Oleh: Zhang Bing-kai

Ilmuwan membuat peta penyebaran hidrogen paling rinci mengenai galaksi Bimasakti untuk mengungkap misteri Bima Sakti.

Menggunakan teleskop radio terbesar di dunia dari proyek HI4PI, tim ilmuwan dari Australia dan Jerman berhasil membuat pemetaan hidrogen paling terperinci mengenai Galaksi Bimasakti. Peta tersebut memadukan data yang dikoleksi oleh dua teleskop radio selama 10 tahun terakhir.

Naomi McClure-Griffiths, profesor dari Australian National University mengatakan : “Pada dasarnya kami berhasil membuat peta hidrogen yang sangat kompleks terkait galaksi Bimasakti.”

Studi ini juga mengungkap bahwa awan gas yang sangat kecil, ternyata dapat membantu proses pembentukan bintang di Bimasakti selama miliaran tahun. data-data terperinci dari peta tersebut  dapat membantu mengungkap misteri galaksi kita dan galaksi tetangga, ujar profesor Naomi McClure-Griffiths.

Penelitian ini menggunakan teleskop radio Parkes ukuran 64 meter dan teleskop radio Max Planck ukuran 100 meter di Effelsberg, Jerman, sehingga berhasil membuat peta hidrogen netral di galaksi Bima Sakti.

Teleskop radio Effelsberg di institut Max-Planck, Jerman. (Wikipedia)
Teleskop radio Effelsberg di institut Max-Planck, Jerman. (Wikipedia)

Pakar astronomi Professor Lister Staveley-Smith dari International Centre for Radio Astronomy Research (ICRAR) yang berbasis di Perth, menjelaskan pemetaan-pemetaan lainnya memang terperinci namun terbatas pada area terbatas dari galaksi itu. Pemetaan kali ini merupakan yang pertama dengan kualitas yang mencakup seluruh jagad raya.

“Yang kami dapatkan adalah peta hidrogen di jagad raya yang tak bisa dilihat oleh teleskop biasa, teleskop optik biasa, kita bisa melihat gas, melihat medium antarbitang, melihat zat-zat yang nantinya akan membentuk bintang-bintang,” jelas Professor Staveley-Smith.

“Penting untuk memahami struktur gas di galaksi kita serta jumlah gas yang ada di galaksi kita ini, dinamikanya, agar kita bisa mempelajari evolusi terdahulu yang terjadi di Bimasakti serta kemungkinan evolusinya di masa depan,” katanya menambahkan.

Hasil studi terkait dipublikasikan dalam “Astronomy and Astrophysics.” (Epochtimes/joni/rmat)

 

Share

Video Popular