Legenda Cnidium atau Biji Ranjang Ular

442
tanaman obat
Tumbuhan Cnidium tumbuh di seluruh Tiongkok, dan bijinya digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk penyakit kulit dan sebagai penguat libido alami. (Foto:Wikipedia/CC BY-SA 3.0)

Tumbuhan Cnidium tumbuh di seluruh Tiongkok, dan bijinya digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk penyakit kulit dan sebagai penguat libido alami. Hal ini dikenal di negeri tersebut sebagai she chuang zi, yang diterjemahkan menjadi “biji ranjang ular”.

Biji Cnidium biasanya digunakan untuk mengobati kulit gatal, ruam, eksim, dan kurap. Menggiling biji dengan air menjadi pasta dan mengoleskannya pada kulit adalah metode yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut.

Biji Cnidium juga dapat dikonsumsi secara internal untuk mengobati keputihan dan meningkatkan potensi seksual, dan ketika dikombinasikan dengan tumbuhan cusuta dan schisandra, kombinasinya dapat digunakan untuk mengobati infertilitas dan impotensi.

Bagaimana biji itu diberi nama “biji ranjang ular” ?

Menurut legenda Tiongkok kuno, penyakit kulit aneh pernah mewabah di sebuah desa kecil yang menyebabkan penduduk merasa gatal dan menderita bisul. Ahli pengobatan lokal tahu tentang tumbuhan di sebuah pulau kecil lepas pantai yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Namun, ada banyak ular berbisa di pulau tersebut yang tertarik pada tumbuhan itu, yang membuatnya sangat berisiko untuk mengambilnya.

Suatu hari, seorang pemuda yang tidak ingin melihat keluarganya terus menderita, memutuskan untuk mengambil risiko menjelajah ke pulau itu untuk mencari tumbuhan tersebut. Dia mendayung perahu kecil ke pulau, namun sayangnya, ia tidak pernah kembali. Beberapa bulan kemudian, seorang pemuda lain memutuskan untuk menyeberang, tetapi ia menemui nasib yang sama.

Para penduduk desa tertunduk lesu menghadapi situasi tersebut, dan mereka hampir hilang harapan sampai seorang pemuda ketiga melangkah maju dan menawarkan diri untuk melakukan perjalanan ke pulau yang sama.

Namun, alih-alih langsung ke pulau, pemuda ini pergi ke sebuah kuil tepi laut di mana ia telah mendengar tentang seorang rahib wanita yang ahli dalam mengendalikan ular. Ia menjumpai rahib tersebut yang mengatakan bahwa ular berbisa diusir dengan anggur. Wanita itu kemudian memberinya sebotol anggur untuk dibawa dalam perjalanannya.

Ketika ia tiba di pulau itu, ia menemukan bahwa di situ memang penuh ular. Namun, ketika ia menuangkan anggur di atas tanah saat berjalan, ular merayap pergi.

Ketika ia sampai ke hutan, ia melihat tumbuhan yang ia cari, namun ia juga melihat bahwa ada banyak ular berbaring di sekitar tumbuhan tersebut. Dan ia harus mengusir ular-ular itu, dengan menaburkan anggur di sekitar tanaman.

Secepatnya pemuda mengumpulkan sebanyak mungkin tumbuhan yang ia bisa bawa dan kembali ke desa. Sesampai di desa tumbuhan itu diberikan kepada warga desa yang kemudian sembuh dari penyakit mereka. Melihat hasilnya, pemuda itu kemudian memberi nama tumbuhan itu “biji ranjang ular”. (ran)