Oleh: Qin Yufei

Pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok/PKT Xi Jinping sepertinya bersiap-siap melecehkan skenario yang sudah ditentukan tentang suksesi kekuasaan partai komunis dan berniat menunda penetapan suksesor hingga Kongres Partai tahun depan.

Hal itu mengacaukan kalangan petinggi partai dan memicu timbulnya berbagai dugaan oleh pihak luar. Surat kabar “New York Times” Amerika Serikat yang mengutip pernyataan para pakar dan kalangan politikus mengatakan, menolak suksesor yang telah ditentukan akan memberi waktu lebih lama bagi Xi Jinping untuk mengorbitkan calon yang disukainya. Namun harga yang harus dibayar adalah mungkin akan terjadi pergesekan pada saat perebutan kekuasaan tingkat tinggi.

Ada tanda-tanda yang menunjukkan Xi Jinping berniat untuk bertindak di luar kebiasaan dengan tidak menunjuk suksesornya di awal masa jabatannya yang kedua kali. Ini semakin menambah faktor tidak pasti bagi nasib para kader dari berbagai haluan pada reshuffle kekuasaan kali ini.

Seorang pejabat tinggi mengatakan pada surat kabar “New York Times” bahwa, “Ini adalah masalah yang sangat sensitif. Sebelum calon yang disukainya bisa mengakumulasikan lebih banyak pengalaman dan mengalami lebih banyak cobaan, saya rasa Xi Jinping tidak akan memutuskan suksesornya.”

Tiga orang pejabat tinggi lainnya pun memberitahu surat kabar “New York Times”, Xi Jinping sepertinya berniat menunda pemilihan sang calon suksesor.

Kendala suksesor menjadi ujian atas ambisi dan kekuasaan Xi Jinping. Kapan dan bagaimana Xi akan memilih suksesornya dan siapa yang akan dipilih, ini akan menjadi dasar penilaian pihak luar terhadap seberapa besar Xi Jinping mampu mengubah aturan kepemimpinan kolektif PKT.

Sistem suksesor PKT terbentuk di masa akhir kepemimpinan Mao Zedong (1976-an), dengan tujuan untuk memastikan peralihan kekuasaan yang stabil dan dapat diprediksi. Segala upaya Xi Jinping untuk mengubah sistem ini akan meningkatkan pamornya, tapi mungkin juga akan merusak keseimbangan yang unik ini.

Memprediksi peralihan kekuasaan pemimpin PKT selalu membahayakan. Perundingan di kalangan pejabat tinggi dilakukan secara rahasia. Keputusan krusial selalu datang pada detik-detik terakhir. Munculnya seorang Xi Jinping sendiri telah menggulingkan prakiraan oleh pihak luar.

Xi Jinping Buka Kemungkinan Masa Depan Politik yang Luas

Profesor David Lampton dari Advance Institute of International Studies di Johns Hopkins University pada surat kabar “New York Times” berkata, “Kekuatan yang dipancarkan oleh Xi Jinping telah membuka (kemungkinan) masa depan politik yang luas, dan setiap macam kemungkinan itu ada risikonya. Inti dari realita kebijakan ini adalah, AS dan presiden berikutnya harus bersiap-siap berurusan dengan kemungkinan politik Tiongkok yang luas.”

Drama ini akan dimulai dengan meriah sejak 25 Oktober. Sebanyak 200 orang anggota Komisi Pusat PKT akan menghadiri rapat di Beijing. Rapat tersebut mungkin akan menetapkan agenda rapat untuk Kongres ke-19 mendatang. Kongres ke-19 akan digelar akhir tahun depan, untuk mengesahkan jajaran kabinet baru.

Menurut aturan tak tertulis yang “7 Naik 8 Turun (yang berusia 67 naik tingkat yang berusia 68 turun peringkat)”, 5 dari 7 orang Anggota Tetap Komite Politbiro Pusat harus turun dari jabatan karena faktor usia. Hanya Xi Jinping dan Li Keqiang yang bisa tetap tinggal. Pada Politbiro sendiri, sebanyak 25 orang anggota Politbiro itu akan segera pensiun.

Sejak tahun 90-an, masa jabatan pemimpin PKT selama dua periode telah menjadi konvensi. Pada awal masa jabatan kedua, suksesor biasanya telah ditentukan. Surat kabar “New York Times” memberitakan, pemilihan suksesor menuntut kesepakatan di kalangan petinggi, dan membutuhkan persetujuan dari mantan pemimpin negara dua periode sebelumnya.

Tapi gerakan anti korupsi Xi Jinping dan penangkapan para tokoh berkuasa telah mengguncang peraturan kepemimpinan kolektif PKT ini. Jika kalangan petinggi PKT diibaratkan jajaran direksi pada suatu perusahaan, maka Xi Jinping adalah seorang direksi selebritis, yang memiliki hak veto untuk menolak rencana penetapan suksesornya.

Xi Jinping Adalah Orang yang Paling Tidak Bisa Dibelenggu dengan Aturan Tak Resmi

Sun Wanguo, seorang peneliti sejarah PKT dari University of Monash, Australia, pada surat kabar “New York Times” menjelaskan, “Sejak mulai menjabat Xi Jinping terus memerankan sosok orang kuat politik, ia adalah orang yang paling tidak mungkin dibelenggu dengan aturan-aturan tidak resmi.”

Pakar mengatakan, menolak pemilihan suksesor akan membuat para calon yang disukai Xi Jinping untuk membuktikan kemampuan dan kesetiaan mereka. Tapi menurut kepala Berlin Mercator China Institute, Sebastian, Heilmann, menolak pemilihan suksesornya mungkin akan menyebabkan gesekan serius.

Namun ada juga pakar lainnya yang mengatakan, risiko konflik internal kaum petinggi dengan tuntutan para pejabat tinggi lainnya, mungkin akan memaksa Xi Jinping untuk menunjuk suksesornya tahun depan. Sebelum Xi Jinping menentukan tim barunya sampai akhir tahun depan, seluruh dunia mungkin tidak akan tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Sejumlah rumor yang beredar mengatakan, Xi Jinping berniat memperpanjang usia pensiun para Anggota Tetap Komite Politbiro Pusat, agar Wang Qishan, selaku Sekjend Komisi Inspeksi Kedisiplinan Pusat, bisa tetap menjabat sebagai Anggota Tetap Komite Politbiro Pusat. Selama ini Wang Qishan adalah teman lama Xi Jinping, yang banyak membantu Xi Jinping menghalau semua lawan-lawan politiknya.

Mungkin topik pembicaraan yang ramai diperdebatkan adalah, Xi Jinping berniat untuk terus berkuasa setelah berakhirnya periode jabatan kedua ini. Meskipun konstitusi menuntutnya untuk pensiun setelah menjabat dua kali masa jabatan kepala negara, tapi bagi jabatan Sekretaris Jendral yang lebih berkuasa, tidak ada pembatasan tersebut. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular