Untuk membina anak- anak berbakat harus memahami dulu secara jelas definisi anak berbakat itu seperti apa. Dulu sosok anak berbakat itu sebagian besar diukur berdasarkan IQ, tapi sekarang lebih ditekankan pada EQ (kecerdasan emosional). Karena untuk mengukur seorang anak apakah berbakat melalui tes IQ itu tidak komperehensif sama seperti sekolah yang mengukur siswanya berdasarkan nilai.

Orang tua harus lebih fokus pada proses belajar anak-anak, menyemangati mereka bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, tidak hanya memerhatikan apa saja kecerdasan yang dimiliki anak, apabila tetap berpedoman seperti ini tidak akan bisa menghasilkan anak berbakat, sebaliknya justru lebih cepat mematikan kreativitas anak itu sendiri. Penulis lepas Jenny Marchal membagikan lima tips mutlak yang diperlukan untuk membina anak Gifted (berbakat) di laman “Huffington Post”.

1. Merespon anak secara terbuka

Dari respon dan berbagai prilaku Anda terhadap Anak-anak, mereka memutuskan tentang bagaimana mengatasi sesuatu dalam lingkup pengalamannya. Misalnya, saat Anda merespon dengan sikap dingin atau respon yang terbatas akan membuat anak Anda takut untuk mencoba sesuatu yang baru, sehingga menyebabkan mereka mengambil sikap hati-hati secara berlebihan, dan imbasnya membatasi pengalaman pribadi nereka.

Sebaliknya, jika menyemangati anak-anak dengan pola terbuka mengajukan pertanyaan, dapat memberi mereka ruang untuk mempertimbangkan tentang tindakan atau prilaku mereka dan pemikiran orang-orang di sekitar. Jika anak-anak berbuat salah, maka biarkan mereka merenungkan bagaiman dampak dari prilaku mereka itu terhadap Anda atau orang lain yang terkait, sehingga Anda bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengubah pandangan mereka terhadap segala sesuatunya.

Anak yang cerdas tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan melihat sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda, sehingga dengan demikian dapat mengembangkan kognisi mereka.

2. Jangan membuat terlalu banyak aturan keluarga di rumah

Coba pikirkan lagi tentang aturan yang Anda tetapkan, apakah perlu. Menurut penelitian, bahwa terlalu banyaknya aturan keluarga di rumah akan memengaruhi kreativitas anak. Secara rata-rata, keluarga yang menerapkan 6 aturan keluarga di rumah, prestasi anak-anaknya di sekolah biasa-biasa saja tidak menonjol.

Sementara itu, beberapa studi lainnya menemukan bahwa para arsitek paling kreatif di Amerika, orang tua mereka mendorong mereka untuk mengatur sendiri kode etik mereka, tidak memaksa mereka harus mengikuti aturan keluarga. Ditilik dari pandangan ini, anak-anak bisa mengembangkan pandangan tentang benar dan salah dari berbagai sumber daya, tidak harus sepenuhnya diperoleh dari orang tua. Dengan demikian justru dapat membantu mereka mengembangkan kepribadian yang lebih kreatif dan intelektual.

Terlalu banyaknya aturan keluarga dapat membatasi pengembangan kreativitas dan kecerdasan anak itu secara menyeluruh. Jangan terlalu banyak menetapkan aturan untuk anak-anak, biarkan mereka memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan segala sesuatunya secara bebas terbuka, dan ruang yang bebas untuk beraktivitas, sebaiknya hentikan mengatur segalanya dan terus menerus mengoreksi mereka. Tentu saja, perlu beberapa norma atau aturan untuk anak-anak, cukup dengan sejumlah kecil aturan akan bermanfaat dalam pertumbuhan intelektual jangka panjang mereka.

3. Biarkan anak-anak belajar bergaul dengan kejenuhan

Jenuh atau bosan biasanya ditafsirkan sebagai hal yang negatif. Meskipun Anda harus semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan untuk merangsang kreativitas anak-anak, tapi sebenarnya sesuatu yang membosankan itu bukanlah hal yang buruk, bahkan ada kalanya kejenuhan juga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir. Berpikir tenang dapat menambah beberapa pola pikir yang tidak sama, memberi ruang pada otak untuk mengembangkan kreativitras. Jangan khawatir tentang kurangnya belajar anak, lantas mencari-cari sesuatu untuk dikerjakan mereka. Kejenuhan itu sendiri juga merupakan masa-masa untuk membiarkan otak si anak mengembangkan kreativitasnya.

4. Perhatikan keteladanan (sikap/prilaku) orang tua

Keteladanan orang tua merupakan cara yang penting dalam mengembangkan kebiasaan dan kognitif anak-anak. Jika anak-anak melihat Anda sedang membaca, menulis, atau melakukan sesuatu yang kreatif, akan membimbing mereka untuk meniru, sehingga bisa belajar dengan lebih baik dalam proses peniruan itu (sikap/prilaku orang tua).

Menceritakan kepada anak tentang hasil kerja keras Anda juga sangat penting. Tekankan dan puji tentang kerja keras, bukan lebih banyak menekankan pada hasil akhir. Sama seperti ulasan di atas sebelumnya, termasuk orang tua dan anak, jika hanya menitikberatkan pada kinerja kecerdasan, hal ini akan mengirim suatu pesan yang jelas, mengira bahwa pintar sekolah itu barulah sosok anak yang baik. Jika dalam jangka panjang pola pikir tetap seperti ini niscaya akan mengembangkan sosok anak yang rapuh dan defensive.

5. Semangati anak berani mengambil risiko dan mencoba bangkit kembali lagi bila gagal

Meskipun sifat bawaan kita lebih cenderung melindungi anak-anak agar jangan sampai mengalami kekecewaan/kegagalan, tapi dengan membiarkan anak Anda menempuh risiko dan mencoba bangkit dari keterpurukan itu dapat menempa ketrampilan hidup dasar mereka melalui pembelajaran/pengalaman sejak kecil. Jika tidak pernah merasakan pengalaman dini dari kegagalan itu, tidak tertutup kemungkinan anak itu akan menjadi rendah diri, tidak suka berinovasi dan menurunkan minat belajar. Takut bisa dikatakan menjadi sentimen yang utama dalam kehidupan kita, yang mana sentimen ini secara ekstrim menghambat keputusan penting yang kita ambil Jika kita mendorong anak-anak merasakan kegagalan semasa kanak-kanak, maka kelak setelah dewasa mereka tidak akan merasakan begitu banyak ketakutan lagi.

Sesuatu yang menyebabkan si anak menghadapi kegagalan sebenarnya bukanlah hal yang buruk, tapi merupakan ketrampilan hidup yang sangat penting, dimana keterampilan ini dapat membantu mereka belajar dalam kehidupan yang serba tidak menentu, dan membuat keputusan yang bijak. Apabila berlebihan melindungi anak-anak agar tidak terpuruk, hal ini hanya akan membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengenal dan beradaptasi dengan dunia ini. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular