Oleh: Gao Tianyun

Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye pada saat menyampaikan pidato dalam rangka peringatan “Hari Militer Nasional,” Sabtu (1/10/2016)  tiba-tiba melontarkan seruan secara langsung pada rakyat Korea Utara, “Kami membuka lebar-lebar pintu ini, bagi rakyat Korea Utara, yang ingin mengejar impian dan hidup, menantikan kedatangan mereka sewaktu-waktu ke tanah Korea Selatan yang bebas ini.”

Park menyatakan, dia tahu betul “realita menakutkan” yang setiap hari dihadapi oleh seluruh rakyat Korea Utara, dan berkata, “Kebebasan termasuk demokrasi, HAM, dan nilai universal seperti kesejahteraan, adalah hak berharga yang seharusnya kalian nikmati.”

Di satu sisi, suara Park Geun-Hye lantang dan lugas. Di sisi lain, Kim Jong-Un kebakaran jenggot. Menurut berita, Kim Jong-Un langsung memerintahkan penjagaan ditingkatkan untuk mencegah kaburnya rakyat Korea Utara, dan membalas pernyataan tersebut dengan opini.

3 Oktober, surat kabar partai “Rodong Sinmun (Berita Pekerja)” milik Korut memuat berita yang menyebutkan, rezim Park Geun-Hye telah mengakibatkan puluhan juta rakyat Korea Selatan terdesak “di tepi jurang”, setiap tahun orang yang hendak melarikan diri dari Korea tak terhitung jumlahnya.

Setiap kali membaca pernyataan dari kedua belah pihak Utara maupun Selatan, saya selalu teringat akan dua orang, yakni Kim Ji dan Yin Ji. Kedua kakak beradik kembar ini adalah tokoh fiktif dalam cerita, yang muncul di film produksi Korea Utara puluhan tahun silam yang berjudul “The Faith of Kim Ji and Yin Ji”.

Film ini bercerita tentang kehidupan yang berbeda yang dialami Kim Ji dan Yin Ji setelah diadopsi terpisah. Kim Ji dibesarkan di Korea Utara, menjadi seorang penari terkenal, bahagia dan sejahtera. Sedangkan Yin Ji tidak mengindahkan nasihat orang tuanya dan bersikeras pergi ke Korea Selatan bekerja sebagai pelayan restoran, yang kemudian ditindas dan diperlakukan seperti budak.

Pada saat melarikan diri, Yin Ji mengalami naas dan cidera, dalam derita dia masih harus menanggung beban rumah tangganya yang begitu berat. Mengetahui sang adik mengalami hal tragis, Kim Ji sangat sedih, dan bertekad untuk menjadi “putri sang pemimpin agung yang baik”.

Saat menyaksikan film tersebut, usia saya masih sangat belia, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “Garis Demarkasi 38°.” Tapi ada satu hal yang sangat jelas dalam ingatan, yakni jalur tersebut adalah garis pembatas, pembatas antara surga dan neraka. Menyaksikan Yin Ji yang begitu menyedihkan, saya bersama paman dan bibi pun ikut menangis sedih di bioskop, sampai mata bengkak dan merah.

Kim Ji dan Yin Ji, sepasang tokoh fiktif yang direkayasa ini, memang memprovokasi perasaan dan memancing air mata, di masa ketika berita disensor dan diblokir, film ini sempat membohongi perasaan banyak orang.

Akan tetapi, kepalsuan memang tidak akan pernah bisa dibenarkan, kebohongan tidak akan bertahan lama. Banyak orang pernah menangis berderai air mata bagi seorang tokoh Yin Ji, namun setelah mengetahui faktanya, hanya bisa menertawakan pembodohan ini. Fakta yang terdistorsi tidak hanya tokoh cerita kakak beradik kembar ini saja, kesenjangan yang mencolok antara kedua daratan saja sudah cukup menjadi renungan bagi semua orang.

Penguasa partai komunis bisa mengatakan apa saja demi mempertahankan kekuasaannya, hitam dan putih bisa diputarbalikkan, benar dan salah tidak ada bedanya, yang penting adalah mempertahankan kekuasaannya agar tidak goyah, rakyat selalu dibodohi. Sekarang, fakta telah mengalahkan segala perdebatan, dimana letak “api membara dan jurang yang dalam”, dimana letak “taman indah yang penuh kebebasan?”

Menurut surat kabar “JoongAng Ilbo (Harian Pusat)” Korea Selatan, pada 29 September pagi hari, seorang serdadu Korut mendekati sebelah selatan dari “Garis Demarkasi 38°.” Ia berhasil ditemukan oleh serdadu Korsel kemudian dipastikan serdadu tersebut berniat membelot ke Korsel. Berita Korsel menyebutkan, sejak 2010 hingga akhir Agustus lalu, sebanyak 74 orang serdadu Korut langsung membelot ke Korsel tanpa melalui negara ketiga. Selain itu, para pejabat diplomatik dan elite Korut yang bekerja di luar negeri pun sudah banyak yang melepaskan diri dari cengkraman rezim Kim Jong-Un.

Pada 7 April lalu, sebanyak 13 orang karyawan di sebuah restoran Korut yang beroperasi di Ningbo provinsi Zhejiang, RRT, bersama-sama membelot ke Korea Selatan. Awal Juni lalu, 3 orang karyawan dari restoran Korut yakni “Pyongyang Pioneer Hall” yang berada di Weinan provinsi Shanxi, RRT, juga telah membelot ke Korsel. Surat kabar Jepang “Yomiuri Shimbun” memberitakan, sebanyak 8 orang pekerja wanita di pabrik pemroses hasil laut di Donggang provinsi Liaoning pada akhir Juni lalu telah melarikan diri. Dan pada 16 Juli lalu ditemukan lagi seorang pemuda “jenius” matematika yang masih berusia 18 tahun telah melarikan diri dari Korut ke Hongkong.

Menanggapi fenomena ini, pejabat dari Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan, sekarang sudah banyak warga Korut yang bisa merasakan “Hallyu (trend Korsel)”, mereka berharap agar keluarganya bisa mendapatkan kehidupan yang layak, oleh karena itu “migrasi” ke Korsel, dan jumlahnya sedang terus bertambah.

Cerita para pembelot Korut sangat mengerikan dan menyayat hati. Mereka menempuh bahaya tertembak mati dan menerobos perbatasan ke negeri seberang. Banyak yang melarikan diri ke RRT, ada yang lari jauh ke Mongolia, bahkan Asia Tenggara, setelah itu berbalik kembali ke Korea Selatan. Ada yang sanak saudaranya yang masih tertinggal di Korut mendapat ancaman dan teror. Tapi demi tidak lagi menderita kelaparan dan demi kebebasan, mereka tidak lagi menghiraukan itu semua.

Park Yan-Mi dan ibunya pernah menyeberangi Gurun Gobi, lalu setelah transit di negara lain, berbalik arah menuju Korsel. Sekarang Park menempuh studi di perguruan tinggi di Amerika Serikat. Ketika menjawab pertanyaan dari pendengar AS, Yan-Mi menyatakan, di Korea Utara, masyarakat bahkan tidak memiliki kebebasan untuk mengungkapkan cinta kasih, sehingga menyaksikan film “Titanic” pun menjadi suatu titik balik dalam hidupnya.

“Saya sama sekali tidak pernah melihat tokoh di dalam film rela mati demi cinta. Ini adalah hal yang sulit dibayangkan. Di Korea Utara, satu-satunya cinta yang boleh diungkapkan adalah cinta kepada rezim penguasa,” katanya.

Pemerintahan Korut yang menakutkan telah menyisakan momok bagi Park Yan-Mi.

“Ibu menasihati saya agar tidak mengatakan hal-hal sensitif, karena akan terdengar oleh orang tertentu. Saya tahu jika salah berbicara saja, saya akan disuruh kerja paksa… waktu masih kecil saya sudah tahu hal itu,” cerita Yan-Mi.

Menurut nara sumber yang mengetahui kondisi di Korut, baru-baru ini Kim Jong-Un menginstruksikan agar menghapus segala unsur yang bisa memicu membelotnya para pejabat Korut di luar negeri dan segala unsur ketidakstabilan lainnya, juga menuntut agar pejabat di luar negeri tidak menggunakan komputer dan ponsel untuk melihat media cetak serta film-film Korea Selatan dan lain-lain.

Tapi di tengah arus informasi yang begitu deras seperti sekarang ini, contoh nyata terjadi di depan mata, ingin menghalangi fakta dengan mengandalkan “blokir” atau “sensor” dan menekan keinginan hati masyarakat, tidak akan efektif lagi.

Yang mengharapkan robohnya Tembok Berlin, tidak hanya warga Jerman Timur, Jerman Barat, Korsel atau Korut saja. Semua hati yang menginginkan kebebasan, sedang mengguncang pondasi Tembok Berlin jenis lain. Otobiografi penuh air mata dari para pembelot Korut langsung menohok serangan propaganda Kim Jong-Un. Sekarang, siapakah sebenarnya yang terdesak “di tepi jurang?” (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular