Pepatah orang dahulu mengatakan, “watak manusia pada awalnya baik”. Setiap orang pada dasarnya baik saat lahir, namun, semua itu berubah menjadi tidak baik seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan pengalaman. Karena itu, baru ada pemikiran “kembali ke jati diri”. Seseorang yang ingin menjadi baik, harus berputar atau berjalan kembali ke asal, kadang-kadang akan menemukan masa kecil diri kita, dimana masa muda kita sendiri itu jauh lebih baik daripada saat ini, semuanya serba baik. Pendek kata, diri kita sendiri sedang menjauh dari pribadi yang terbaik.

Teman-teman ada yang mengatakan, bahwa “bertemu dengan pribadi yang terbaik”, lalu dimanakah pribadi yang terbaik itu ? Tiba-tiba ketika menoleh ke belakang, ternyata ia hidup di masa lalu, masa kecil dan remaja kita sendiri. Mungkin orang tua yang suka melihat anak-anak bermain itu melihatnya dari mereka, dan menemukan diri pribadinya yang terbaik, dan diluar dugaan diri pribadi terbaiknya itu muncul kembali dari anak-anak.

Sulit melupakan diri kita yang ketika masih anak-anak dulu, bisa membantu tetangga tua mengambil air dan menyapu, memberikan uang saku kita kepada pengemis tua di depan rumah, bahkan memberikan makanan yang rasanya sayang dimakan oleh kita itu kepada anak-anak sepermainan. Tapi sekarang harus patungan saat kita makan bersama. Sudah dewasa atau pelit? Kita sendiri juga tidak tahu persis.

Ketika duduk di bangku SMP, dimana saat tanpa sengaja menemukan uang langsung saja tanpa ragu sedikitpun diserahkan kepada guru di sekolah, tapi sekarang harus pikir-pikir dulu cukup lama. Alasannya karena keadaan masyarakat memang sudah demikian, jadi untuk apa merepotkan diri. Terkadang kalau direnungkan, menemukan kembali jati diri itu harus kembali ke masa kanak-kanak dan masa muda kita ketika itu. Jati diri ketika itu jauh lebih baik daripada sekarang. Tidak hanya iri dengan diri kita yang tampak cantik/tampan dan muda, energik ketika itu, dan lebih iri lagi terhadap diri kita kala itu, begitu baik dan polos.

Orang-orang sering mengatakan, “jangan lupa dengan hati semula”, apa pun yang dilakukan orang-orang itu selalu bersifat baik pada awalnya. Usaha bersama, harus memiliki semangat untuk memulai usaha, tapi lambat laun lupa memulai usaha, yang ada hanya uang dan kepentingan. Demikian juga dengan kultivator Dao (memupuk diri sesuai dengan ajaran agama), dimana pada awal mendalami Dao (Dharma), tetap bersikukuh bagaimanapun juga harus ke langkah akhir menuju pencerahan meskipun sulit, memiliki ambisi yang teguh dan pantang menyerah sebelum berhasil mencapainya, namun, perlahan-lahan tekad semula itu menjadi kendur, bermalas-malasan dan tidak gigih dan maju lagi.

Untuk menemukan kembali jati diri yang terbaik, yang paling efektif adalah menemukan kembali masa kecil kita ; beda dengan mereka yang mendalami Dao, ingin menjadi diri pribadi yang lebih baik dari masa kecil, dan mungkin itulah jati diri kita yang paling baik semasa dahulu. (Epochtimes/ Tong Xin/Jhn)

Share

Video Popular