- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Krisis Tiongkok Berikutnya, Krisis Pangan?

Oleh: Chen Si

Sejak 2002-2015, jumlah impor makanan Tiongkok telah meningkat 780%! Kini, Tiongkok harus menggantungkan impor makanannya dari luar negeri.

Ekspansi perkotaan Tiongkok telah menyebabkan area lahan pertanian negara itu mulai menurun. Kini, Tiongkok semakin banyak mengimpor makanan dari luar negeri, sehingga memicu kekhawatiran dunia industri terhadap keamanan pangan.

Para petani berbondong-bondong ke kota mencari pekerjaan, menanggung biaya hidup yang tinggi di kota, namun, tidak mendapatkan kesejahteraan yang selayaknya dinikmati warga kota. Menurut survei dari pusat kajian pembangunan Dewan Negara Tiongkok, bahwa makanan yang dikonsumsi penduduk desa yang ke kota untuk kerja dan hidup setiap hari itu akan meningkat 20% baik secara langsung atau tidak. Baik dari sisi positif dan negatif, hal ini telah mempertajam ketidakseimbangan pasokan dan permintaan makanan.

Sejak krisis keuangan pada 2008 lalu, tren penurunan perekonomian global membuat harga komoditas curah seperti minyak dan bijih besi terus menurun tajam hingga setengahnya. Namun, di antara banyak komoditas curah, makanan adalah hal yang tidak sama.

Sejak tahun 2000, laju peningkatan harga pangan mulai melambat, lalu naik tajam 50% dalam waktu 15 tahun. Sebelum krisis keuangan tahun 2008 dan 2010, harga pangan menyongsong puncak dua gelombang, namun, sejak 2011, harga pangan turun, dan baru menunjukkan kenaikan lagi tahun 2016.

Bank Dunia memrediksi, pada 2030 mendatang, permintaan pangan dalam lingkup global akan meningkat lebih dari 50%. Sementara pada 2025 sekitar 1,4 miliar penduduk di 36 negara akan terancam krisis kurangnya pangan (saat ini masih ada sekitar 130 juta penduduk Tiongkok menderita kelaparan).

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) – FAO Organisasi Pangan dan pertanian dibawah naungan PBB menyebutkan, bahwa dalam satu dekade ke depan, kondisi harga yang relatif tinggi dari produk pertanian akan menjadi karakteristik pasar yang signifikan, harga produk pertanian dan air akan mencapai tingkat yang tinggi sepanjang sejarah.

Antara pasokan dan permintaan pangan Tiongkok

Meskipun sejak 2003-2015, jumlah produksi pangan (beras) Tiongkok mencapai peningkatan berantai, namun, bersamaan dengan itu, pertumbuhan penduduk Tiongkok dan naiknya permintaan konsumen, menyebabkan total produksi makanan dan total permintaan di Tiongkok mengalami kesenjangan, permintaan tahun 2010 lebih tinggi 3.25 juta ton dari produksi, dan sampai pada tahun 2015 kesenjangan ini mencapai 20 juta ton.

Kurangnya produksi juga menyebabkan jumlah impor pangan Tiongkok meningkat drastis, dan untuk pertama kalinya pada tahun 2014 memecahkan rekor 100 juta ton, sejak 2002-2015, impor makanan Tiongkok meningkat 780%!

Para ahli memprediksi bahwa sampai pada tahun 2020, jumlah produksi pangan Tiongkok akan meningkat menjadi 554 juta ton, namun kebutuhan pangan sekitar 700 juta ton, kekurangan hampir 200 juta ton.

Pada saat yang sama, harga makanan di Tiongkok juga akan terus meningkat, sejak tahun 2009 hingga sekarang, harga gandum dan beras masing-masing naik 50% dan 69%, naiknya harga makanan juga mendorong kenaikan harga pangan.

Kini, Tiongkok semakin banyak mengimpor makanan dari luar negeri, sehingga memicu kekhawatiran dunia industri terhadap keamanan pangan. Dalam laporan “The 2016 Global Food Security Index”, Tiongkok berada di peringkat ke-42, sementara negara-negara Barat menduduki peringkat teratas dalam keamanan pangan global. Dan peringkat yang jauh melampaui Tiongkok, termasuk Jepang (18) yang sangat bergantung pada impor pangan, dan Korea Selatan (24).  Sekarang, Tiongkok harus menggantungkan impor makanannya dari luar negeri.

Para petani berbondong-bondong ke kota mencari pekerjaan, menanggung biaya hidup yang tinggi di kota, namun, tidak mendapatkan kesejahteraan yang selayaknya dinikmati warga kota. Menurut survei dari pusat kajian pembangunan Dewan Negara Tiongkok, bahwa makanan yang dikonsumsi penduduk desa yang ke kota untuk kerja dan hidup setiap hari itu akan meningkat 20% baik secara langsung atau tidak. Baik dari sisi positif dan negatif, hal ini telah mempertajam ketidakseimbangan pasokan dan permintaan makanan.

Hal ini tidak bisa menyalahkan petani. Petani juga investor, mungkin mereka tidak punya konsep tentang rasio keuntungan, tapi pendapatan pekerja dan petani memiliki kontras visual, pekerja di kota bisa mendapatkan gaji bulanan antara 3000-4000 yuan atau setara Rp. 5.8 juta  – 7.7 juta. Manfaatnya jauh lebih besar daripada bertani, dan ini merupakan perilaku yang wajar setelah mereka mempertimbangkannya dengan matang. (Secretchina/joni/rmat)