Jika Anda merawat atau mengenal seorang penderita demensia, si penderita mungkin bertanya “Apa yang kita lakukan hari ini?”, “Siapa kamu?”, atau “Kapan kita akan pulang?” Dan yang sering membuat kita putus asa, si penderita lupa jawabannya dengan cepat dan bertanya lagi … dan lagi … dan lagi.

Siapapun bila ditanya pertanyaan yang sama berulang kali pada akhirnya akan merespons dengan tidak sabar, yang memberi dampak buruk untuk penderita demensia, atau meningkatkan stres si perawat.

Bayangkan Anda mempunyai suami yang berada pada tahap awal demensia, dan setiap hari ia berulang kali bertanya pada Anda “Apa yang kita lakukan hari ini?”

Istri: Kita memiliki janji dengan dokter pada jam 13.30.

Suami: (sepuluh menit kemudian) Hei, apa yang kita lakukan hari ini?

Istri: Aku sudah memberitahu kamu, kita memiliki janji dengan dokter pada jam 13.30.

Suami: (lima menit kemudian) apa yang kita lakukan hari ini?

Istri: (merasa frustrasi , dan sedikit menaikkan nada suaranya) Bukankah baru saja saya memberitahu kamu? Kita memiliki janji dengan dokter pada jam 13.30!

Suami: (merasa kesal mendengar nada suara istrinya) Bagaimana saya tahu? Saya tidak ingat apa yang kamu katakan.

Istri akan merasa bersalah karena marah dengan suaminya. Istri tahu bahwa bukan salah suaminya tetapi karena istri merasa sangat frustasi harus menjawab berulang kali untuk pertanyaan yang sama berulang kali.

Bayangkan seorang ibu yang menderita demensia stadium sedang sampai berat, dirawat oleh putrinya. Kadang di malam hari, ibu bertanya kepada putrinya “Kapan kita akan pulang?”

Putri: Kita berada di rumah, ibu.

Ibu: Saya ingin pulang sekarang, kapan kita akan pulang?

Putri: Ibu, kita sudah berada di rumah. Lihatlah, ada foto ibu dan ayah di dinding.

Ibu: (seperti sedang bingung dan mulai gelisah) saya tidak tahu bagaimana saya sampai di rumah. Saya lelah sekarang; Saya siap untuk pulang. Kapan kita akan pulang?

Putri: (menjadi frustrasi) Ibu, saya tidak tahu bagaimana caranya membuat ibu mengerti. Lihat, di sini terdapat semua barang kepunyaan ibu (menunjuk sekitar ruangan). Ibu sudah berada di rumah sekarang!

Ibu: Jangan berteriak padaku, bawa saya pulang sekarang! Saya tidak ingin berada di sini!

Pertama, penting untuk tetap tenang. Jika Anda marah, penderita demensia juga akan marah. Ingatlah bahwa penderita demensia tidak bermaksud mengajukan pertanyaan untuk mengganggu Anda, tetapi karena ia menderita kerusakan pada otak.

Cobalah untuk memahami bahwa ada kebutuhan yang membuat penderita demensia berulang kali bertanya pertanyaan yang sama. Apakah ia cemas, khawatir, bingung, lapar, lelah?

Anda harus memberi respons dengan cara memahami kenyataan si penderita saat ini dan kerangka pikirannya. Misalnya, jika seorang istri percaya bahwa suaminya yang telah lama meninggal itu masih hidup, maka bertanyalah kepada si istri “apa pekerjaan suami Anda?” yang akan cenderung menenangkan si istri daripada Anda mengingatkannya bahwa sang suami telah meninggal.

Adalah baik untuk menggunakan lingkungan mendukung jawaban Anda. Misalnya, untuk contoh pertama di atas, istri dapat membeli kalender, jam, dan papan tulis, dan mengatur barang-barang tersebut di dapur yang akan dilihat oleh suaminya setiap pagi. Tulis janji di kalender, dan perbarui hari, tanggal, dan jadwal untuk hari tersebut di papan tulis.

Ketika suami bertanya apa yang mereka lakukan hari ini, istri dapat menunjuk ke papan tulis. Memeriksa papan tulis menjadi bagian dari rutinitas suami di pagi hari. Meskipun penderita demensia mengalami masalah memori, ia sering masih dapat belajar kebiasaan baru yang dilakukan berulang-ulang. Walau kadang suami masih bertanya apa yang ia lakukan untuk hari tersebut, istri dengan tenang mengarahkan suami untuk melihat papan tulis.

Untuk contoh kedua di atas, putri harus mencoba menempatkan dirinya di posisi si ibu — ibunya tidak mengakui rumah tersebut adalah rumahnya. Mungkin saja si ibu teringat “rumah” masa kecilnya.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah memberi gangguan. Ketika penderita demensia bertanya kapan ia akan pulang, tawarkan secangkir teh kepadanya. Jika ia masih merasa khawatir, beritahu kapan ia akan pulang dan membawanya berkeliling dengan kendaraan. Berkendara di sekitar lingkungan rumah sambil menunjukkan bangunan yang dikenal oleh penderita demensia. Sambil berkendara menuju rumah, katakana kepadanya bahwa ia sudah hampir sampai rumah.

Mengulangi pertanyaan yang sama sering merupakan tanda bahwa penderita demensia sedang memberitahu kita sesuatu atau ia memerlukan kepastian. Kadang dengan hanya menjawab pertanyaannya saja sudah cukup, dan di lain waktu kita perlu untuk melangkah masuk ke dunianya untuk sementara waktu.( Epochtimes/Claire M O’Connor/Vivi)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular