Seiring dengan permintaan global yang masih lemah, ekspor Tiongkok mengalami penurunan tajam sejak Februari 2016 lalu, sehingga meningkatkan tekanan atas depresiasi mata uang Yuan.

Ekspor pada September turun 10% sama seperti tahun lalu. Sementara impor turun 1,9%. Kedua angka ini jauh lebih rendah dari hasil survey ekonom di Bloomberg, demikian pernyataan dari Departemen statistik di Administrasi Pabean Umum Tiongkok, Kamis (13/10/2016).

Surplus perdagangan turun hingga 42 miliar dolar AS. Ekspor Tiongkok ke Uni Eropa turun 9,8%, Inggris 10,8%, dan Amerika 8,1%. Data perdagangan yang lemah mungkin telah meningkatkan tekanan depresiasi yuan.

Para pembuat kebijakan mungkin lebih lanjut akan mendevaluasi yuan

Pelemahan ekspor Tiongkok bertepatan dengan pemerintah yang menekan gelembung pasar properti dan utang perusahaan, sehingga memicu spekulasi bahwa pembuat kebijakan akan kembali mendevaluasi yuan untuk menopang resesi ekonomi.

Bank of America, Royal Bank of Canada dan ekonomi kapital memprediksi bahwa yuan akan kembali terdepresiasi lebih lanjut. Yuan sekarang hampir menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir ini.

Seiring dengan peringatan Standard & Poor’s dan IMF yang memperingatkan risiko ekspansi kredit yang cepat, langkah–langkah baru yang diambil para pembuat kebijakan Beijing yang membatasi real estate, mengandung risiko yang menyebabkan pendinginan ekonomi. Tapi target mereka merealisasikan 6.5 % pertumbuhan tahun ini justru tak tergoyahkan. Dimana hal ini akan memaksa mereka mendevaluasi yuan untuk mendukung industri.

Sue Trinh, direktur strategis mata uang senior Royal Bank of Canada Capital Markets mengatakan kepada Bloomberg, “Pilihan Tiongkok semakin berkurang, sehingga devaluasi yuan bagi mereka merupakan pilihan minimal. Setelah yuan secara resmi dimasukkan ke dalam keranjang SDR, kita telah melihat tindakan mereka ke  arah ini, dan mereka akan membuat tindakan lebih lanjut.”

 

Seiring dengan berakhirnya liburan di Tiongkok dan naiknya dolar AS, tekanan devaluasi semakin kuat, dan kini sedang bergerak pada penurunan mingguan terbesar sejak Januari lalu. Selama tahun ini, kurs mata uang yuan terhadap dolar AS telah jatuh 3,4 persen, dan merupakan penurunan terbanyak untuk pasar mata uang Asia.

Deutsche Bank memperkirakan, seiring dengan upaya pemerintah Tiongkok untuk mendinginkan pasar properti dan pelonggaran kebijakan moneter, namun, suku bunga AS mendorong arus modal keluar dari Tiongkok, dan dalam dua tahun ke depan, yuan akan terdepresiasi 17%.

Goldman Sachs memperingatkan, jumlah arus modal keluar mungkin jauh lebih besar dari jumlah yang terlihat di permukaan.

“Semakin banyak arus modal yang keluar itu dalam bentuk mata uang yuan bukan dolar,” katanya. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular