Menurut pandangan para orang tua, sulit untuk membina kebiasaan baik anak-anak, dan biasanya perlu waktu yang lama. Sebaliknya kebiasaan buruk anak cepat terbentuk hanya dalam sekejab mata. Sebenarnya tidak semuanya begitu, banyak kebiasaan buruk itu terbentuk dari waktu ke waktu, hanya saja tidak Anda sadari, dan tidak tahu, tidak percaya, coba Anda renungkan dan amati tiga kebiasaan buruk berikut ini.

Anak-anak kurang memiliki pandangannya sendiri (selalu mengekor tidak berpendirian)

Ibu berencana membawa putrinya, sebut saja Bunga, jalan-jalan pada akhir pekan, ketika ditanya mau kemana, Bunga ragu-ragu mengatakan : “Terserah.” Kemudian Ibu bertanya lagi pada Bunga, “Nanti malam Bunga mau makan apa ?” “Tidak tahu, Ibu makan apa saya ikut saja, “ jawab Bunga. Pokoknya, tidak peduli apa pun yang ditanyakan, Bunga tidak punya pandangannya sendiri.

Hal ini tentu saja membuat ibu Bunga sangat khawatir, terlintas dalam benaknya apa ada masalah dari sisi psikologis pada Bunga ? Saya memintanya agar memikirkan dengan serius, apakah karena sejak kecil kedua orang tuanya yang selalu menyelesaikan segala keperluannya, lebih sering tidak menanyakan pandangannya, dan meskipun menanyakan pandangannya sendiri juga biasanya orang tua tidak menyetujuinya, hingga akhirnya menyebabkan kesadarannya merasa, ya sudah terserah ayah au ibu maunya gimana, pokonya percuma saja apa pun yang Bunga katakan.

Anak-anak usia 3 sampai 6 tahun merupakan tahapan penting dalam pembentukan dan perkembangan karakter serta berpikir secara mandiri. Jika pada tahap ini, orang tua selalu mengatur (membereskan) segala sesuatu keperluan anak, tidak mendengarkan pandangan anak itu sendiri, maka perlahan tapi pasti akan membuatnya kehilangan pendirian, sikap madiri dan malas untuk berpikir. sehingga kemandirian anak yang sedang berkembang akan sangat buruk, imbasnya akan ia akan selalu menyesali semua yang dilakukannya.

Sebgai orang tua selayaknya memperhatikan dan memupuk kemandirian anak sejak kecil. Ketika ia memiliki kemampuan untuk melakukannya secara mandiri, sebaiknya dengarkan pandangan dan pemikirannya. Berikan dukungan dan kesempatan kepadanya untuk mewujudkan idenya. Ingat, dalam proses ini, jangan lupa berikan mereka dorongan (semangat) dan pujian, agar rasa percaya dirinya semakin matang dan memilki sikap serta pandangannya sendiri.

Anak-anak mengelak tanggungjawab

Jelas-jelas tanpa sengaja telah memecahkan kacamata ayah, dan ini membuat Aming cemas, karena ayah pasti akan menanyakannya, tapi ketika ditanya, Aming tetap bersikeras mengatakan bukan dia yang memecahkannya, malah menuduh ayahnya sendiri yang tidak hati-hati.

Ternyata setiap saat ketika Aming melakukan kesalahan, sang ayah hampir selalu memarahinya dengan ketus, dan menegur Aming dengan nada-nada keras seperti “tidak boleh” atau “jangan” dan sebagainya. Hal ini tentu saja menimbulkan rasa takut yang dalam dan meresap ke batin Aming, ketika terjadi hal seperti ini, Aming pun memilih bersikeras tidak mengakui dan melemparkan tanggung jawab

Memikul tanggung jawab adalah bagian penting dari pembentukan kepribadian yang benar setiap orang. Ketika anak-anak melakukan kesalahan, jangan membabi buta mengomentari hal tersebut dari sisi pandangan orang dewasa, karena hanya akan membuat si anak semakin tidak bertanggung jawab, dan ia akan melemparkan kesalahan itu kepada orang lain begitu berbuat salah.

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, sebaiknya doronglah dia untuk secara inisiatif memikul tanggungjawab, dan sebisa mungkin gunakan nada bahasa beresonansi seperti “saya rasa atau pikir”, “saya berasamamu” atau nada bahasa lainnya untuk membimbing anak-anak secara benar.

Antusias sesaat

Ibu mendaftarkan Lan Lan untuk belajar atau kursus piano, tapi belum juga satu pekan, Lan Lan tidak mau belajar lagi, ia merasa lelah; kemudian ibu kembali mendaftarkan Lan lan kursus lain, tapi baru sebentar Lan lan tidak mau kursus lagi, ia merasa terlalu membosankan. Cukup banyak sudah Ibu Lan lan mendaftarkan putrinya kursus ini dan itu, tapi semangat Lan lan hanya sesaat, bahkan saat membaca beberapa menit, mata Lan lan sudah melirik kiri kanan, tidak bisa fokus.

Sikap orang tua bisa secara langsung memengaruhi konsentrasi anak, seperti contoh pandangan atau pendapat ayah-ibu tidak seragam, misalnya ketika anak-anak menemui kondisi seperti Lan lan, pihak orang tua tidak benar-benar menganalisis faktor semangat anak-anak yang hanya sesaat, tidak begitu antusias. Membiarkan anak-anak mengambil buah semangka membuang buah pir (karena masalah sepele kehilangan hal lain yang lebih penting-sia-sia tidak mendapatkan apa pun), sehingga secara tidak langsung memupuk kebiasaan buruk anak-anak yang plin-plan (ragu-ragu-tidak tegas)

Studi ilmiah menunjukkan bahwa memusatkan perhatian pada sesuatu (minat) anak-anak itu berasal dari bawaan. Ijinkan dan tidak mengganggu rasa ingin tahu anak, tetapi harus belajar mengamati secara tepat dan menemukan minat atau ketertarikan mereka, kemudian tuntun ia melakukan sesuatu yang menarik perhatiannya, meski bermain dengan mainannya sekalipun.

Untuk menjadi sukses atau berhasil harus sedini mungkin, begitu juga dengan kebiasaan buruk, harus disingkirkan sedini mungkin. Sebuah pohon jauh lebih mudah diperbaiki (dibentuk) ketika masih dalam bentuk bibit, karena apabila sudah tumbuh besar sudah sulit dibentuk lagi. Demikian juga dengan pembentukan karakter dan kebiasaan baik anak-anak, sebaiknya dibentuk sedini mungkin. Kepada para orang tua yang memiliki anak-anak coba teliti sejenak apakah anak-anak Anda itu memilkiki tiga kebiasaan seperti tersebut di atas atau mungkin lebih dari itu ? Kalau begitu, sesegera mungkin diperbaiki mulai sekarang. (Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular