Kecanggihan ponsel makin memesona kita. Di Inggris, orang menjadi begitu terobsesi dengan layar persegi panjang agar dapat selalu terhubung dengan kecanggihan dunia maya, menurut sebuah laporan baru-baru ini.

Diperkirakan ada sebanyak 15 juta pengguna internet dewasa yang selalu mengunjungi dunia teknologi bebas libur ini, ungkap media pengawas Ofcom dalam laporan tahunan pasar komunikasi yang diterbitkan pada 4 Agustus 2016 lalu. Menurut temuan laporan tersebut, rata-rata orang dewasa menghabiskan waktu lebih banyak menggunakan media dan layanan komunikasi per hari dibandingkan dengan waktu tidur. Dan sekarang, sebanyak 71 persen orang dewasa telah memiliki ponsel pintar, meningkat dari 66 persen pada tahun lalu. Bagaimana dunia digital ini memengaruhi kehidupan kita?

Dua hal yang paling berpengaruh pada manusia adalah memori dan konsentrasi, kata Dr. Tara Swart, pelatih kepemimpinan, neuroscientist, dan mantan dokter. “Mereka menggantikan kebutuhan kita untuk mengingat, karena kita dibombardir oleh begitu banyak oleh informasi, maka bagian memori dan konsentrasi dari otak kita makin menyusut,” jelasnya.

Budaya “selalu terkoneksi” dapat memakan korban. Kejadian ini pernah menimpa Ana Henneberke (35) pada tahun lalu. Ana bekerja sebagai kepala pengiriman perangkat lunak di Just Giving di London, dia mencintai pekerjaannya.

“Pada dasarnya, ia mulai mengendalikan hidup saya; menjadi perpanjangan dari kehidupan dan pekerjaan saya. Kemana pun saya akan pergi, saya selalu membawa ponsel, bahkan ketika saya berada di rumah,” katanya.

“Saya sampai berada di titik di mana akhirnya saya katakan, saya tidak bisa terus melakukan hal ini lagi, ini tidak sehat bagi saya, tidak baik bagi orang-orang di sekitar saya juga – ketika Anda berinteraksi dengan teman-teman dan Anda tidak bisa berhenti melihat media sosial, atau ketika Anda menonton film dan Anda tidak bisa fokus karena Anda terus memeriksa seputar tentang film online.”

Ana yang menjalani profesi sebagai ahli IT selama 11 tahun, akhirnya mengajukan ijin libur selama sebulan pada tahun lalu, dan ia pergi melakukan perjalanan solo di Amerika. Diakhir perjalanannya, ia menghabiskan waktu di pesanggrahan detoksifikasi digital di Hutan Redwood, San Francisco utara.

“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, selamanya, saya berada di tempat dan waktu tanpa teknologi, tanpa gangguan,” katanya.

“Ketika tinggal selama empat hari kemudian, saya merasa benar-benar baru dan segar. Saya merasa seperti saya hidup. Saya bisa mendengar dan mencium hal-hal yang tidak bisa saya lakukan sebelum-nya, karena Anda selalu terganggu.”

Ana kini telah mengorganisir tempat pesanggrahannya sendiri bersama rekan kerjanya di Portugal, berfokus di seputar kelompok kerja, kolaborasi, dan ide-ide, dan beberapa elemen dari detoks digital.

“Ini benar-benar penting untuk mengisi waktu dengan tanpa melakukan apa-apa dan menjadi nyaman dengan tanpa melakukan apa-apa,” katanya, tapi mengakui bahwa dia memiliki masalah dengan ini. “Setiap detik saya punya hari di mana [saya merasa] Saya harus melakukan sesuatu atau belajar sesuatu. … Kadang-kadang sulit untuk memperlambat dan mengatakan tidak, mari kita berhenti di sini, biarkan pikiran mengembara dan tanpa melakukan apa-apa.”

“Sangat penting untuk memutuskan hubungan saat ini,” katanya. “Pada akhirnya nanti, mereka adalah hal-hal yang ingin Anda keluarkan dari kehidupan.”

Dalam studi yang dilakukan pada sekitar 2.000 orang dewasa dan remaja, Ofcom menemukan bahwa banyak orang yang pergi ke tempat pesanggrahan detoks digital merasa lebih produktif dan terbebaskan, sementara yang lain merasa hilang dan terputus.

“Sebagian besar klien saya akan mengatakan, jika mereka pergi ke suatu tempat terpencil dan mereka tidak memiliki akses wifi maka mereka benar-benar panik,” kata Dr. Tara. Tapi setelah itu, beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka benar-benar seperti berada di luar sentuhan. “Apa yang saya katakan kepada mereka adalah, Anda perlu melangkah lebih jauh dan memilih untuk melakukannya,” katanya.

Dr. Tara pernah menjalani detoks digital secara singkat selama beberapa tahun, sering pergi berkemah ke lokasi terpencil. “Itu adalah perjalanan penemuan diri. Saya tidak tahu berapa kali saya memeriksa telepon, tapi itu membuat saya menyadari bahwa saya melakukannya banyak kali karena saya mempunyai cadangan waktu lebih banyak ketika saya tidak melakukannya.”

Ini bukanlah kemampuan untuk mematikan yang tampaknya menjadi masalah bagi banyak orang.

Owen Redahan, seorang penasehat yang berbasis di Canary Wharf, mengatakan mulai melihat peningkatan stres pada orang-orang yang merasa harus selalu tersedia di sepanjang waktu, bahkan ketika berlibur, untuk memeriksa email dan memilah bisnis.

“Ketika saya mulai bekerja, disaat saya mengambil cuti, tidak ada yang bisa menghubungi saya. Inbox saya akan terisi dan rekan-rekan kerja saya akan mengatasinya atau tetap berada di sana sampai saat saya kembali dan tak seorang pun mengira ia tidak berada di sana ketika Anda kembali,” katanya. “Apakah ada masalah jika seseorang mengirim sms dan Anda tidak membalasnya selama satu jam? Mungkin tidak?”

Kehilangan koneksi

Era digital telah membawa hal yang positif, seperti terhubung secara instan dengan orang lain, mudah berbagi ide, dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu sekelompok besar orang. Tapi ia juga membawa masalah bagi orang yang merasa harus selalu terhubung melalui gawai mereka, tetapi tidak selalu terhubung pada saat ini.

“Menggunakan media sosial ok, asalkan orang itu memiliki cukup waktu untuk melakukan tatap muka, kontak mata dan interaksi yang khas dengan orang,” kata Dr. Tara. “Penelitian dari Stanford menunjukkan bahwa, jika Anda menghabiskan banyak waktu di internet atau media sosial, tetapi Anda juga banyak bersosialisasi dalam kehidupan nyata, itu ok.”

Owen mengakui bahwa orang-orang mulai lebih banyak memblokade diri mereka sendiri. “Orang mulai mengatur dirinya berada di menara dan mengabaikan orang lain,” melihat ponsel mereka di angkutan umum, dan mengurung diri di kamar tidur untuk mengirim pesan kepada teman-temannya. “Apa yang Anda miliki hanyalah gelembung Anda sendiri, dan Anda tidak berinteraksi secara fisik ataupun visual dengan orang lain, dan itu mulai perkecualian.”

Dia tidak menentang teknologi, tetapi mengatakan kita harus menggunakannya untuk manfaatnya dan tidak membiarkan hal itu mengambil alih hidup kita.

“Ada orang yang melihat ponsel mereka setiap menit, setiap dua atau tiga menit, meskipun belum menelepon – dan itulah rasa takut kehilangan.”

Ketakutan akan kehilangan ini lazim di kalangan eksekutif, kata Dr. Tara. “Saya punya satu klien yang merupakan pengelola aset. Dia berkata, “Saya benar-benar tidak bisa tidak melihat telepon saya sampai saya pergi tidur dan harus memastikannya disebelah saya sehingga saya dapat melacak semua pasar yang berbeda.”

“Pemicu sebenarnya adalah ketika seseorang mengatakan, anak saya sedang berbicara kepada saya tapi saya tidak mendengarkan, karena saya terus bertanya-tanya apa yang akan berada di ponsel saya.” (Epochtimes/Ajg/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular