Oleh: DR. Frank Tian, Xie*

Selama dua puluh tahun terakhir dengan kecepatan tinggi Republik Rakyat Tiongkok/RRT membabibuta mengembangkan pendidikan tingkat tinggi, tanpa dibarengi dengan rencana jangka panjang nan menyeluruh. Tidak ada seni komposisi yang jelas, kurang akan pengendalian mutu, industrialisasi pendidikan menjamur, banyak sekolah yang tadinya hanya berupa akademi, sekolah kejuruan dan sekolah teknik ramai-ramai menaikkan status.

Hal ini menyebabkan jumlah lulusan sarjana di Tiongkok berlebihan. Kadar nilai ijazah lulusan perguruan tinggi pun anjlok, sedangkan di saat yang sama pekerja yang memiliki pendidikan ketrampilan dan pekerja teknis tingkat tinggi sangat minim.

Pada saat membutuhkan “kelas pekerja”, Partai Komunis Tiongkok/PKT mengatakan kelas pekerja adalah “para pejuang garis depan” dari kalangan proletariat, tetapi ketika tidak membutuhkan para kelas pekerja, seluruh masyarakat pun realitanya mencemooh kaum buruh dan kerah biru. Para lulusan sekolah kejuruan dan sekolah teknik pun tidak lagi mempunyai status sosial. Semua ini adalah potensi penyebab terbatasnya industri manufaktur di Tiongkok.

Jerman memiliki “sistem ganda” yang terkenal di dunia. Pendidikan perguruan tinggi dan juga pendidikan ketrampilan secara bersamaan. Pendidikan ketrampilan adalah penggabungan pendidikan di ruang kelas dengan aplikasinya pada pekerjaan, membuat seluruh dunia kagum. Mulai dari menteri pendidikan Spanyol sampai Ketua Aliansi Industri Inggris, semua berharap dapat meniru sistem pendidikan Jerman dan sistem usaha kecil menengah (German Mittelstand).

Termasuk Prancis yang biasanya tidak begitu menghargai Jerman. Presiden Sarkozy juga berniat meniru metode Jerman sepenuhnya, dan dikatakan jika cara ini berfungsi di Jerman, mengapa tidak bisa berfungsi juga di Prancis?

Tapi sebenarnya baik Prancis maupun RRT, metode Jerman mungkin tidak akan mudah ditiru. Perlu diketahui, keajaiban Jerman telah eksis minimal selama tiga sampai empat dekade, mengapa sampai sekarang belum ada Jerman kedua di dunia?

“Harvard Business Review” edisi Juni 2016 memuat sebuah artikel yang mengulas industri manufaktur Jerman yang terus menjadi pemimpin dalam revolusi industri data global oleh Thomas Kautzsch. Dikatakan bahwa produsen otomotif, produsen suku cadang otomotif, produsen mesin dan alat industri mesin Jerman, selalu menjadi produsen pemimpin di dunia, karena pada jalur produksi mereka piranti lunak komputer, berbagai jenis sensor, berbagai jaringan, dan peralatan elektronik dikembangkan fungsinya sampai sangat optimal.

Sekarang, orang Jerman tidak hanya di bidang otomotif, kereta api, pesawat, mesin, bahkan perlengkapan dapur, dan sekarang industri data manufaktur pun kembali memimpin di dunia!

Yang paling hebat pada orang Jerman adalah mulai dari riset produk, pengembangan produk, uji coba produk itu di pasar, penjualan, penetapan harga, estimasi permintaan pasar, penanganan pesanan sampai manajemen pabrik, seluruh proses dan kaitannya, semua diproses secara digital!

Para produsen Jerman telah mendapatkan manfaat keuntungan investasi dari digitalisasi, keuntungan bertambah besar, dan sebagian besar keuntungan didapat dari produksi yang diatur secara baik. Sampai tahun 2030, Thomas Kautzsch memperkirakan, produsen dari negara lain di seluruh dunia hanya akan mendapat porsi pangsa pasar kecil dari orang Jerman, hanya omset senilai USD 1,4 trilyun.

Teknologi digital membuat produsen otomotif Jerman mampu menghemat hingga USD 100 juta (1,3 triliun rupiah) setiap ada satu mobil model baru yang dikembangkannya!

Majalah “Economist” Inggris dalam suatu analisa terhadap model perekonomian Jerman dengan tak berdaya mengatakan, negara lain dengan antusias berharap agar dapat meniru model ekonomi Jerman, tapi metode manufaktur dan produksi orang Jerman, tidak semudah itu bisa ditransfer keluar seperti produk bikinan mereka. Dengan kata lain, produk unggulan Jerman bisa dibeli oleh seluruh dunia, tapi metode produksi orang Jerman yang unggul, tidak akan semudah itu bisa dipelajari oleh negara lain, termasuk Tiongkok.

Produk Jerman telah menjangkau ke seluruh penjuru dunia, hampir tidak ada yang lolos dan tidak ada yang terlewatkan, tapi kebanyakan orang sama sekali tidak tahu. Seperti Bank Sentral Eropa (ECB) mengendalikan valuta zona Euro dari Frankfurt, Jerman, tapi sebuah perusahaan Jerman bernama Beckhoff Automation adalah sebuah perusahaan yang mengendalikan ECB, atau lebih tepatnya, peralatan mereka mengendalikan penerangan dan sistem pengatur suhu udara ruangan di ECB!

Sebenarnya, peralatan dan jaringan listrik dari Beckhoff Automation juga dipasang di gedung opera Italia, di kapal pesiar mewah di Laut Mediterania, pada air mancur musik di Las Vegas, serta pada lebih dari setengah mesin turbin kincir angin yang ada di Tiongkok!

“Ada dimana-mana, tapi sepertinya tidak terlihat, terkategorikan industri rumah tangga, tapi tidak bisa diremehkan!” Ungkapan ini terdengar ibarat gambaran terhadap seorang pendekar berilmu tangguh di dunia persilatan. Beckhoff hanya satu di antara sekian banyak perusahaan Jerman, adalah semacam juara dunia yang tidak banyak dikenal orang, penggabungan dari semua perusahaan itulah yang membentuk pasukan produsen manufaktur Jerman dan raksasa ekpor yang menakutkan.

Hanya Beckhoff saja, produksinya lebih dari setengah diekspor. Pada 2020 diperkirakan omset penjualannya akan mencapai 2 milyar Euro (28,8 triliun rupiah)! Tingkat kepercayaan Jerman adalah AAA, perusahaan mereka seolah bisa meminjam dana berapa pun yang mereka butuhkan.

Perusahaan sekelas Beckhoff tidak tumbuh dan berkembang setelah PD-II, cara kerja mereka, metode produksi dan manajemen mereka, sudah ada sejak 1825, yakni sudah berusia sekitar 200 tahun, sudah berurat akar, berkembang, disempurnakan, dan terbentuk sedemikian rupa.

Bagi pemilik perusahaan Beckhoff yang bernama Hans Beckhoff ini, seluruh investasi perusahaan adalah uang miliknya sendiri bersama dengan tiga orang saudaranya, mereka berempat adalah pemegang saham mutlak di perusahaan itu. Mereka tidak mengajukan kredit, juga tidak meminjam uang. Hal ini sebenarnya agak mirip dengan perusahaan keluarga dalam masyarakat tradisional Tiongkok, tentu perusahaan di RRT saat ini sudah tidak seperti itu lagi, hutang perusahaan di RRT, sama halnya dengan hutang pemerintah daerah, sudah sampai taraf mencekik leher.

Orang Jerman melangkah di barisan terdepan dunia, masih berusaha mewujudkan langkah berikutnya dari rencana mereka, yakni memasok model produk yang bernilai Hybrid kepada dunia. Dan mereka tidak hanya akan memasok hasil akhir produknya saja, melainkan juga akan memasok hasil akhir yang dibutuhkan oleh konsumen dan pelanggan mereka. Apa artinya?

Seperti perusahaan Wolf Heiztechnik dari Bavaria Jerman. Memang benar, mereka juga memiliki kantor cabang di Beijing, rencana mereka tidak hanya memasok peralatan penghangat ruangan saja, tapi juga peralatan kendali suhu. Karena mereka tahu, semua perusahaan di RRT mampu memproduksi penghangat ruangan, tapi mereka tidak mampu memasok produk Hybrid yang menyeluruh dan memiliki nilai tambah.

Dalam hal ini, ini adalah kelemahan industri manufaktur di RRT, tapi meskipun sudah mengetahui kelemahan ini, dalam waktu singkat masih sulit bagi industri manufaktur di RRT untuk mengejar Jerman. (sud/whs/rmat)

*Penulis adalah John M. Olin Palmetto Professor in Business University of South Carolina Aiken
BERSAMBUNG

Share

Video Popular