Tak Disangka Ibuku yang Tunagrahita Melakukan Ini untukku!

548
ibuku
Ibuku adalah seorang wanita bodoh, apa pun yang dipelajarnya selalu tak bisa dilakukannya dengan baik.(Internet)

Ibuku seorang penderita tunagrahita (keterbelakangan mental), ketika mengembara sampai ke desa ayah, dalam perutnya telah mengandungi aku. Karena keluarga ayah miskin, tidak punya uang untuk menikahi seorang istri, juga tidak ada yang bersedia menikah dengannya. Sehari-hari ia ke gunung mencari batu dan menghaluskannya kemudian dijual dengan imbalan uang yang tidak seberapa. Suatu hari, ia bertemu ibuku saat dalam perjalanan pulang ke rumah, karena iba melihat ibuku, kemudia ia membawa ibuku pulang bersamanya.

Awalnya, nenek bersikeras tidak membolehkan ibu saya masuk ke rumah, “Coba kau lihat dirinya, seperti wanita gila,” ayah saya tidak tega mengusir ibu, lalu meminta ibu tidur di gudang kayu, karena khawatir ibu saya kedinginan, tengah malam ia membawakan selimut untuk ibu.

Tampak jelas terlihat, ibu saya merasa keberatan untuk pergi, pagi-pagi sekali ibu sudah bangun dan langsung sibuk kerja di halaman rumah. Belakangan ayah saya menawarkan untuk hidup bersama dengan ibu, melihat itu, dalam benak sang nenek berpikir, mau “menikah dengan anggota keluarga kami,” nanti kalau sudah punya anak baru diusir.”

Ibuku seorang wanita bodoh, apa pun yang dipelajarinya selalu tak bisa dilakukannya dengan baik. Sering memecahkan mangkuk, dan nenek juga kerap memukulnya, menyumpah serapah ibuku seorang wanita pembawa sial. Belakangan satu hal seakan membuat hancur seisi rumah, perut ibuku semakin besar, ketika diperiksa di rumah sakit, dokter mengatakan masa kehamilan ibu sudah berjalan enam bulan, sebenarnya ini adalah kabar yang baik, tapi ibu dan ayah saya baru empat bulan hidup bersama, artinya anak dalam perut ibu bukan punya ayah.

Nenek pun berang, lalu bilang agar anak itu digugurkan, tapi ayah bersikeras menolaknya, “Bagaimanapun juga itu juga sebuah nyawa.” Belakangan aku pun lahir, karena ibu tidak tahu cara merawat anak, suatu ketika hampir saja saya mati dicekiknya, karena itu saya dibesarkan oleh nenek sejak kecil, nenek sering berkata, “Jangan bicara dengan wanita gila itu.”

Saya adalah seorang gadis yang suka mengasingkan diri dan aneh sifatnya. Setiap saat dilecehkan, saya selalu melampiaskan kegusaran saya pada ibu, “Ibu tahu bagaimana orang-orang memanggil saya, semua orang bilang aku anak haram, ibu dikatai gila, mengapa ibu melahirkan saya, mengapa tidak membiarkan aku mati saja.” Aku memukulnya, memakinya, melemparnya dengan batu, tapi ia (ibu) selalu tertawa konyol. Suatu hari di sekolah, guru mengomeli saya tidak berpendidikan, mengatai ibu saya gila, saat pulang ke rumah, saya pun mengambil sapu dan memukul ibu, tapi ibu tampak senang seperti sedang bermain-main dengan saya.

Setiap kali saat sedang berjalan bersama dengannya, selalu saja ada sekelompok orang yang kasak kusuk di belakang, menertawakan saya. Karena tak tahan lalu saya pun menjauhkan diri dari ibu, sambil berteriak, “pergi saja kau, bikin malu saja”, kemudian ibu saya seakan-akan mengerti, selalu saja menjauh dariku, menatapku dari kejauhan, tidak berani mendekat.

Ketika di SMA, semula ada pertandingan olahraga, orang tua wajib hadir, cukup lama saya membujuk ayah agar bisa hadir, tapi ayah justru menyuruh ibu yang hadir. Saat itu, saya merasa sangat malu, ibu berlari seperti orang gila di lapangan olahraga, sementara para siswa yang melihat itu pada berteriak, “teman-teman, coba kalian lihat ada bibi gila,” suara tawa pun seketika menggema di lapangan olahraga. Tak lama kemudian saya meninggalkan lapangan lebih awal, belakangan saya baru tahu kalau kaki ibu berdarah karena semangat larinya yang menggebu-gebu itu, dan dari larinya yang penuh semangat itu, ibu meraih juara kedua.

Saat kuliah semester II, sebelum pergi ibu memberi aku satu kantong warna hitam, ketika aku buka, tampak beberapa uang logam dengan nilai nominal 5 sen dan 1 yuan. Ketika itu, mataku berkaca-kaca dan tak tahan seketika aku pun menangis melihat semua itu. Saat itu, aku merenung apakah telah melampiaskan semua ketidakpuasanku itu kepadanya, padahal ia tidak bersalah.

Setelah lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan di kota, ketika itu, ada seorang pria yang mendekatiku, dari semua aspek, kondisi keluarganya juga lumayan baik, dan rasanya sudah saatnya untuk tunangan, saya pun terus terang mengatakan kalau saya dari desa. Punya seorang ibu yang mengidap keterbelakangan mental, ketika itu orangtuanya menentang hubungan kami diteruskan, siapa suruh putranya suka sama aku.

Saat benar-benar hendak menikah, baru saya sadari ternyata begitu banyak penyesalan, menyesal tidak pernah bersikap baik kepada ibu. Dan tak disangka saya merasa berat untuk meninggalkan wanita yang menderita keterbelakangan mental itu.

Sambi menangis nenek berteriak pada ibuku, “kenakan busana yang bagus, jangan bikin malu cucuku,” dalam acara pernikahan, orang tua dari suamiku itu menertawakan ibu yang menderita keterbelakangan mental, “hei orang gila, coba kau merangkak belajar menggonggong seperti anjing, kita semua pasti akan mendo’akan kebahagiaan putrimu.”

Dan tak disangka, ibuku benar-benar melakukannya, segenap hadirin yang melihat aksinya itu pun tertawa. Saya benar-benar tak tahan melihat semua itu, kemudian saya menghampiri ibu dan menariknya untuk berdiri, lalu mencium keningnya, “Ibu, ayo kita pulang, pernikahan ini batal.”

Sontak semua tamu undangan pun melihat ke arah kami, semuanya tercengang diam tak bersuara. Saya tidak peduli lagi apa pun yang dikatakan nenek maupun mertua dan “suami yang tidak jadi itu,” karena aku mencintai ibuku. (Secretchina/Jhn)