Seorang penulis asing mengunjungi 235 orang manula dan bertanya, di sisa masa hidup mereka, apa yang paling ditakuti? Di luar dugaan, mayoritas manula tidak takut pada kematian, melainkan menyesal seumur hidupnya tidak pernah benar-benar meraih kebahagiaan!

Seorang ibu tua berusia 84 tahun yang rambutnya disemir hitam dengan bagian akar rambut masih berwarna putih, sangat ironis dengan kerutan yang memenuhi wajahnya. Saat datang ke klinik membawa secarik kertas yang di atasnya tertulis penuh dengan kondisi penyakitnya. Tulisan tangannya sangat indah, goresan penanya masih kuat, huruf yang ditulis tidak bergetar, dari kekuatan yang terpancar itu, kondisi kesehatan tubuhnya sharusnya masih cukup baik.

Keningnya berkerut dan berkata, “Dokter, para dokter medis Barat mengatakan saya mengalami osteoporosis parah, hanya berjalan sebentar pinggang terasa ngilu, lutut juga sakit, saya sudah pernah disuntik asam hyaluronik, sudah makan banyak penambah kalsium dan suplemen tulang, tapi masih sama saja, bagaimana ini?”

Saya menjawab, “Ibu tidak menderita osteoporosis, tulang yang telah digunakan selama 80 tahun, hanya telah menua! Ini adalah kondisi fisik lumrah, bukan penyakit. Tuhan meminta Ibu untuk tidak lagi lari ke sana ke mari, berjalanlah perlahan, nikmati orang dan pemandangan di sekitar Anda.” Tapi ibu tua itu masih tak puas dengan jawaban saya.

Dia bertanya lagi, “Dokter, penglihatan saya sangat kabur, sulit sekali membaca tulisan! Bagaimana ini?”

Saya katakan, “Ibu, begitulah hidup manula, tidak perlu melihat begitu jelas. Tuhan meminta Ibu untuk melihat ‘Buku Langit’ yang tak berhuruf, melihat alam semesta, jangan lewatkan bunga bermekaran di musim semi, dan jangan lewatkan bulan purnama di musim gugur! Lihatlah ke dalam diri sendiri, bertanyalah pada diri sendiri, seumur hidup ini apakah sudah mengejar kebahagiaan yang sesungguhnya? Waktu yang diberikan Tuhan pada Ibu sudah tidak banyak!” Dia masih saja tidak puas dengan jawaban saya.

Otaknya sangat baik, dia mampu menjelaskan waktu terjadinya penyakitnya, tempat, penyebabnya, dan proses perkembangan penyakitnya dengan sangat rinci, dengan sangat teratur. Pola pikirnya sangat jelas, setengah jam menceritakan tentang penyakitnya masih belum juga selesai, dan sudah memakan waktu diagnosa pasien berikutnya yang sudah membuat janji.

Lalu saya pun berkata padanya, “Ibu, hidup Ibu sungguh melelahkan! Ibu sangat memerhatikan setiap hal dan detil pada tubuh Ibu, dan setelah begitu banyak yang Ibu ceritakan, bukankah Ibu masih baik-baik saja. Bukti penyakit yang Ibu katakan tadi, adalah fenomena alami pada perubahan fisiologi hidup manusia, hadapilah realita, terimalah perubahan yang terjadi pada tubuh Anda, terimalah untuk menjadi tua! Tubuh Anda telah bekerja keras selama 84 tahun, dan Ibu masih saja terus mengeluhkannya, organ-organ tubuh Ibu yang mendengar keluhan ini pasti sangat bersedih!” Ibu tua itu menatap saya dengan wajah memelas, terlihat sorot mata yang menyalahkan saya karena tidak membantu mengobatinya!

Kondisi neurosis lansia ini yang dibutuhkan adalah obat batin. Saya memberitahunya, “Bisakah Anda sedikit ikhlas? Karena keikhlasan jiwa pun merupakan suatu tingkatan yang sangat menakjubkan! Tahukah Ibu? Filsuf Laozi (pendiri Taoisme, abad ke-6 SM) menyadari kegunaan yang efektif dari keikhlasan jiwa, yang disebutnya ‘tak berniat pikiran (Wu Wei)’; filsuf Zhuangzi (369SM – 286SM) juga menemukan fungsi efektif dari ceroboh, yang disebutnya ‘santai dengan tulus’; filsuf Konfusius juga mendapati ceroboh itu berguna, dan disebutnya ‘kesederhanaan (moderat)’; Sang Tathagata (Buddha) menyadari fungsi efektif dari keikhlasan jiwa, dan menyebutnya ‘melupakan ego/diri sendiri’. Jika Ibu juga menyadari gunanya keikhlasan jiwa, maka ibu pun akan merasa sangat bahagia sampai lupa segalanya, dan akan bisa menikmati keindahan santainya Anda sekarang! Sastrawan Bai Juyi (772-846) di masa tuanya baru menyadari hal ini, dan menulis sebuah puisi tentangnya: Apa yang perlu diperebutkan di atas sungut seekor siput, menitipkan hidup di tengah batu dan bara api, biar kaya biar miskin tetap bahagia, bagi yang tidak mau tertawa adalah orang bodoh!” Ibu tua itu akhirnya tertawa dan tidak lagi menanyakan kondisi penyakitnya itu.

Ada sebait puisi yang sangat sesuai: “Orang-orang pada bilang santai (dengan tulus) itu baik, tapi siapa yang rela membuat dirinya santai di saat memungkinkan, tidak bisa santai bila bukan waktunya santai, santai itu apakah berarti harus menunggu orang yang menganggur?”

Lalu saya pun memberinya terapi akupunktur, membantunya menyelaraskan aliran Qi (baca: chi / energi vital) dan peredaran darah, memperkuat hawa inti ditubuhnya. Menusuk titik akupunktur Bai Hui, Si Shen Cong, He Gu, Nei Guan, Qu Chi, Feng Shi, Yang Lao, Jing Ming, San Yin Jiao, Zu Shan Li, Yang Ling Quan, Guan Yuan, Qi Hai, dan Da Zhong. Setelah selesai terapi, semangat ibu tua itu pun kembali berkobar dan pergi dengan wajah penuh senyuman. (Epochtimes/Wen Pinrong/Sud)

Wen Pinrong adalah seorang Shinshe.

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular