknya yang nampak dari permukaan, PKT tepaksa masih mempertahankan konsep “satu negara dua sistem” itu.

Namun, meletusnya “Umbrella Movement” dan “Occupied Central” di Hongkong pada 2014 silam adalah aksi provokasi yang dipicu oleh kubu Jiang Zemin yakni Zhang Dejiang, Liu Yunshan dan Leung Chun-ying, yang mengingkari perjanjian “satu negara dua sistem” habis-habisan, menghancurkan citra Deng Xiaoping tanpa ampun, masyarakat Hongkong terpecah belah, kekacauan pun memuncak.

Kubu Jiang Zemin telah menghancurkan latar belakang “satu negara dua sistem”, berawal dari minggatnya Wang Lijun ke kantor Konjend AS (pada 2012) sebagai pemicu, konflik politik di kalangan petinggi PKT pun terus berkembang kian sengit. Perpecahan di kalangan petinggi PKT yang saling berseberangan terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu Hu Jintao dan Wen Jiabao bersama Xi Jinping melawan kubu Jiang Zemin.

Kekacauan yang timbul di Hongkong adalah wujud dan refleksi dari perseteruan dan perpecahan dua kubu kalangan petinggi PKT. Kubu Jiang Zemin mengerahkan seluruh sumber daya yang telah dihimpun sekian lama di Hongkong, bahkan tidak ragu menghancurkan Hongkong demi melakukan kudeta dan merebut kekuasaan dari tangan Xi Jinping.

Memasuki 2016, kekuatan hantaman kubu Xi Jinping terhadap Jiang Zemin terus meningkat, sumber daya yang bisa digunakan oleh kubu Jiang terus berkurang, sehingga Hongkong menjadi benteng bagi kubu Jiang, Leung Chun-ying terus berperan sebagai tukang pukul yang beraksi di baliknya.

Media Hongkong yang berbahasa Mandarin, selain surat kabar Epoch Times dan NTDTV tidak berada di bawah kendali PKT, hampir selebihnya dikendalikan langsung oleh pengaruh PKT. Surat kabar “Sing Pao” sebagai salah satunya, yang baru-baru ini di luar dugaan berturut-turut mempublikasikan komentar di luar protokol, dengan mengarahkan tekanan langsung pada kubu Jiang dengan menyebut nama pejabat ketiga dari Anggota Komisi Tetap Politbiro Pusat yakni Zhang Dejiang dan juga menyebut Jiang Zemin sendiri.

Jelas terlihat disini bahwa di baliknya terdapat dukungan dari kubu yang berseberangan dengan Jiang Zemin. Hal ini terbukti pada media massa di RRT pada 30 September lalu.

30 September lalu, majalah “China Discipline Inspection and Supervision” yang dikuasai oleh Komisi Kedisiplinan Pusat menerbitkan artikel, yang mengungkap soal sejumlah media massa luar negeri yang mendukung aksi pemberantasan korupsi “pukul macan” oleh Xi Jinping, di antaranya termasuk surat kabar Sing Pao” dari Hongkong.

Artikel itu di luar dugaan mengutip peristiwa Zhou Yongkang yang telah dicopot keanggotaan partai PKT, surat kabar “Sing Pao” mengatakan peristiwa ini telah memecahkan pengecualian bahwa hukuman pidana tidak mampu menyentuh Dewan Komisi Tetap, membuktikan aksi pemberantasan korupsi tidak pernah reda.

Media ofisial Komisi Kedisiplinan Pusat mendukung surat kabar “Sing Pao”, yang berarti secara terang-terangan menyatakan, serangan bertubi-tubi dari surat kabar “Sing Pao” secara langsung terhadap Zhang Dejiang dan menyebut nama Jiang Zemin, adalah karena mendapat dukungan dari kubu Xi Jinping.

Karena media massa RRT dibatasi oleh pengawasan PKT, meskipun media massa yang dekat dengan kubu Xi Jinping seperti “Financial Network” dalam hal memuat artikel yang mengungkap korupsi yang dilakukan oleh kubu Jiang Zemin pun hanya bisa “mengulas sepintas”, tidak bisa begitu kuat dan lugas seperti surat kabar “Sing Pao”.

Pada 2016, surat kabar “Sing Pao” Hongkong secara lugas menohok Zhang Dejiang dan Jiang Zemin, melontarkan sinyal bahwa Xi Jinping telah membunyikan lonceng peringatan akan secara terang-terangan menangkap Jiang Zemin.

Di saat yang sama juga mengisyaratkan sisa kekuatan kubu Jiang di Hongkong juga akan segera dibersihkan, karir politik juru bicara kubu Jiang di Hongkong yakni Leung Chun-ying dan Zhang Xiaoming selaku Direktur Kantor Penghubung Pusat akan segera berakhir, dan Hongkong akan segera menyambut suatu perubahan yang sangat penting. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular