JAKARTA – Samudra Hindia yang mencakup berbagai negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Australia memiliki keragaman budaya yang tinggi termasuk sejarah pergerakan manusia di kawasan. Inerkasi keragaman antar kawasan juga terkadang berpotensi memunculkan konflik kepentingan antar negara

Perdagangan internasional, migrasi internasional, perkembangan agama dan pertukaran budaya telah melahirkan masyarakat dengan percampuran budaya. Kawasan Samudera Hindia telah memfasilitasi sejarah panjang interaksi yang mengarah ke pertukaran budaya, adopsi, dan adaptasi.

Bagi Indonesia, Samudra Hindia telah menjadi bagian dari kawasan strategis untuk mewujudkan visi Poros Maritim Dunia. Perkembangan Indian Ocean Rim Association (IORA) sebagai wadah kerja sama regional diharapkan lebih meningkat di bawah kepemimpinan Indonesia 2015-2017.

Sebagai salah satu pilar IORA, forum akademisi IORAG diharapkan mampu mempromosikan dialog intelektual di antara negara-negara anggota termasuk untuk memperkuat kolaborasi riset. Oleh karena itu, dalam 21th IORAG Meeting tahun lalu, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI sekaligus ketua dalam pertemuan tersebut, Adriana Elisabeth, sangat mendukung adanya forum-forum intelektual yang secara khusus diadakan untuk mendiskusikan topik-topik strategis bagi pengembangan kerjasama regional.

LIPI selaku focal point IORAG, kata Adriana, berinisiatif mengangkat topik interseksi budaya dalam ranah diskusi regional antar intelektual negara-negara di kawasan Samudra Hindia. Interaksi dan pertukaran kebudayaan yang terjadi menghasilkan kekayaan budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai modal untuk menciptakan dialog peradaban kawasan. Keberagaman ini dapat menjadi pondasi harmoni melalui akulturasi dan asimilasi.

“Dalam membangun kerja sama regional, kekayaan budaya di Samudra Hindia dapat menjadi dasar untuk meningkatkan diplomasi kebudayaan,” ungkapnya.

Adriana melanjutkan, sebagai salah satu prioritas IORA, kerja sama dalam bidang pertukaran kebudayaan dan pariwisata mendorong pemahaman antar semua pihak dalam memandang keunikan dan keanekaragaman budaya di kawasan.

Di samping memiliki potensi yang luar biasa, keberagaman budaya tersebut juga menyimpan potensi konflik di kawasan. Hal ini dapat dilihat dari kolonialisme yang tidak hanya menciptakan batas negara secara geografis, namun juga secara kultural. “Dampaknya adalah terciptanya stratifikasi sosial yang berbeda-beda di kawasan,” pungkasnya.

Kawasan Samudra Hindia memiliki potensi yang besar untuk membangun masyarakat multikultural, namun hal ini bergantung pada bagaimana masing-masing negara dapat mengelola keberagaman tersebut dan meminimalisasi adanya konflik akibat perbedaan budaya.

Hal tersebut didiskusikan lebih lanjut dalam kegiatan Track Two Regional Workshop of IORAG dengan tema Interseksi Budaya di Kawasan Samudra Hindia yang diselenggarakan oleh LIPI. Workshop ini akan diadakan pada 10-11 Oktober 2016 di Jakarta bersamaan dengan pertemuan 22nd IORAG Meeting. (asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds