- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Etnis Tionghoa Satu-satunya Hadiri Debat Pilpres AS II

Oleh: Wen Wenqing

Pada 9 Oktober lalu debat babak ke dua Pilpres Amerika, Yuan Jinyun (baris depan paling kanan) dari jarak dekat menyaksikan debat antara Trump dan Hillary. (AFP)

Pada minggu (9/10/2016) dalam debat tatap muka babak ke dua Trump vs Hillary, terdapat 40 orang pemilih yang beruntung dapat duduk lebih dekat daripada siapapun, termasuk sang moderator, dengan para kandidat presiden. Di antaranya satu-satunya etnis Tionghoa Yuan Jinyun bahkan duduk di kursi terdekat dengan Trump berada. Sehari sesudahnya dia diwawancara khusus oleh Epoch Times.

Dari jarak dekat merasakan “aura” dua orang kandidat

Yuan Jinyun adalah seorang peneliti di Universitas Saint Louis di Missouri. Dalam acara debat Pilpres yang berbentuk town hall meeting (majelis konstituen) itu dia duduk di baris pertama, berdekatan dengan kursi Trump, “kira-kira hanya berjarak 1 meter”. Disamping itu, dia dapat secara langsung merasakan “aura” ke dua orang kandidat Presiden itu, lantaran mereka bisa bergerak bebas dan acapkali berjalan dan berhenti disisinya.

Manifestasi dua orang calon presiden pada hari tersebut, dia merasa “Trump lebih baik daripada debat sebelumnya”, sedangkan Hillary adalah negarawan yang “berpengalaman”.  Hillary Clinton pada saat menjawab pertanyaan akan berjalan ke depan hadirin yang mengajukan pertanyaan, sementara Trump lebih sering berjalan-jalan di belakangnya. Di dalam debat pilpres ala majelis konstituen itu bahasa tubuh cukup penting, mengenai foto Trump malam itu yang berdiri di belakang Hillary dengan wajah “serius” pada hari berikutnya telah menjadi fokus diskusi di media massa.

Dalam debat Trump pernah secara langsung mengeluhkan pada dua orang moderator bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil, bahkan menyatakan “tiga lawan satu”. Terhadap hal ini Yuan Jinyun merasa “dua orang moderator secara umum masih dapat dikatakan agak adil, seperti ketika baru selesai mempertanyakan sebuah pertanyaan yang tajam (pendapat mengenai pelecehan terhadap perempuan) pada Trump, berikutnya akan menanyakan sebuah pertanyaan yang tajam (e-mail gate) pada Hillary.

Tapi nampaknya, begitu acara dimulai, persyaratan waktu bagi Trump memang dirasakan lebih ketat.” Perasaannya di lokasi acara adalah “aura” Hillary sedikit lebih unggul, namun juga tidak begitu menyolok.

9 Oktober 2016 lalu debat babak ke dua Pilpres Amerika. (AFP) [1]
9 Oktober 2016 lalu debat babak ke dua Pilpres Amerika. (AFP)

Sangat senang menjadi saksi Pilpres bersejarah

Yuan Jinyun menyatakan, ada satu perasaan di lokasi debat adalah, waktu seolah berlalu dengan “sangat cepat”. Namun yang agak mengecewakan dia adalah, dua orang kandidat itu menghabiskan banyak waktu saling menyerang masalah individu masing-masing secara mendetail, namun kurang memadai dalam mendiskusikan konsep-konsep kebijakan, khususnya hampir-hampir tidak membicarakan kebijakan terhadap Tiongkok.

“Debat antara calon presiden AS sudah dilakukan sejak 1960-an, (sasaran debat adalah) didasari konsep demokrasi, agar seluruh rakyat AS mengetahui orang macam apakah calon presiden mereka dan apakah ia memiliki mutu dasar untuk menjabat sebagai Presiden dari AS, apakah dapat memikirkan kepentingan orang Amerika, dan mampu meningkatkan hubungan diplomatik dengan negera-negara lain, sekaligus mencermati nilai-nilai universal,” kata Yuan.

Pasca acara debat II, dia dengan sejujurnya mengakui, ”Saya masih merasa belum ada yang meyakinkan, namun seharusnya tetap akan pergi ke bilik suara.”

Yuan Jinyun di Universitas St. Louis Missouri melakukan penelitian postdoctoral dalam bidang biologi molekuler dan imunologi. Pada 2007 dia datang ke AS sebagai ilmuwan yang berkunjung (visiting scholar). Pada 2014 menjadi WN Amerika. Tahun ini merupakan kali pertama baginya untuk melaksanakan hak pilihnya, juga merupakan partisipasi kali pertama dalam pilpres yang bersejarah ini.

Sebagai praktisi Falun Gong memberikan perhatian pada masalah HAM

40 orang hadirin masing-masing telah menyiapkan dua pertanyaan yang sebelumnya telah diserahkan pada penyelenggara, moderatorlah yang memilih topik pertanyaan untuk diajukan kepada kandidat.

Sayang sekali waktunya sangat mepet, Yuan Jinyun tidak sempat lagi mengajukan pertanyaan secara langsung, pertanyaan pertama yang dipersiapkannya adalah, RRT adalah mitra dagang terbesar AS, dan AS telah mengimpor banyak produk murah dari RRT, dengan tidak mengesampingkan terdapat produk hasil kerja paksa dari camp kerja paksa yang melanggar HAM, dia ingin menanyakan pada mereka setelah menjabat nanti akan mengambil langkah-langkah apakah?

Selain itu dia juga ingin bertanya pada Trump dan Hillary, keduanya toh pernah membuat kesalahan, setelah terpilih nanti bagaimana cara memperbaikinya yang diinginkan.

Mengenai mengapa begitu peduli terhadap masalah produk kerja paksa, dia mengatakan, bahwa dia dan suami adalah praktisi Falun Gong sejak di daratan Tiongkok, sang suami karena keyakinannya pernah mengalami penganiayaan berat di Tiongkok, ketika ditahan di pusat penahanan pernah dipaksa untuk melakukan kerja paksa.

“Untung sekali kami berhasil datang ke AS, namun di RRT masih terdapat banyak sekali para praktisi Falun Gong, penganut agama dan para disiden yang masih ditindas. Negara AS didirikan berazaskan HAM dan kebebasan, saya kira sebagai Presiden AS, mempunyai tanggung jawab untuk memperhatikan masalah hak asasi manusia di RRT,” kata Yuan Jinyun.

Bagaimana menjadi salah satu dari 40 orang yang beruntung

Tentang bagaimana dirinya dapat menjadi salah satu dari 40 orang yang beruntung, Yuan Jinyun menjelaskan, “Pada malam hari tanggal 29 September saya menerima telpon dari Gallup (Lembaga Polling US), menanyakan apakah saya siap untuk memilih siapa, saya katakan belum memutuskan, maka saya ditanya apakah bersedia untuk menghadiri debat calon presiden selama sehari, saya menyetujuinya.”

Kemudian diketahui bahwa 40 peserta tersebut dipilih secara acak oleh Gallup dari daftar penduduk di St Louis yang “masih belum memutuskan untuk memilih siapa”.

Yuan Jinyun mengatakan, Gallup juga memintanya untuk tidak memberitahukan pada media massa tentang berita terpilihnya untuk menghadiri debat presiden, dan merilisnya pada media sosial. Selain itu harus menyerahkan Social Security Number untuk dilakukan pemeriksaan latar belakang dan lain-lain. (pur/whs/rmat)