Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terdapat batasan dalam rentang hidup manusia, sehingga sulit untuk diperpanjang tanpa semacam terobosan perbaikan bagi semua permasalahan yang berkaitan dengan usia.

Rekor untuk orang tertua di dunia adalah 122 tahun dan sangat tipis kemungkinan untuk mengalahkan rekor itu di masa mendatang, menurut sebuah analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nature.

“Tampaknya sangat sulit atau bahkan mustahil untuk menembus batas usia manusia akibat faktor kompleksitas dari proses penuaan,” ujar salah seorang peneliti, Jan Vijg, ahli genetika di Albert Einstein College of Medicine di New York, AS, dalam sebuah email.

Harapan hidup di banyak negara memang telah meningkat secara dramatis karena perbaikan dalam perawatan medis dan sanitasi selama abad terakhir, dan usia maksimal kematian juga kian meningkat, sehingga menyebabkan sebagian orang percaya bahwa tidak ada batasan berapa lama seseorang bisa bertahan hidup.

Dalam studi terbaru, para peneliti menganalisis data kematian dari database global. Mereka menemukan bahwa sementara ada kemajuan dalam mengurangi kematian di antara kelompok anak-anak saat masa persalinan dan laju peningkatan yang lebih lambat bagi yang telah berusia sangat tua, lebih dari 100 tahun.

Selanjutnya mereka meneliti bagaimana para manusia tertua ketika mereka meninggal. Pemegang rekor tertua adalah Jeanne Calment dari Perancis, yang hidup sampai 122 tahun. Sejak kematiannya pada 1997, belum ada yang memecahkan rekornya.

Para peneliti menghitung kemungkinan seseorang dapat mencapai usia 125 tahun kurang dari 1 : 10.000. Mereka berpikir bahwa rentang kehidupan manusia masih memiliki kemungkinan di atas 115 tahun.

Beberapa spesialis penuaan mengatakan bahwa penelitian ini tidak memperhitungkan kemajuan penelitian yang telah dibuat dalam memperpanjang rentang kehidupan yang kini sedang dilakukan terhadap kesehatan hewan tertentu termasuk tikus, cacing, dan lalat melalui manipulasi genetik dan berbagai teknik lainnya. Tujuan akhirnya adalah untuk menemukan perawatan yang mungkin dapat memperlambat proses penuaan pada manusia dan menjaga mereka agar tetap sehat lebih lama.

“Kami sangat mampu memperpanjang masa hidup berbagai jenis hewan. Saya berpikir bahwa hal ini pun semestinya dapat diterapkan pada manusia,” kata David Sinclair, seorang ahli genetika di Harvard Medical School dan seorang juru bicara American Federation For Aging Research.

S. Jay Olshansky, seorang peneliti umur panjang di University of Illinois di Chicago, AS, mengatakan bahwa masih harus dilihat lagi berapa banyak rentang hidup yang lebih dapat ditarik dengan teknologi.

“Jika kita berhasil melakukannya, maka batasan saat ini kemungkinan akan berhasil kita pecahkan. Namun sampai seberapa jauh hal itu masih tergantung pada terobosan yang akan dilakukan,” katanya dalam sebuah email.

Studi tentang umur panjang telah menemukan bahwa pilihan gaya hidup berperan lebih besar daripada genetika dan merupakan yang paling ampuh dalam menunda penyakit dan kecacatan sampai akhir hayat. Namun di antara supercentenarian, yakni orang yang hidup sampai berusia 110 tahun atau lebih, gen merupakan faktor kunci.

“Dibanding mencari pil antipenuaan, kita seharusnya lebih fokus pada pola makan yang lebih baik dan berolahraga untuk tetap sehat di usia senja,” tegas Dr. Thomas Perls, profesor geriatri di Boston University yang memimpin New England Centenarian Study. (Epochtimes/Osc/Yant)

Share

Video Popular