Prozac adalah obat yang paling laku dijual dalam sejarah penjualan obat. Ketika pil Prozac pertama kali disetujui untuk mengobati depresi lebih dari 25 tahun yang lalu, hal ini bukan hanya sekedar memasarkan obat baru, tetapi juga menjual pola pikir yang baru.

Filosofi pengobatan yang melatar belakangi Prozac yang kemudian diikuti oleh banyak obat untuk menstabilkan suasana hati, adalah bahwa depresi dan kecemasan disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia otak. Dengan mengonsumsi pil yang tepat (atau kombinasi beberapa pil) secara kimia akan memperbaiki cacat dan gejala tertentu yang diyakini akan memudar.

Para ahli juga mempercayainya. Meskipun psikiater, lembaga, dan pabrik obat meyakinkan masyarakat bahwa ada ilmu pengetahuan yang benar dalam merancang obat untuk mengubah kimia otak, namun teori ilmiah tersebut tidak pernah terbukti, dan penelitian yang pernah digunakan untuk mendukung teori ilmiah tersebut sekarang dinilai sangat cacat. Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa obat-obatan ini benar-benar memperburuk kecemasan dan depresi dari waktu ke waktu dan lebih menyebabkan kecanduan dibandingkan dengan opioid.

Meskipun terbukti berbahaya, obat ini masih ditunjuk sebagai obat standar perawatan kesehatan mental. Menurut Centers for Disease Control, sekitar 10 persen orang Amerika Serikat yang berusia di atas 12 tahun mengonsumsi obat antidepresan.

Sebagian besar resep obat antidepresan diberikan kepada wanita. Wanita dua setengah kali lebih cenderung mengonsumsi obat antidepresan dibandingkan dengan pria, dan satu dari empat wanita yang berusia di atas 40-an tahun sampai 50-an tahun mengonsumsi obat antidepresan untuk mengobati depresi.

Psikiater Dr. Kelly Brogan adalah lulusan MIT dan Cornell. Beliau menentang penggunaan obat antidepresan. Beliau mengobati pasien yang datang ke kliniknya di Manhattan dengan cara mengubah pola makan pasien, mengeluarkan racun dari tubuh pasien, dan bahkan menganjurkan pasien melakukan meditasi, daripada menyuruh pasien mengonsumsi obat antidepresan.

Metode yang dilakukan oleh beliau tampaknya sedikit menyimpang karena beliau mengacu pada penelitian yang menantang paradigma yang berlaku.

Sebagai contoh, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa depresi lebih cenderung disebabkan oleh pola makan yang buruk, kurang olahraga, dan stres tiada henti—di mana tidak ada kerusakan pada kimia otak. Berdasarkan penelitian tersebut, depresi termasuk dalam penyakit kronis lainnya seperti kanker dan diabetes, yang juga terkait dengan gaya hidup modern.

Menurut beliau, pemahaman baru mengenai depresi ini bergerak melampaui pemahaman kuno mengenai penyakit untuk mengungkapkan hubungan yang lebih mendalam dengan alam.

“Ide yang menyertai obat konvensional: Anda mengenali musuh, yang sering terdapat di dalam tubuh Anda sendiri, kemudian Anda berjuang untuk mengelola mesin tubuh tersebut. Tetapi ada banyak ilmiah yang terbit dalam 15 atau lebih tahun terakhir yang benar-benar merusak ide tersebut,” kata Dr. Kelly.

“Contohnya mikrobiome (alam semesta di dalam tubuh manusia) telah mengubah dunia kedokteran karena kita tidak bisa lagi memikirkan kuman sebagai hal yang buruk. Kita tidak bisa lagi memikirkan hanya satu organ tunggal yang sebagai berfungsi secara mandiri,” tambahnya.

Dalam buku terbarunya, “A Mind of Your Own: The Truth About Depression and How Women Can Heal Their Bodies to Reclaim Their Lives”, Dr. Kelly menunjukkan bahwa dengan mengobati peradangan dan gangguan fungsi sistem kekebalan dalam tubuh, maka pikiran benar-benar dapat sembuh.

Dalam suatu kesempatan, Epoch Times melakukan wawancara dengan Dr. Kelly Brogan mengapa ia melakukan model pengobatan yang berbeda dan apa risiko obat psikiatri yang berbahaya yang jarang diberitahu oleh dokter kepada pasiennya.

Epoch Times: Anda sangat percaya dalam model pengobatan konvensional. Apa yang meyakinkan Anda bahwa pengobatan konvensional lebih baik?

Dr. Brogan: Sebagian besar dokter berbicara berdasarkan pengalaman kesehatannya sendiri. Saya sangat percaya bahwa tidak ada yang dapat mengubah pikiran mereka hanya berdasarkan informasi. Saya sangat bercokol dalam pola pikir konvensional. Saya berasumsi bahwa jika saya bekerja keras untuk mencari tahu, maka saya akan mendapatkannya. Dahulu saya pikir ilmu pengetahuan adalah segala-galanya, tidak ada Tuhan, alam semesta tidak mempunyai makna. Dahulu saya juga sangat percaya dengan pengobatan farmasi.

Namun ketika anak pertama saya berusia sembilan bulan, saya didiagnosa menderita tiroiditis hashimoto, yang merupakan penyakit tiroid auto-imun yang agak sering terjadi setelah wanita melahirkan. Saya tahu obat konvensional yang akan menyembuhkan saya yang harus saya konsumsi seumur hidup. Jadi saya berkonsultasi dengan ahli naturopati, yang ilmunya sangat berbeda dengan ilmu yang saya miliki. Saya menjalani terapi naturopati karena saya sadar bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar untuk saya waktu itu.

Ahli naturopati melarang saya mengonsumsi gluten, susu, dan gula. Ia memberi saya suplemen dan menyuruh saya mulai berolahraga. Setelah enam bulan, antibodi saya, yang tadinya sangat tinggi, turun ke kisaran normal. Dalam waktu setahun, kadar hormon tiroid saya kembali normal dan saya terbebas dari konsumsi obat.

Saya mulai mengubah cara saya mengobati pasien saya setelah saya membaca buku berjudul “Anatomy of An Epidemic” karangan Roger Whitaker. Saya tidak memberi resep obat untuk psaien saya.

Epoch Times: Anda sangat memperhatikan kesehatan wanita. Apakah ada sesuatu pada fisiologi wanita yang membuat wanita lebih rentan terhadap depresi dan kecemasan?

Dr. Brogan: Wanita diberi resep obat antidepresan dengan dosis dua kali lipat dibandingkan dengan pria. Saya telah melihat banyak wanita mulai mengonsumsi obat antidepresan hanya karena wanita memberi banyak keluhan kepada dokter ahli penyakit dalam yang dikunjunginya.

Saya memusatkan perhatian pada depresi yang disebabkan oleh peradangan. Saya telah menemukan data yang mendukung fakta, bahwa wanita menunjukkan lebih banyak gejala perilaku klinis yang sama dengan respons terhadap peradangan yang ditunjukkan oleh pria. Dalam lingkungan peradangan yang sama ini, wanita lebih sering menunjukkan sindrom penyakit dibandingkan dengan pria. Gejala depresi sebenarnya adalah untuk menyesuaikan diri supaya kondisi penyakit tidak bertambah parah sehingga tubuh sembuh kembali.

Beberapa respons terhadap peradangan ini sebenarnya untuk membuat kita lebih peka terhadap interaksi sosial. Ketika kita menutup diri, sebenarnya itu adalah berguna untuk meninjau kembali aktivitas sosial kita sehingga kita dapat menjalin hubungan kembali dengan orang-orang yang akan membantu kita.

Terdapat banyak macam gejala ketidakseimbangan hormon yang dialami wanita yang mirip dengan gejala gangguan jiwa, yaitu: sebelum menstruasi, pasca melahirkan, dan sebelum menopause, di mana semua ini terdapat dalam kehidupan seorang wanita yang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi bencana sehingga wanita menjadi pasien penyakit jiwa. Setahap demi setahap fase tersebut harus dilalui oleh seorang wanita yang dimaksudkan untuk menggiring wanita menuju fase berikutnya. (Epoctimes/Conan Milner/Vivi)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular