Sebuah laporan baru yang dirilis World Wide Fund for Nature-WWF pada 27 Oktober 2016 lalu menyebutkan, bahwa jika tidak ada tindakan awal, lebih dari dua-pertiga dari satwa liar dunia mungkin akan lenyap dalam satu dekade ke depan.

Menurut The Living Planet Index (LPI) terbaru yang dirilis setiap dua tahun dari World Wide Fund for Nature-WWF, bahwa sejak 1970, jumlah ikan, mamalia, burung dan reptil di dunia telah menurun 58%.

Jika data tersebut akurat, itu berarti bahwa satwa liar global menghilang dengan kecepatan 2% per tahun.

Laporan tersebut disusun berdasarkan pemantauan terhadap 3,706 spesies yang berbeda di belahan dunia. Spesies-spesies ini termasuk 14.152 populasi spesies vertebrata (termasuk ikan, mamalia dan burung).

“Dampak ini mutlak disebabkan oleh ulah manusia, kini kita hidup dalam kepunahan massal keenam, sebelumnya hanya ada lima kepunahan, sekarang dipastikan kita memasuki kepunahan keenam (dalam kepunahan massal), demikian kata Martin Taylor, ilmuwan dari World Wide Fund for Nature-WWF.

Dalam laporan tersebut, laju kepunahan hewan yang cepat itu dikaitkan dengan hilangnya habitat mereka, hal ini akibat dari eksploitasi sumber daya yang berlebihan, polusi dan perubahan iklim.

Sementara itu, lahan basah, danau dan sungai mengalami dampak yang paling parah sejak 1970, jumlah spesies yang hidup di daerah-daerah ini menurun 81%, rata-rata turun 4% per tahun.

Ancaman bagi masa depan umat manusia

Di antara spesies yang disebutkan dalam laporan tersebut termasuk gajah, jumlahnya telah menurun seperlima dalam satu dekade terakhir ini, selain itu juga termasuk spesies ikan hiu dan Rajiformes (ikan pari), sepertiga dari spesies ini menghadapi kepunahan akibat penangkapan ekstrim.

Menurut penuturan Taylor, kematian hewan dan ikan secara global ini bukan hanya ancaman bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman bagi umat manusia.

“Pemerintah (harus) mengambil tindakan untuk menghentikan kematian lambat spesies-spesies terkait dari muka Bumi, karena tidak hanya berdampak pada spesies satwa liar, tapi juga berdampak pada kita, dan sebagai salah satu spesies di Bumi, apa yang kita lakukan terhadap bumi ini merupakan sebuah ancaman bagi masa depan kita sendiri. Kita hanya memiliki satu planet, jika kita mengacaukannya, maka kita pun akan mati,” ujar Taylor.

Menurut Taylor demi mencegah kepunahan massal keenam, pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk mengurangi pencemaran dan pengrusakan habitat.

“Banyak masyarakat bisa melakukannya, meskipun mereka tidak kaya atau tinggal di negara-negara kaya, misalnya menggunakan sumber energi terbarukan, mencari produk berkelanjutan yang bersertifikat, terutama bicarakan dengan anggota parlemen Anda, katakan Anda ingin memperkuat undang-undang lingkungan,” ujarnya.

Polusi plastik

Menurut statistik ilmuwan, polusi plastik telah melonjak drastis, ada sekitar delapan juta ton plastik masuk ke dalam lingkungan laut setiap tahun. Dan seiring dengan kelipatan produksi bahan dalam dua dekade ke depan, angka ini akan meningkat.

Di sejumlah besar negara yang terkena dampak terburuknya, seperti Tiongkok dan Filipina, penduduk setempat kurang memiliki infrastruktur yang memadai untuk menangani sampah plastik secara layak. Dalam kondisi tertentu, pembakaran plastik dapat melepaskan gas berbahaya yang berhubungan dengan kanker.

Selain itu, ada juga yang khawatir, mengonsumsi plastik yang berbahaya melalui ikan-ikan yang terkontaminasi.  Sebuah survei terbaru yang dirilis dalam “Journal of Science Report”menyebutkan, bahwa seperempat ikan di pasar-pasar Indonesia dan negara bagian California, Amerika mengandung bahan plastik. (Secretchina/joni/rmat)

Share

Video Popular