Oleh: Lu Wen

Di tempat kami berada, di daratan Tiongkok, baik waktu merayakan tahun baru Imlek ataupun hari biasa, di perkotaan ataupun di pedesaan, semua lelaki-perempuan, tua-muda, kader partai-petani, demi memohon kekayaan, memperoleh keturunan ataupun tolak balak dan penyakit, hampir semuanya pernah berkunjung ke tempat suci bersujud pada sang Pencipta, atau menanyakan baik buruknya nasib pada peramal. Mungkin banyak orang yang hanya beranggapan lebih baik mempercayai keberadaannya daripada tidak, bahkan ada pula yang hanya mencari perasaan aman saja, jarang sekali ada yang mampu menyatakan prinsip kebenarannya.

Karena untuk memenuhi kebutuhan politiknya, Partai Komunis Tiongkok/PKT setelah secara paksa mengindoktrinasikan atheisme kepada masyarakat, dengan lantangnya mereka menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan adalah tahayul, adalah kebodohan,  bahkan dilakukan aksi pengganyangan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang beriman (terutama pada masa Revolusi Kebudayaan 1966-1976).

Pada akhir abad ke 17, setelah Newton mengemukakan hukum gravitasi universal, dapat dikatakan telah mencapai kesuksesan yang cemerlang, namun teori ini masih mengandung beberapa kelemahan.

Albert Einstein pada 1916 telah menelorkan teori relativitas dalam arti luas untuk menggambarkan dunia yang kita tempati. Sampai belakangan ini, sesudah ditemukan bahwa alam semesta mengembang dengan lebih cepat. Para ilmuwan pun telah melakukan revisi sekali lagi terhadap teori tersebut.

Dapat dilihat bahwa bahkan prinsip paling mendasar dari ilmu fisika pun semuanya selalu diperbarui dan diubah, bahkan sampai sekarang juga belum ada ilmuwan yang berani menyatakan bahwa teori temuannya sudah benar secara mutlak. Tentu saja yang menyangkut wilayah ilmu tubuh manusia dan ranah yang lebih mikro lagi, melalui teori-teori tersebut juga tidak mampu ditentukan apakah sesuatu itu tahayul atau tidak.

Dalam ilmu fisika selain teori relativitas dalam artian luas, masih ada teori kuantum yang mempelajari microkosmos, dewasa ini di antaranya superstring theory merupakan teori arus utama. Karakter penting dari teori ini adalah teori 11 dimensi ruang waktu, dengan kata lain teori super string sudah dengan jelas menunjukkan bahwa di luar dimensi ruang waktu kita sekarang ini masih terdapat dimensi ruang waktu yang lain. Apakah dalam hal ini lantas dapat dikatakan bahwa para ilmuwan top dunia telah bermain ketahayulan?

Dimensi lain itu benar-benar eksis. Bahkan pada dimensi lain juga terdapat berbagai macam makhluk hidup. Terutama melalui penelitian terhadap orang-orang yang nyaris menemui ajal yang cukup populer dalam dunia internasional, dan terapi penyembuhan dengan hipnotisme, terungkap bahwa jiwa manusia yang meninggal itu tidak benar-benar mati, sungguh terdapat fakta objektif mengenai reinkarnasi. Laporan-laporan dalam bidang ini dapat diperoleh dalam jumlah besar di internet.

Disini hanya akan disinggung tentang gejala “Tumimbal Lahir” di provinsi Hunan pada tahun-tahun belakangan ini. Istilah “Tumimbal Lahir” yang dikenal dalam agama Buddha sehubungan dengan kelahiran kembali suatu mahluk hidup dalam alam kehidupan yang sama atau berbeda serta tidak membawa kesadaran akan kehidupan dari alam sebelumnya.

Mereka setelah dilahirkan dan tumbuh agak besar, dapat mengingat berbagai barang-barang berharga miliknya. Menyebutkan dengan tepat pada kehidupan sebelumnya siapa nama dan marganya, tinggal di mana, pernah melakukan apa, bagaimana hidup dan matinya, tetangga sekitar dan keluarganya dan lain-lain. Ada yang bahkan mencari keluarga dalam kehidupan sebelumnya untuk melanjutkan takdir kehidupan sebelumnya.

Menurut pemberitaan huaihuanews.net, telah dilakukan ekplorasi misteri di tempat terhadap gejala “Tumimbal Lahir” di desa Pingyang, Kabupaten Otonomi Tongdao Etnis Dong. Desa Pingyang terletak di ujung selatan Tongdao, terletak di pertemuan perbatasan antara provinsi Hunan dan Guangxi, merupakan sebuah daerah misterius yang jarang dikunjungi orang luar. Di sini bermunculan banyak kasus “Tumimbal Lahir.” Mereka menyebutkan dirinya datang kembali ke dunia sekarang ini bereinkarnasi melalui kelahiran, juga masih ingat dengan jelas pengalaman-pengalaman di kehidupan sebelumnya.

Kasus “Tumimbal Lahir”, sebutan yang terkesan aneh ini, sejak dulu memang sudah ada di tempat ini, demikian kata seorang pejabat desa Pingyang.

”Dahulu gejala ini juga eksis, namun tidak dilakukan analisa dan penelitian yang mendalam. Kami sekalipun tidak dapat melakukan studi dalam bidang ilmiah tentang apa yang menjadi penyebabnya, namun gejala kebudayaan yang unik ini disini sangatlah umum. Di desa Pingyang yang hanya berpopulasi sekitar 7.800 orang, menurut pengamatan yang kami anggap sebagai fenomena kebudayaan, setelah kami hitung, ternyata terdapat 100 orang lebih, yaitu 100an orang yang menyatakan jiwanya Tumimbal Lahir,” cerita sang pejabat desa.

Di dalam sejarah Tiongkok terdapat banyak catatan tentang contoh-contoh Tumimbal Lahir, di antara mereka tidak sedikit yang merupakan orang-orang terkenal seperti sastrawan terkenal Su Dong Po dan lain lain. Hanya saja Partai Komunis setelah berkuasa di Tiongkok, mempropagandakan dan mengindoktrinasikan atheisme dan mereka memandang “Hukum sebab akibat (tabur-tuai)” sebagai suatu tahayul.

Dalam beberapa ribu tahun sejarah Tiongkok masyarakatnya senantiasa berpedoman pada “Hukum tabur-tuai / baik dan buruk ada balasannya.” Sesungguhnya adalah setelah seseorang meninggal dunia, sang Pencipta akan memutuskan sesuai dengan berkah atau dosa jiwa orang tersebut pada kelahiran berikutnya apakah langsung diterima di sisiNya, atau masih harus balik lagi ke bumi, menjadi manusia, binatang ataupun tumbuhan dan lain sebagainya, berikut imbalan rezekinya.

Dalam aliran Buddha terdapat ungkapan yang menjelaskan hal tersebut.  ”Apa yang diterima seseorang pada kehidupannya kali ini, merupakan akibat dari yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Apa yang akan diterima seseorang pada kehidupan yang akan datang, merupakan akibat dari apa yang dilakukan saat ini.”

Di Tiongkok beberapa ribu tahun sebelum tahun 1949 (perebutan kekuasaan oleh PKT atas pemerintahan partai nasionalis), orang Tionghoa pada umumnya menganut ajaran dari tiga agama yakni Kong Hu Cu, Buddha dan Dao (Tridharma).

Orang-orang zaman dahulu pergi ke tempat suci adalah demi menghormati sang Buddha dan mengolah jiwa (berkultivasi). Ada yang berkultivasi diri ingin mencapai pembebasan diri, ada yang menghormati keagungan Ilahi. Ada yang dikarenakan kesulitan hidup dan memahami bahwa kesulitan-kesulitan ini semuanya merupakan balasan atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya pada masa lalu. Berdoa kepada Buddha atau Dewata berintrospeksi atas perbuatan diri sendiri dan berikrar untuk mematuhi ajaran Nya serta memperbaiki kualitas diri. Hal itu demi menjadi orang yang lebih baik, berikrar untuk banyak melakukan kebajikan dalam mengkompensasi dosa-dosa diri sendiri. Berdoa agar dapat mengurangi penderitaan yang sedang dihadapi.

Namun orang zaman sekarang pergi ke tempat suci kebanyakan adalah murni hanya untuk menghapus musibah dan penyakit, menjadi kaya dan naik pangkat. Sama sekali tidak untuk berinterospeksi terhadap kesalahan dalam perilaku diri sendiri. Mereka mengira dengan hanya melakukan ritual agama lantas dapat terbebas dari penderitaan dan akan mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Buku “Zhuan Falun” karya master Li Hongzhi merupakan buku pedoman aliran spiritual Falun Gong yang menguraikan banyak sekali prinsip-prinsip yang sangat mendalam dengan bahasa yang mudah dimengerti, termasuk eksistensi demensi lain. Dengan membaca “Zhuan Falun”, Anda akan memahami dangan lebih mendalam terhadap hal tersebut di atas. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular