Oleh: DR.  Frank Tian, Xie

Lebih dari 20 tahun lalu, suatu ketika penulis berkunjung ke kota Little Rock di negara bagian Arkansas Amerika Serikat untuk menghadiri seminar internasional tentang ilmu astrolitologi dan ilmu astrokimia. Banyak ilmuwan dan peneliti dari AS maupun Eropa menghadiri seminar itu.

Selama seminar, kerap terlihat para ilmuwan Jerman berkumpul dengan antusias membicarakan sesuatu, kadang kala terlontar suara tawa lepas dari mereka. Mereka berkomunikasi dengan bahasa Jerman, ilmuwan lain di samping mereka tidak mengerti bahasa Jerman, tidak bisa ikut bergabung dalam percakapan mereka.

Lalu dengan sedikit kebingungan saya bertanya pada pembimbing saya yang merupakan seorang dosen Amerika keturunan Yahudi, apa yang dibicarakan orang-orang Jerman itu, apa yang begitu lucu ditertawakan dan membuat mereka bisa membahasnya begitu fokus?

Profesor Yahudi yang sedikit mengerti bahasa Jerman itu menjawab, mereka membicarakan bagaimana timnas Jerman baru saja memenangkan sebuah pertandingan sepak bola penting! Dasar orang Jerman! Profesor pembimbing saya sama sekali tidak kagum, tapi menjawab pertanyaan saya itu dengan agak terpaksa.

Orang Amerika tidak hanya mengamati dan belajar dari pengalaman canggih orang Jerman dalam hal ekonomi, industri, ilmiah dan teknologi, bahkan dalam hal politik dan diplomatik pun AS terus menguntit keunggulan kompetisi dunia yang dimiliki Jerman.  Majalah “Foreign Affairs” AS juga pernah menelaah rahasia sukses orang Jerman, dengan harapan agar negara industri terbesar di Eropa ini bisa memberikan hikmah dan pencerahan bagi Amerika.

Riset mendapati bahwa, orang Jerman menganggap keberhasilan ekonomi negara mereka adalah berkat kerja keras pemerintah bersama dengan perusahaan swasta, serta kerjasama dan kekompakan antara pemerintah dengan pihak oposisi Jerman. Pemerintah Jerman, terutama selama masa jabatan mantan PM Gerhard Schröder, telah mendorong serangkaian kebijakan ekonomi. Menariknya adalah, pada 2005 Schröder mengajukan sebuah rencana reformasi kepada Parlemen Jerman yang disebut “Agenda 2010”.

Namun sampai musim gugur 2005 ketika Schröder mempercepat pemilu, ternyata ia justru kalah dan tidak terpilih. Disinilah letak kelebihan pemerintahan demokrasi dengan pemerintahan otoriter. Pesta tidak akan terhenti hanya karena tuan rumah sudah tidak ada.

Setelah Schröder pergi, “Agenda 2010”-nya tetap dipertahankan, dan karena proyek ini memangkas unsur kesejahteraan sosialisme pemerintahan Jerman, memangkas tunjangan bagi kaum pengangguran sehingga merangsang menciptakan lapangan kerja, juga melepaskan belenggu terhadap perusahaan swasta dan bernegosiasi dengan serikat buruh, proyek ini telah berhasil mendongkrak perekonomian Jerman.

Keunggulan produk buatan Jerman terletak pada mereka selalu membuat bagian yang paling mendasar dan paling krusial, jadi mereka tidak pernah menonjolkan kelebihannya, dengan tenang dan diam-diam mereka sudah menguasai industri manufaktur di seluruh dunia.

Kondisi RRT saat ini justru terbalik, belum lagi mampu menciptakan sesuatu, sudah gembar gembor dan menyombongkan diri, dengan mengatakan bahwa “sudah melampaui batas kecanggihan dunia” dan lain-lain.

Orang Jerman sangat low profile, apa adanya, melangkah mantap, sehingga membuat orang lain benar-benar salut. Seperti kata-kata yang paling disukai orang Jerman, “We make the thing that goes inside the thing that goes inside the thing”. Artinya adalah, contohnya sebuah pesawat jet, mungkin pesawat itu buatan perusahaan Boeing di AS, tapi spare part penting di pembangkit tenaga dalam sistem kendalinya adalah buatan Jerman!

Dan perusahaan itu biasanya adalah perusahaan menengah kecil, karena perusahaan menengah kecil dikuasai oleh keluarga atau pribadi, mereka akan memperhatikan pertumbuhan jangka panjang, dan bukan menitik beratkan pada keuntungan jangka pendek. Hal inilah yang sulit dilakukan oleh perusahaan AS atau RRT. Perusahaan baik di AS maupun RRT kebanyakan hanya mengutamakan keuntungan jangka pendek, atau performa bursa sahamnya, maka akan sulit memperhatikan strategi jangka panjang perusahaan.

Industri manufaktur Jerman sangat spesialis di dua bidang, yakni “peralatan mesin” (machine tool) atau “mesin induk”, yang umumnya dikuasai oleh industri menengah kecil. Ini adalah salah satu sektor yang tidak bisa ditinggalkan negara manapun termasuk juga RRT ketika sedang mengembangkan sektor industri manufakturnya.

Meskipun terlihat seolah menyediakan senjata bagi negara lawan, tapi orang Jerman melakukannya sampai begitu detil. Selain itu yang kedua adalah merek otomotif unggulan Jerman yang menyumbangkan 20% dari PDB-nya, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, sampai AUDI, dan Porsche. Apa makna dari kedua hal ini?

Ini berarti orang Jerman yang hebat dan pintar, bisa melakukan dua hal ekstrim, yang satu adalah dari segi mikro, yakni spare part penting di bagian yang penting untuk peralatan yang penting pula. Dan dari segi makro, yakni merek yang langsung berinteraksi dengan para konsumennya dari segi penampilan, tampak luarnya, di saat yang sama menghancurkan kelemahan sekaligus pundi-pundi uang para konsumen di seluruh dunia.

Sektor ekspor Jerman sangat berbeda dengan RRT, mereka menyediakan produk dan kemampuan produksi yang tidak tergantikan oleh negara lain, bahkan sekalipun Jepang tak berdaya dibuatnya. Sedangkan kemampuan produksi pada sektor manufaktur di RRT sangat mudah digantikan oleh negara berkembang lainnya.

Saat ini ekonomi RRT sedang menghadapi kesulitan, yang juga berasal dari penyebab tersebut. Rezim Partai Komunis Tiongkok/PKT mendorong peningkatan produksi, inovasi teknologi, merangsang pendirian bisnis di seantero negeri, juga sebagai upaya keluar dari kesulitan ini. Tapi membandingkan antara RRT dan Jerman, harapan untuk bisa mencapai jalan ini masih sangat tipis.

Sebuah makna penting dari pengalaman Jerman terletak pada satu hal, yakni negara berkembang mana pun seperti RRT maupun India ketika mulai bertumbuh dan berupaya melampauinya, Jerman tetap bisa mempertahankan keunggulannya, tetap menjaga jarak, menjaga kemampuan kompetisi tingkat tingginya.

Sebuah berita di surat kabar “Wall Street Journal” AS ketika menelusuri kisah di balik kesuksesan industri manufaktur Jerman mendapati bahwa, kerjasama antara badan riset swasta maupun pemerintah, atau kerjasama antara institusi pemerintah dengan swasta, adalah tenaga pendorong utama majunya produk industri manufaktur berteknologi tinggi di Jerman.

Sebenarnya, AS juga sedang mempelajari kerjasama seperti ini. Pemerintah Obama telah memohon dana sebesar USD 1 milyar kepada Dewan Kongres, untuk membangun suatu jaringan inovasi manufaktur yang bersifat nasional, guna menghubungkan perusahaan swasta dan perguruan tinggi dengan instansi riset, kemudian bersama-sama mengembangkan teknologi manufaktur yang baru.

Di dalam proyek tersebut terdapat setidaknya 15 bidang kerjasama pemerintah dengan instansi riset swasta, yang dimodali oleh pemerintah. Saat ini telah terbentuk 4 aliansi institusi, termasuk proyek teknologi cetak 3D di negara bagian Ohio.

Cetak biru yang direncanakan oleh Obama ini adalah meniru “Fraunhofer Society” di Jerman, yang merupakan kumpulan institusi riset yang saling terhubung yang didanai oleh pemerintah, mereka adalah kelompok yang berjasa bagi ekspor produk manufaktur berteknologi tinggi dari Jerman. Fraunhofer Society memiliki ribuan proyek teknologi berhak cipta, termasuk format audio MP3 yang kita kenal.

Fraunhofer Society berasal dari nama Joseph von Fraunhofer, yang selain menemukan banyak temuan baru di bidang astronomi, juga berhasil membangun perusahaan pembuat teropong. Sekarang di Fraunhofer Society telah terdapat 67 institusi riset yang sedang beroperasi, mulai dari perhitungan komputer hingga biologi sel, sampai teknik pemrosesan kayu, sangat beraneka ragam. Dan mereka tidak menitikberatkan pada riset fundamental, melainkan riset aplikatif yang dapat memperoleh nilai ekonomi dengan efek yang cepat.

Joseph von Fraunhofer (1787-1826) mendemontrasikan spectrometer ciptaannya kepada 2 koleganya. (internet)
Joseph von Fraunhofer (1787-1826) mendemontrasikan spectrometer ciptaannya kepada 2 koleganya. (internet)
Bagaimana agar industri manufaktur RRT tidak kalah? Belajar dari orang Jerman adalah cara yang bisa ditempuh. Foto adalah seorang pekerja perusahaan Kaeser sedang mengoperasikan mesin poles di jalur produksi mesin kompresor. (Getty Images)
Bagaimana agar industri manufaktur RRT tidak kalah? Belajar dari orang Jerman adalah cara yang bisa ditempuh. Foto adalah seorang pekerja perusahaan Kaeser sedang mengoperasikan mesin poles di jalur produksi mesin kompresor. (Getty Images)

Investasi pemerintah Jerman bagi Fraunhofer Society setiap tahunnya mencapai USD 2,8 milyar atau setara dengan 2/3 dari anggaran institusi tersebut. Selebihnya 1/3 bagian lainnya adalah investasi dari perusahaan swasta. Pengawas institusi riset ini terutama adalah para profesor dari fakultas teknik, mereka memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya, sebanyak 1/3 dari lebih 20.000 orang staf di institusi ini adalah para mahasiswa gelar doktor.

Petinggi perusahaan besar Jerman seperti Porsche dan AUDI banyak yang juga lahir dari institusi ini. Institusi mendorong para karyawannya untuk mendirikan perusahaan baru, dan menjual keluar teknologi yang telah berhasil dikembangkan di institusi ini! Ini adalah sebuah batu magnet sangat besar yang menarik banyak orang-orang jenius.

Struktur karyawan, sumber pendanaan dan cara operasionalnya di institusi ini, terlihat sangat mudah ditiru. Tapi jika dipikirkan dengan seksama, apabila di RRT dikembangkan institusi seperti ini, dikhawatirkan tidak akan bisa efektif dan efisien dan bebas KKN seperti di Jerman.

Tidak ada alasan lain, kembali ke sistem politik dan sosialnya, serta kualitas SDM-nya. Jadi industri manufaktur negara-negara di seluruh dunia, terutama di RRT, jika ingin menang, masih harus menempuh jalan yang sangat sangat jauh, hanya agar tidak kalah pun, masih harus belajar cukup lama dari orang Jerman. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular