Artritis reumatoid dipicu oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron pada wanita. Dalam penelitian yang diterbitkan di Nature Review, peneliti menunjukkan bahwa dimorfisme seksual telah menjadi faktor penyebab selama bertahun-tahun dan dapat terjadi secara berbeda antara pria dan wanita.

Peneliti Grant Hughes dan Divaker Choubey menjelaskan perbedaan yang “cenderung melibatkan tindakan imunomodulator steroid seks, faktor non-hormon yang dikodekan oleh gen pada kromosom X6 dan Y4, dan masih kurang dipahami fenomena imunologi yang unik terhadap kehamilan”.

Gejala artritis reumatoid sering berkurang pada wanita hamil, karena pada saat itu hormon estrogen dan progesteron sama-sama mencapai puncaknya. Mekanisme yang berkaitan dengan bagaimana hormon estrogen dan progesteron berperan dalam artritis reumatoid telah lama diketahui. Peneliti melihat peran hormon estrogen dan progesteron dalam kondisi autoimun lain seperti lupus dan menyimpulkan bahwa hormon seks wanita adalah “modulator risiko yang dominan pada wanita penderita eritematosus lupus sistemik tetapi tidak pada wanita penderita artritis reumatoid”.

Dr. Natalie E. Azar, seorang asisten profesor klinis di NYU Langone Medical Center, berkomentar, “Peran dimorfisme seksual dalam risiko terjadinya penyakit autoimun sebagian besar dapat dilihat pada lupus, tidak pada artritis rheumatoid. Secara khusus, kami berbicara mengenai kadar estrogen dan progesteron pasca-pubertas. Mekanisme kerja dari risiko ini pada lupus diduga terkait dengan estrogen yang meningkatkan produksi interferon tipe satu serta sel B yang autoreaktif, yang menciptakan antibodi yang menyerang sel tubuh sendiri. “

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kadar estrogen dan progesteron yang tinggi berperan penting untuk menekan artritis reumatoid selama kehamilan.

Wanita tiga kali lebih sering menderita artritis reumatoid dibandingkan dengan pria, dan sering terjadi setelah menopause — di saat ini kadar hormon estrogen dan progesteron biasanya sangat rendah. Di sisi lain, penelitian telah menunjukkan bahwa penggantian hormon dan kontrasepsi oral dikaitkan dengan risiko yang lebih besar untuk menderita artritis reumatoid.

Ahli rheumatologi Dr. Nathan Wei menjelaskan, “Kehamilan maupun menyusui mengurangi keparahan artritis reumatoid. Penderita artritis reumatoid yang hamil sering mengalami kesembuhan secara spontan.”

Selama kehamilan, molekul anti-peradangan juga berperan penting bersamaan dengan perubahan hormon untuk gejala artritis reumatoid lebih lanjut selama periode ini. Sayangnya, terapi estrogen untuk wanita menopause belum terbukti sukses dalam mengurangi gejala artritis reumatoid. Dosis tinggi estrogen yang diberikan pada binatang percobaan telah terbukti memberi hasil terapi yang sukses, tetapi pemberian dosis tinggi estrogen pada wanita mengakibatkan peningkatan risiko kanker payudara disertai dengan komplikasi lain.

Dr. Azur menyimpulkan, “Target terapi yang dirancang sangat baik menggabungkan keseimbangan antara peradangan, kekebalan, autoimunitas, dan autoimunitas terkait steroid seks.”

Hubungan antara hormon seks dan artritis reumatoid telah lama dipelajari, dan estrogen dan progesteron terbukti berkhasiat melindungi supaya tidak menderita artritis reumatoid. Wanita melaporkan bahwa gejala artritis reumatoid meningkatkan selama stadium pasca ovulasi dari siklus menstruasi dan selama kehamilan, tetapi gejala artritis reumatoid memburuk setelah melahirkan dan selama minggu kedua siklus menstruasi.

Seiring dengan waktu, hormon seks wanita menurun, sehingga menyebabkan keparahan gejala artritis reumatoid serta menjelaskan mengapa sebagian besar wanita penderita artritis rheumatoid berusia lebih dari 45 tahun.

Efek terapi penggantian hormon pada artritis reumatoid masih belum dipahami dengan baik, dan walau beberapa peneliti percaya hal ini menguntungkan, ada banyak efek samping dan komplikasi yang terjadi.

Memahami efek samping sebelum mulai diberikan terapi penggantian hormon adalah sangat penting untuk membuat keputusan yang tepat untuk si penderita.(Epochtimes/Vivi)

Share

Video Popular