Oleh Qin Yufei

Di Tiongkok banyak unjuk rasa tetapi yang terjadi di ibukota Beijing sangat sedikit, terutama kalau unjuk rasa atau protes itu digelar di depan gedung utama pemerintah. Lebih langka lagi.

Namun pekan ini, ribuan veteran berkumpul di luar gedung Kementerian Pertahanan Beijing untuk menyampaikan keluhan, menuntut perbaikan kesejahteraan. Para veteran yang datang dari berbagai daerah di Tiongkok, memakai seragam militer bermotif loreng-loreng terus berubah lokasi untuk menghindari penangkapan oleh otoritas.

Sebagian dari mereka mengeluh soal kompensasi pensiun yang tidak adil, sebagian lagi mengeluh karena pihak berwenang gagal untuk menempatkan mereka bekerja di perusahaan-perusahaan BUMN sesuai yang dijanjikan. Yang lain mengeluh karena uang pensiun mereka sebulan kurang dari 50 Dollar AS (+/- Rp.650 ribu).

Media ‘Fortune’ melaporkan bahwa pemerintah mengambil tindakan untuk mencegah penyebaran protes para veteran. Hingga 12 Oktober pagi, para pengunjuk rasa itu terus diangkut dengan bus atau kendaraan militer untuk menjauhi gedung Kementerian Pertahanan.

Di micro-channel ada berita yang menyebutkan bahwa Perdana Menteri Li Keqiang pada Kamis lalu  telah bertemu  dengan perwakilan dari veteran untuk mendengarkan pendapat dan tuntutan mereka. Seorang peserta wanita bernama Wu Lijuan mengatakan bahwa pertemuan itu berlangsung selama 2 jam. Dan anggota Politbiro sebelum kedatangan Li Keqiang juga telah bertemu dengan para pengunjuk rasa.

Berita yang dimuat dalam micro-channel tersebut tidak dapat dikonfirmasikan kebenarannya, apalagi media Daratan juga dilarang meliput kejadian unjuk rasa ini. Tetapi bila itu benar, maka dapat dikatakan bahwa otoritas Beijing saat ini khawatir dengan munculnya unjuk rasa para veteran dan merasa perlu untuk menenangkan kelompok-kelompok yang bisa membawa dampak buruk bagi restrukturisasi militer dan konsolidasi perusahaan-perusahaan BUMN yang sedang dijalankan sekarang.

‘Fortune’ melaporkan, Partai Komunis Tiongkok/PKT sangat sensitif dengan unjuk rasa yang berskala besar, apalagi kalau protes itu dari komunitas militer. Karena takut dengan dampaknya yang  mungkin saja dapat menggulingkan reformasi yang akan dilakukan di masa depan. Contohnya,  otoritas Beijing sekarang sedang berencana untuk melucuti senjata 300.000 personil militer, termasuk PHK 5 – 6 juta tenaga kerja yang berkecimpung di bidang-bidang yang sedang mengalami kelebihan produksi industri seperti besi dan baja, batubara serta lainnya.

Kedua tindakan tersebut akan berdampak signifikan terhadap perekonomian Tiongkok. Perusahaan BUMN Tiongkok yang selama ini telah dijadikan ‘mangkuk nasi besi’ bagi para buruh, sekarang sedang ‘ngos-ngosan’ dengan beban hutang yang jumlahnya mencapai USD 12 triliun. Mereka kini perlu dirombak secara besar-besaran.

Unjuk rasa di hari-hari kemudian perlu terus dipantau bersama. Coba bayangkan, jika saja para veteran ini berhasil memenangkan perjuangan, memaksa otoritas mengalah demi kepentingan mereka, maka apakah tidak mungkin para pekerja industri besi dan baja, batubara dan lainnya yang sedang menghadapi PHK tersebut juga menempuh cara yang sama? (sinatra/rmat)

Share

Video Popular