Di saat masyarakat internasional sedang prihatin tentang bagaimana untuk lebih meningkatkan sanksi kepada pihak berwenang Korea Utara atas tindakan provokasi nuklir yang terus menerus dilakukan mereka, media Korea Selatan  memberitakan bahwa pejabat dari AS dan Korut diam-diam mengadakan pertemuan informal di Malaysia pada Jumat (21/10/2016).

Media Korea Selatan ‘Joongang Ilbo’ memberitakan, Dirjen. Departemen Luar Negeri Korea Utara untuk urusan AS, Han Song-ryol pada hari yang sama telah bertemu dengan mantan Utusan Khusus AS untuk Korea Utara Robert Gallucci, mantan Direktur Intelijen Nasional AS (DNI), Direktur Kontra Pemekaran Pusat Nasional (NCPC), Joseph DeTrani di sebuah hotel di Kuala Lumpur.

Ada analis yang mengatakan, sesungguhnya pembicaraan tidak langsung antara AS – Korut sudah terjadi  dalam waktu antara sebelum Dewan Keamanan PBB memperberat sanksi setelah Korut mengadakan uji coba senjata nuklir kelima pada 9 September dan menjelang pemilu presiden AS pada 8 November mendatang.

Laporan menyebutkan bahwa Robert Gallucci adalah negosiator AS yang ditunjuk sebagai kepala delegasi dalam pertemuan ‘Krisis nuklir Korut’ pada 1994 di Jenewa dan menandatangani perjanjian kerangka kerja nuklir dengan Korea Utara.  Sedangkan  Joseph DeTrani pada 2005 pernah diangkat sebagai utusan khusus AS untuk bernogosiasi dengan Korut selama perundingan 6 negara yang menghasilkan ‘Pernyataan Bersama 19 September’. Meskipun mereka sekarang sudah tidak menjabat, tetapi mereka telah memainkan peran penting dalam menangani isu nuklir antara AS – Korut.

Stasiun TV Jepang NHK baru-baru ini memberitakan bahwa Dirjen. Departemen Luar Negeri Korea Utara untuk urusan AS, Han Song-ryol pada 18 Oktober telah terbang dari Pyongyang menuju Bandara Internasional Capital Beijing, kemudian langsung dijemput oleh mobil kedutaan Korut meninggalkan bandara dengan tanpa menjawab pertanyaan sejumlah wartawan yang datang ‘menghadang’.

Menurut sumber diplomatik yang relevan bahwa setelah Lee Yong-ho  dipromosikan sebagai Menlu Korut, Han Song-ryol juga dinaikkan jabatannya menjadi Wakil Menlu, setelah itu ia berangkat menuju Kuala Lumpur untuk menghadiri pertemuan informal. Oleh karena itu dialog tidak resmi ini kini menjadi perhatian dunia.

Namun Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menegaskan, “Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dialog tersebut merupakan dialog sipil yang tidak memiliki kaitan dengan pemerintah AS”.

Dan pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan, “Meskipun AS tetap bersikeras pada sikapnya untuk memberikan tekanan penuh kepada Korut, dan secara terbuka menyatakan bahwa AS tidak akan terlibat dalam dialog, tetapi tampaknya mereka juga tidak ingin membiarkan kesempatan untuk berdialog langsung secara pribadi terlewatkan”.

Sedangkan pada Kamis (20/10/2016), Menhan Korea Selatan telah bertemu dengan Menhan AS, Ash Carter dalam acara Rapat Konsultatif Keamanan AS – Korea Selatan (SCM) yang ke 48 di Washington DC yang kemudian menghasilkan penegasan berupa AS masih tetap berkomitmen untuk menyediakan bantuan keamanan bila Korea Selatan terancam.

Dalam rapat tersebut menhan kedua negara membahas soal ancaman nuklir Korut yang terjadi di Semenanjung, bagaimana meningkatkan efektivitas dari mencegah ancaman sebagimana yang dijanjikan AS dan isu tentang rencana penempatan jangka panjang senjata strategis THAAD di Korea Selatan.

Menurut laporan bahwa pembahasan menhan kedua negara termasuk untuk mempertimbangkan  penempatan senjata strategis AS di Korea Selatan, termasuk pesawat tempur B-18, B-2 dan pesawat pembom jarak jauh B-52.

Dilihat dari kedua pertemuan yang diikuti AS baik secara formal dan informal (Washington dan Kuala Lumpur), sejumlah analis beranggapan bahwa AS tampaknya cukup ‘mengambil pusing’ dengan permasalahan di Semenanjung Korea yang mana diyakini memiliki tujuan untuk meningkatkan pengaruhnya di kawasan itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular