Oleh Lin Xinjian

Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri AS Urusan Asia – Pasifik Daniel Russel di Manila mengatakan bahwa ucapan dan garis politik luar negeri Presiden Filipina Rodrigo Duterte membuat pemerintah asing dan komunitas bisnis merasa cemas, namun demikian pemerintah AS akan tetap menjadi sekutu kuat Filipina.

Daniel R. Russel dan Asisten Sekretaris Departemen Pertahanan AS Urusan Keamanan Asia – Pasifik Kelly Magsamen saat ini sedang mengunjungi Manila untuk meminta klarifikasi tentang kebijakan politik luar negeri Filipina terhadap AS.

Duterte telah berulang kali mengeluarkan pernyataan yang tidak ramah terhadap AS semenjak ia diangkat sebagai kepala negara Filipina. Selain menghina Duta Besar AS untuk Filipina Philip Goldberg juga Presiden Obama. Beberapa hari lalu ia di Beijing juga mengatakan akan berpisah jalan dengan AS, tetapi sekembalinya ke Manila ia pun buru-buru menjelaskan bahwa berpisah jalan tidak berarti memutus hubungan diplomatik dengan AS.

Setelah menemui Menlu Filipina Perfecto Yasay JR, Rusell kepada media mengatakan bahwa serangkaian ucapan Duterte dan garis politik luar negeri Filipina yang kurang terarah telah menimbulkan kecemasan bagi beberapa negara termasuk AS, bahkan sejumlah masyarakat Filipina yang berada di luar negeri serta komunitas bisnis mereka.

“Ini bukanlah sebuah garis politik yang positif,”  kata Russel.

Ia menambahkan bahwa sebelum dirinya tiba di Manila, Menly AS John Kerry telah berbica dengan Menlu Filipina lewat sambungan telepon. Namun Russel menolak untuk mengungkapkan isi pembicaraan mereka.

Sikap anti AS Rodrigo Duterte kian kentara setelah Obama mengecam operasi anti narkoba Filipina. Untuk itu Russel mengatakan bahwa AS mendukung pembersihan narkoba Filipina, tetapi dalam prosesnya perlu disesuaikan dengan hukum yang berlaku serta penegakan hak asasi manusia.

Meskipun hubungan Filipina – AS dalam masa Duterte berkuasa memasuki ketidakpastian, namun Russel menagaskan bahwa AS tetap adalah mitra terpercaya dan sekutu kuat Filipina.

“Saya mencintai Filipina karena jalinan hubungan yang lama dan mendalam. Saya percaya bahwa masyarakat Filipina dan AS akan sama-sama berharap untuk mempertahankan hubungan itu selama-lamanya,” kata Russel.

Garis politik luar negeri Duterte adalah ‘Mendekati Tiongkok, menjauhi AS’, tetapi hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga penelitian nasional Filipina “Social Weather Station’ pada September menemukan bahwa masyarakat Filipina paling percaya AS dan paling tidak percaya Tiongkok. (Central News Agency/sinatra/rmat)

Share

Video Popular