Oleh: Zhou Xiaohui

Senin (24/10/2016), Sidang Pleno VI Kongres Nasional XVIII Partai Komunis Tiongkok/PKT digelar di Beijing. Surat kabar “Sing Pao” Hongkong yang selama ini mengkritik anggota Komite Politbiro Pusat PKT Zhang Dejiang mengacaukan Hongkong dan provinsi Guangdong serta Kongres Rakyat Nasional/ KRN, sama sekali tidak meredakan serangannya.

Pada hari yang sama berita utama surat kabar tersebut memuat berita kaliber berat berjudul “Dalang dari KRN,  Zhang Dejiang Ditindak Karena Konspirasi Dengan Ketua Eksekutif Hongkong”, sebagai serangan lanjutan terhadap Zhang Dejiang. Ini jelas tidak lazim.

Artikel menyebutkan, di tengah upaya pemerintah pusat memberantas korupsi, badan Kongres Rakyat Nasional yang dikepalai oleh Zhang Dejiang tidak hanya terlibat korupsi serius. Hal yang lebih membuat geram adalah dalang kejahatan ini ternyata mewakili kongres rakyat nasional, ‘payung perlindungan’ ini telah membantunya menindas rakyat, mengendalikan pemerintahan, dan merampas sumber daya negara.

Sebagai orang ketiga pada Komite Tetap Politbiro Pusat, Zhang Dejiang seharusnya tunduk terhadap aturan dan disiplin politik, tapi karena adanya konspirasi mengakibatkan korupsi meluas, jual beli jabatan terus terjadi bahkan sampai merambah Hongkong. Artikel memaparkan sejumlah tindak kejahatan ketua kongres rakyat ini, termasuk kasus suap anggota Kongres Rakyat Provinsi Liaoning pada akhir Agustus tahun ini.

Artikel juga mengutip ungkapan tim inspeksi pusat disaat melakukan inspeksi khusus, yang acapkali mengutarakan “Masalah tampak di bawah permukaan, akarnya terletak di atas”, mengisyaratkan masalah yang muncul di Kongres Rakyat Nasional terkait erat dengan Zhang Dejiang, yang artinya akarnya terletak di pihak Zhang Dejiang. Jika memang masalah terletak pada akar ini, maka dalam penyelesaiannya, Zhang Dejiang dipastikan akan menjadi sasaran serangan Xi Jinping.

Artikel menyebutkan, Sidang Paripurna ke-6 memrioritaskan pembersihan pemerintahan dan dipastikan menargetkan Kongres Rakyat Nasional, karena kongres ini tidak hanya “telah kehilangan pengawasan”, tapi juga “terus membuat kegaduhan”.

Yang patut diperhatikan adalah, untuk kali pertama “Sing Pao” mengemukakan bahwa Zhang Dejiang telah mengacaukan situasi, sebelumnya ketika mengkritik Liu Yunshan hanya menyebutkan Liu Yunshan mengacau dengan memanfaatkan sistem propaganda.

Dikatakan Zhang Dejiang membuat kekacauan, faktanya tidak sedikit pun direkayasa. Sejak Xi Jinping menjabat tahun 2012 lalu, Zhang Dejiang telah menggerakkan Kongres Rakyat Nasional untuk menyerang Xi Jinping.

Awal 2013, Xi Jinping berusaha menghapus sistem kamp kerja paksa, Zhang Dejiang bersandar pada Kongres Rakyat Nasional untuk secara sengaja terus mengulur keputusan ini.

Juni 2014, di bawah kendali Zhang Dejiang dan Liu Yunshan, “Kantor Administratif Nasional” menerbitkan buku putih berjudul “Hong Kong White Book” yang isinya mengubah definisi ‘satu negara dua pemerintahan’ yang sempat memicu keresahan dan reaksi keras di Hongkong. Waktu itu, surat kabar Hongkong “Global Times” yang didukung kubu Jiang Zemin berkali-kali memuat artikel yang memprovokasi warga Hongkong, menyebabkan 510.000 orang turun ke jalan berunjuk rasa.

31 Agustus, Kongres Rakyat Nasional meloloskan kerangka perubahan administratif politik Hongkong, di antaranya Komisi Pencalonan tetap 1200 orang sesuai dengan Komisi Pemilu, perbandingan empat wilayah tidak berubah, lalu mengagalkan Pemilu Sejati di Hongkong, yang kemudian memicu unjuk rasa “Occupy Central Movement”.

September 2014, wakil ketua urusan internal Kongres Rakyat Nasional bernama Li Shenming yang merupakan bawahan Zhang Dejiang memuat artikel yang menyebutkan, Kongres Rakyat Nasional bisa menurunkan jabatan “kepala negara”, ini secara terang-terangan menantang Xi Jinping.

April 2015, Komisi Tetap Kongres Rakyat menghalangi revisi undang-undang sebanyak 26 pasal yang diajukan oleh Kementerian Dalam Negeri, menghambat pemberantasan korupsi untuk “memukul harimau”.

Juni 2015, setelah Badan Legislatif Hongkong menolak rancangan undang-undang pemilu langsung ketua wilayah eksekutif Hongkong, Zhang Dejiang masih bersikukuh tidak mau mengalah, mempertahanan prinsip yang bertentangan dengan ‘satu negara dua pemeritahan’ yang terus menerus disampaikan oleh Xi Jinping.

Belum lama ini, ada berita menyebutkan Zhang Dejiang sedang mempersiapkan penyebaran buku putih Hongkong, surat kabar “Sing Pao” mengkritiknya sebagai aksi “menciptakan bencana baru”.

Zhang Dejiang yang seperti itu tidak diragukan lagi merupakan batu sandungan bagi reformasi mendalam yang dicanangkan Xi Jinping untuk mewujudkan “the China Dream”. 21 Oktober lalu, redaktur Financial News Network bernama Hu Shuli menulis artikel berjudul “Pemberantasan Korupsi Tetap Bertahan Karena Transparan”, isinya menyebutkan ‘paruh periode pertama’ adalah mengatasi gejala membuka jalan untuk mengatasi akar masalah, dan pada ‘paruh periode kedua’ akan dititik beratkan membangun sistem untuk menghimpun kekuatan, dan hanya dengan membangun sistem yang baik korupsi baru bisa dicegah dari sumbernya.

Dalam proses membangun sistem yang didorong oleh Xi Jinping ini, Kongres Rakyat Nasional yang dikuasai oleh Zhang Dejiang dan kurang pengawasan adalah hambatan yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu Xi Jinping harus meringkus Zhang Dejiang untuk menyingkirkan hambatan tersebut.

Dalam hal ini, artikel di “Sing Pao” telah menyatakan secara jelas, dan di bagian akhir dengan mengambil contoh kasus Zhou Yongkang, Bo Xilai, Xu Caihou, Guo Boxiong, dan Ling Jihua yang telah diciduk dalam aksi Xi Jinping, ditegaskan bahwa aksi pemberantasan korupsi ‘tidak mengenal batas, menyeluruh, tanpa toleransi’, dan menciduk Zhang Dejiang selaku anggota Dewan Tetap Politbiro Pusat bukan mustahil.

Seolah tidak ingin pembaca melewatkan sesuatu, artikel “Sing Bao” menutup artikel: “Pembaca yang menyoroti perkembangan situasi di Tiongkok, harus memperhatikan bagaimana Sidang Paripurna kali ini akan membersihkan partai secara menyeluruh”. Ini diyakini sebagai isyarat sangat mungkin terkait dengan Zhang Dejiang dan Liu Yunshan.

Sidang paripurna kali ini, petinggi PKT utamanya akan menetapkan “sejumlah aturan terkait karir politik” internal partai, serta merevisi “aturan pengawasan” internal partai, karena dipandang sebagai kedisiplinan partai yang paling ketat dalam sejarah, dan terutama bertujuan untuk mengatur perilaku para pejabat tinggi partai maupun pejabat yang telah pensiun.

Ini berarti membuat mantra belenggu baru bagi Zhang Dejiang dan Liu Yunshan yang terus membuat kekacauan. Jika mereka tidak mengalami apa pun dalam Sidang Pleno VI, maka setelah sidang usai, begitu mantra ini diucapkan, sedikit saja perilaku mereka bermasalah, menciduk mereka pun sudah kuat secara hukum. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular