Oleh: Shi Da

Pada awal 2016, kubu Xi Jinping mengumumkan “Pertarungan anti korupsi dengan kekuatan melimpah sedang terbentuk.” Ini adalah situasi sejak pertarungan menentukan dua faksi Xi dan Jiang pada 2015.

Sebenarnya, ketika kekuasaan kubu Xi di pusat sudah kokoh, barulah Xi berani berkata seperti itu. Sejak Konferensi Dua Sesi Partai Komunis Tiongkok/PKT pada Maret lalu hingga sekarang, situasi ‘kekuatan melimpah’ kubu Xi Jinping mungkin sudah benar-benar terbentuk. Bukan hanya itu, baru-baru ini situasi tersebut sedang menjulur ke luar negeri, terutama di tempat penting faksi Jiang yakni Hong Kong dan San Francisco Amerika Serikat.

Tahun ini, perubahan personil pejabat tinggi daerah PKT semakin kerap terjadi, sudah ada 26 orang pejabat tingkat provinsi yang diadili secara intensif serta mengakui bersalah. Hingga kini, Xi Jinping sudah menangkap lebih dari 100 orang pejabat tinggi PKT setingkat provinsi dan tingkatan yang lebih tinggi.

Sejak Agustus, Sekretaris Partai provinsi Hunan, Yunnan, Tibet, Anhui, Mongolia dalam, Xinjiang dan Tianjin diganti. Setelah Xi Jinping berhasil menguasai pusat, kekuasaannya sedang melebar dengan cepat ke daerah provinsi dan kota besar.

Pengaruh faksi Jiang di dalam negeri sudah berlalu                       

Sebagai analogi, dalam pertarungan akbar antara Xi dan Jiang, kubu Xi Jinping sudah mulai menggerakkan “serangan mendadak perbatasan” pada 2012 (insiden Wang Lijun), “menyerang dan menduduki kota penting perbatasan” (menumpas Bo Xilai), membasmi kekuatan utama faksi Jiang (mencopot Xu Caihou, Zhou Yongkang dan Ling Jihua). Pada 2015 kubu Xi telah menahan serangan balik faksi Jiang, seperti mengurai “bom ekonomi bencana saham”, “bom politik Zhou Benshun”, “bom diplomatik Ling Wancheng”, “menghunus pedang rapat Beidaihe” dan “ledakan dasyat Tianjin.”

Akhirnya pasukan kubu Xi sampai pada tembok kota, menyerang masuk ke dalam istana pada 2016, Jiang Zemin sendiri telah dijadikan tahanan rumah. Sejak itu situasi negeri Tiongkok sudah ada kepastian.

Pertempuran setelah itu, paling banyak adalah pembersihan dari rumah ke rumah dan menumpas sisa-sisa bandit. Maka itu, membersihkan sisa kaki tangan dan menugaskan pejabat tinggi dari kubu sendiri untuk menggantikan di daerah provinsi dan kota telah menjadi semacam fenomena yang sudah lama dinantikan. Mungkin aneka kebijakan baru dan persyaratan penenang dengan sendirinya akan terwujud secara alami.

Sarang faksi Jiang di luar negeri yakni Hong Kong mulai dibersihkan

Benteng perlawanan faksi Jiang yang lain sebenarnya adalah Hong Kong dan luar negeri. Di sana, penghubung PKT terutama melalui konsulat dan mata-mata, kebanyakan orang-orang itu berasal dari system (spionase) Zeng Qinghong dan kebanyakan dijalankan dengan secara rahasia.

Lokasi yang memang tidak langsung dikendalikan oleh Beijing ini malah menjadi lingkup kekuasaan terakhir dari faksi Jiang yang tersisa. Namun, medan perang utama Xi dan Jiang juga bukan di lokasi-lokasi“Luar Negeri” ini, itulah sebabnya disana juga menjadi tempat terakhir yang perlu ditangani oleh kubu Xi.

Faksi Jiang justru sering memanfaatkan area yang kosong ini untuk melakukan tindakan pengacauan. Faksi Jiang dalam banyak kasus di Hong Kong seperti “gerakan payung”, insiden Pulau Diaoyu, pergolakan “satu Negara dua sistem” (kasus Hongkong) dan insiden “Kompetisi akbar tarian klasik Hong Kong” dan lain-lain, adalah untuk menciptakan kerunyaman bagi Xi Jinping.

Sudah sejak penghujung 2014, demi membalas dua tokoh utama faksi Jiang yakni Zhou Yongkang dan Xu Caihou yang tertumpas, tokoh faksi Jiang di atas pentas politik yakni Zhang Dejiang, Liu Yunshan dan Leung Chen-ying terlibat langsung, mereka memanfaatkan resolusi Kongres Rakyat Nasional (‘DPR’nya RRT) untuk memprovokasi perlawanan warga Hong Kong, sehingga berkembang menjadi “revolusi payung” dan “gerakan menduduki sentral (Occupy Central)”.

Kala itu, Leung Chun-ying sampai-sampai menggunakan gas air mata untuk membuat marah warga Hong Kong, juga sempat menata penembak jitu yang siap memuntahkan peluru tajam, dalam upaya menciptakan tragedi menyedihkan ala ‘4 Juni’ yang lain.

Tujuan faksi Jiang adalah menyeret Xi ke dalam kubangan dan membiarkan Xi memikul hutang darah laiknya faksi Jiang, dengan tujuan agar Xi bersedia melepaskan policy yang hendak memisahkan dirinya dengan faksi penghutang darah (Jiang).

Peristiwa aktual terjadi pada Juni 2016, bahwa Leung Chun-ying dari faksi Jiang yang menguasai pemerintahan Hong Kong juga disebut sebagai “anggota PKT bawah tanah” oleh dunia luar, setelah ia menarik kembali lahan Heung Yee Kuk (Rural Council) tanpa alasan, lalu dengan cara-cara gangster melanjutkan penindasannya dengan menghalangi kompetisi akbar tarian klasik Tiongkok yang diselenggarakan oleh NTDTV. Itu bertujuan untuk menciptakan kesulitan bagi Kompetisi Tarian Klasik Tiongkok seluruh Dunia, kompetisi perdana se Asia Pasifik VII yang diselenggarakan oleh NTDTV.

Sebenarnya, pada 2016, kubu Xi sudah mulai menata luar negeri dan bersiap untuk membenahi basis “Luar Negeri” yang terakhir dikuasai oleh faksi Jiang. Namun, “Insiden Kompetisi Tarian Klasik Hong Kong” ini mungkin juga membuat kubu Xi mempercepat aksi mereka dengan serangkaian artikel pedas dan berani dari media harian “Sing Pao” Hongkong (yang di-backingi oleh kubu Xi) sejak akhir September lalu. (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular