Oleh: Ming Shu-ge

Adakah awan di tepi tata surya? Beberapa waktu lalu, NASA merilis hasil studi terbaru terkait Pluto. Menurut NASA bahwa Pluto, planet kesembilan di tata surya yang terjauh jaraknya dari Bumi yang dulunya “dibuang” kini kembali di teliti, karena diduga mengandung awan. Menurut ilmuwan, planet paling jauh di tepi tata surya ini kini semakin misterius.

Informasi yang dirilis NASA pada 18 Oktober lalu menyebutkan, bahwa bukti menunjukkan besar kemungkinan Pluto memiliki awan biru yang sangat mirip dengan bumi, demikian dilansir dari Space.com, Rabu, (19/10/2016).

Jika data pengamatan New Horizons tidak meleset, para ilmuwan akan mengubah pandangan mereka terhadap iklim Pluto, dan untuk sementara ini, ilmuwan belum bisa memastikan lebih lanjut, karena lapisan atmosfer di Pluto sangat tipis dan samar-samar tidak jelas.

Jika memang ada awan, ini menunjukkan bahwa atmosfer Pluto relatif tebal.

“Kami perhatikan banyak bentuk kabut tebal dengan kuantitas lebih dari 20,” jelas ilmuan.

Dalam pertemuannya di 2016 American Astronomical Society’s Division of Planetary Science, pemimpin misi New Horizons, Alan Stern mengatakan, “Kabut-kabut ini menjulur lebih dari 500.000 kaki atau lebih dari 200 km di ketinggian angkasa.”

Citra dari New Horizons menunjukkan karakteristik atmosfer Pluto memiliki awan。(NASA/JHUAPL/SwRI)
Citra dari New Horizons menunjukkan karakteristik atmosfer Pluto memiliki awan。(NASA/JHUAPL/SwRI)
Ilustrasi sabuk asteroid New Horizons di tepi tata surya. Gumpalan cahaya putih di sisi kiri gambar atas adalah Pluto。(NASA/JHUAPL/SwRI)
Ilustrasi sabuk asteroid New Horizons di tepi tata surya. Gumpalan cahaya putih di sisi kiri gambar atas adalah Pluto。(NASA/JHUAPL/SwRI)

Sejauh ini para ilmuwan belum membahas bagaimana awan bisa terbentuk di Pluto. Mereka cenderung mendiskusikan apa komposisi awan di Pluto, yang telah diketahui bahwa awan tersebut terdiri dari nitrogen, metana, asetilena, etilena dan etana.

“Kami tidak melihat lapisan atau gumpalan awan, hanya melihat karakteristik awan yang masing-masing berpencar,” kata Stern dalam konferensi akademisnya.

Menurut Stern jika Pluto benar-benar memiliki awan juga bukan awan seperti di bumi. Awan di Pluto terutama terbentuk dari nitrogen, dan mengandung sejumlah kecil asetilena, etana, metana dan etilena.

Berbagai warna dalam foto di atas menunjukkan Pluto memiliki geografi dan sifat iklim yang sangat kompleks.(NASA/JHUAPL/SwRI)
Berbagai warna dalam foto di atas menunjukkan Pluto memiliki geografi dan sifat iklim yang sangat kompleks.(NASA/JHUAPL/SwRI)
Gunung bersalju di kawasan Cthulhu Pluto.(NASA/JHUAPL/SwRI)
Gunung bersalju di kawasan Cthulhu Pluto.(NASA/JHUAPL/SwRI)

Juli 2015 lalu, wahana antariksa New Horizons merampungkan penjelajahan Pluto dalam jarak dekat 21.000 km. Sejak itu, ilmuwan semakin memahami dengan geologi dan atmosfer Pluto yang kompleks ini, dan planet yang jauh ini layak untuk ditelusuri lebih lanjut.

Pluto memiliki pegunungan yang diselimuti salju, di ketinggian beberapa kilometer terdapat gunung salju yang dipenuhi dengan air dan es, memiliki cuaca yang bersalju, bahkan langit biru dan sebagainya.

Pluto terletak di bagian “Sabuk Kuiper”di tepi tata surya. Ketika data observasi menunjukkan Pluto memiliki langit biru, Sterns dengan terkejut mengatakan, “Siapa yang akan berpikir adanya sebuah planet biru di sabuk Kuiper? Planet biru itu tampak begitu cemerlang dan mempesona.” (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular