Peneliti di Universitas George Washington, AS, mengumpulkan data dari sampel debu rumah tangga di seluruh Amerika Serikat dan menemukan 45 bahan kimia beracun terdapat di dalam banyak produk yang sering digunakan, seperti lantai vinil, produk perawatan dan pembersih pribadi, bahan bangunan, dan furnitur.

Penelitian yang berjudul “Konsumen Memproduksi Bahan Kimia di Dalam Debu Rumah: Penelitian meta-analisis (merangkum hasil penelitian secara kuantitatif) di Amerika Serikat,” diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 14 September 2016 lalu.

Penelitian ini mengidentifikasi sepuluh bahan kimia paling beracun dan terdapat di dalam 90 persen sampel debu rumah. Bahan kimia yang paling beracun yang sering ditemukan di dalam debu adalah dietilhexil ftalat.

Dietilhexil ftalat sering digunakan untuk membuat plastik supaya lebih fleksibel; digunakan dalam produk seperti sikat gigi dan kemasan makanan. Dietilhexil ftalat dan bahan kimia lainnya di dalam golongan yang sama, yaitu ftalat, dapat mengganggu hormon dan berdampak buruk terhadap IQ anak dan menyebabkan masalah pernapasan. Dietilhexil ftalat ditemukan di dalam 100 persen sampel.

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam debu adalah agen penyebab kanker, yaitu tris(1,3-dikloro-2-propil) fosfat [TDCIPP], digunakan untuk menghambat rambatan api namun tidak tahan api (flame retardant) pada furnitur, produk bayi, dan barang lainnya.

Juga ditemukan bahan kimia lainnya pada telepon genggam, kotak pizza, dan berbagai produk lainnya. Masalah kesehatan terkait dengan bahan kimia ini adalah bervariasi, dari masalah kekurangan sistem kekebalan tubuh sampai masalah pencernaan.

Untuk menghindari masalah kesehatan yang disebabkan oleh debu beracun, peneliti menyarankan untuk sering mencuci tangan dengan sabun biasa (sabun tanpa aroma atau tidak mengandung antibakteri) dan air, mengurangi debu rumah dengan alat penyedot debu yang dilengkapi dengan saringan HEPA (99,97% efektif untuk menghilangkan partikel debu 0,3 mikron dari udara), lantai rumah sering dipel, dan menggunakan produk yang lebih aman.(Epochtimes/Vivi)

Share

Video Popular