Berawal dari menjenguk seorang teman yang menderita demensia, Linda Maguire , seorang musisi internasional yang terkenal dan memiliki karier cemerlang selama 23 tahun, mencoba memainkan musik kepada para pasien demensia untuk menghibur mereka. Respon positif yang tampak pada pasien sungguh mengejutkannya. Hal ini mendorongnya untuk mendalami terapi musik pada kesehatan manusia, dan ia berhasil meraih dua gelar master. (Artikel ini lanjutan dari artikel sebelumnya)

Inilah yang membuat saya sangat tertarik pada kekuatan musik terhadap pasien demensia , dalam 10 tahun saya berhasil meraih gelar master dalam ilmu saraf. Saya menyadari bahwa otak akan menanggapi musik. Saya belajar bagaimana Anda bisa menggunakan musik sebagai alat presisi untuk mengubah dan mentransformasi berbagai bagian otak yang berbeda.

Jadi, saya mulai melakukan terapi pada pasien demensia seminggu sekali. Saya berkomitmen setiap hari Jumat untuk mengunjungi tempat ini dan bermain piano serta menyanyikan lagu-lagu, sambil mengamati bagaimana reaksi mereka, apa yang menampakkan hasil dan apa yang tidak.

Saya menyadari bahwa mereka tidak suka potongan lagu yang bersifat emosional, seperti karya Strauss atau Brahms, atau bahkan Beethoven. Mereka menyukai komposisi berulang di kunci terang dalam nada yang cemerlang dari Haydn, Mozart, Bach, dan Clementi, yang benar-benar bersih, klasik, komposisi yang sangat terstruktur.

Jadi saya mengembangkan enam program satu jam di mana Anda memainkan not-not tertentu, dan Anda hanya menyelami ke dalam jiwa mereka, serta menghentikan masalah. Sebagian besar musik yang dimainkan tidak pernah mereka dengar sebelumnya, dan mereka menyukainya.

Epoch Times: Bagaimana bernyanyi dapat mengobati penyakit Alzheimer?

Linda: Musik dapat memberikan pasien Alzheimer sensasi kekuatan dan memiliki. Mereka tidak bisa mengikuti kehidupan. Mereka tidak bisa mengikuti percakapan. Mereka tidak ingat orang. Mereka tersesat. Mereka bingung. Mereka telah kehilangan memori kerja. Tetapi karena bagian dari otak yang menginternalisasi musik dan penandaan khusus pada irama masih sangat sehat pada pasien Alzheimer, maka mereka dapat mengikuti musik, dan mengingatnya, dan itulah yang membuat mereka merasa terkontrol. Mereka pendengar yang sangat hebat.

Kekuatan bernyanyi dapat memberikan postur tubuh yang lebih baik, oksigenasi yang lebih baik, Anda dapat merangsang jaringan. Jantung dan paru-paru secara harfiah bergetar… Bernyanyi berpotensi dapat menargetkan thalamus dan kelenjar pituitary Anda. Anda dapat membuatnya bergetar. [Menyanyikan dengan nada tinggi] Saya merasakan sedikit pusing dan bingung ketika itu terjadi. Anda dapat menargetkan resonansi ketika Anda bernyanyi.

Ketika suatu neurotransmiter seperti dopamin ditembak keluar dari terminal sinaptik di dalam otak, yang membuat gerakan, dan suara menciptakan gerakan. Secara harfiah menggetarkan terminal itu. Seperti merontokkan buah-buah apel dari pohonnya.

ET: Ketika saya menonton video seputar protokol yang Anda gunakan dalam penelitian, saya melihat seluruh tubuh Anda terlibat dalam menyenandungkan suara, bukan hanya mulut saja. Ada penekanan kuat pada postur dan napas dalam teknik vokal Anda?

Linda: Ini seperangkat prinsip yang saya sebut BOAST (akronim dari Buoyancy, Oxygenation, Activation, Stimulus, Transformation). B adalah daya apung, alam semesta sedang memperluas dan kita menjadi bagian darinya. Kita tidak boleh menyerah pada gravitasi. Kita menunggangi gravitasi planet ini. Yang mengangkat tulang rusuk paru-paru sehingga kita bisa mengambil napas yang sehat. O adalah oksigenasi. Otak sangat serakah terhadap kebutuhan oksigen. Jika Anda mempelajari kecemasan dan kematian otak Alzheimer, Anda akan menemukan hipoksia [kekurangan oksigen], jadi selalu menjaga terpenuhinya kebutuhan oksigen merupakan hal yang benar-benar penting. A adalah aktivasi: mendengarkan musik, mencari lagu, tersenyum pada teman Anda, menarik tulang pipi. S adalah stimulus (rangsangan). Ada banyak rangsangan dalam suara yang Anda hasilkan. Hal ini memungkinkan untuk T, yakni transformasi.

Lagipula, tujuan video tersebut bukan untuk menghibur. Itu bukan sebuah pertunjukan. Namun untuk para ilmuwan agar mereproduksi apa yang saya lakukan. Inilah yang saya lakukan. Begitulah cara saya mendapatkan peningkatan pemahaman. Bagaimana saya bekerja dengan mereka. Jika saya memainkan musik tersebut akan menjadi permainan yang berbeda sepenuhnya, karena saya mempunyai penonton yang berbeda sepenuhnya.

ET: Dalam beberapa tahun terakhir kita telah melihat penelitian yang menunjukkan bahwa musik dapat mengobati sejumlah masalah yang berbeda. Tapi sangat sedikit dari studi ini (2 persen) yang mengatakan apa jenis musik yang mereka gunakan. Penelitian ini sungguh unik dimana Anda sangat spesifik tentang musik yang Anda pilih. Mengapa ini penting?

Linda: Nah, itu perlu direproduksi untuk satu hal. Jika Anda mengatakan musik dapat membantu mengurangi kecemasan dan Anda tidak memberitahu kepada siapa pun jenis musik yang digunakan, maka Anda tidak bisa pergi keluar sana, dan melakukannya sendiri, dan mengatakan mereka benar atau mereka salah.

Jadi itu penting bagi peneliti, juga untuk perawat, dan pasien sendiri.

Harus ada beberapa metode untuk itu. Anda tidak bisa begitu saja membiarkan si pasien memilih barangnya sendiri. Jika Anda berbicara tentang nutrisi seperti peneliti lain yang berbicara tentang musik dalam studi ini, mereka akan mengatakan, “Kami membiarkan mereka memilih makanannya sendiri, atau perawat mereka mengatakan kepada kami apa makanan yang dulu mereka suka, atau apa yang merilekkan mereka.” Tapi tak seorang pun adalah ahli gizi.

Saya suka makan Doritos, keripik kentang, dan saus bawang. Saya menyukainya, tapi itu bukan yang saya butuhkan. Itu bukan tujuan ke mana saya ingin pergi. Itu bukan arah yang diinginkan dokter saya.

Saya seorang ahli gizi musik. Jadi jika seorang pasien menyukai musik yang setara makanan Doritos, maka saya akan memberi mereka wortel dan saus cocolan pedas.

ET: Sebagai ahli gizi musik, kualitas apa yang Anda cari ketika memilih alunan musik untuk pasien?

Linda: Pertama-tama, ada perbedaan aspek dari apa yang saya lakukan dan bagaimana hal itu diterapkan. Pada bagian resepnya benar-benar berdasarkan pada jadwal dan hasil yang diinginkan, sedangkan aplikasi pengerjaan yang sebenarnya adalah bernyanyi atau memainkan alat musik, ini pengalaman sensorik yang luar biasa.

Sasaran saya dalam meracik program musik adalah menargetkan fisiologisnya. Pertama-tama, detak jantung. Jika tujuan Anda adalah merelaksasi pendengar, maka iramanya harus lebih lambat dari denyut jantung, dan jantung akan segera meresponnya.

Tubuh dan otak kita memiliki hubungan dengan denyut jantung sendiri pada sebelum kelahiran. Ketika Anda diperkenalkan resonansi terorganisir yang berkelanjutan, seperti dalam musik beserta tempo, ritme dan irama, maka ia akan berbicara pada detak jantungnya di tingkat bawah sadar. Anda akan mendapatkan suasana hati, perubahan kognitif dan perilaku, karena denyut jantung mencoba untuk menyelaraskannya.

Pada dasarnya, Anda ingin menaikkan atau menurunkan denyut jantung, dan ketika Anda menaikkan atau menurunkan tekanan darah, Anda memengaruhi respon kortisol dan immunoglobulin. Ada juga hormon dan neurotransmiter yang dapat Anda pengaruhi. Jika Anda ingin pasien bergerak, maka mainkan perkusi (suatu irama yang kuat).

Saya mengamati jadwal kegiatan seseorang, jadi jika Anda mempunyai pasien Alzheimer laki-laki yang menjadi agresif selama waktu mandi pukul 15 : 00 , kemudian lima menit sebelum pukul 15 : 00 Anda ingin memainkan musik seperti karya Claude Debussy, Clair De Lune. Ini sangat merelaksasi. Hampir seperti akan tertidur. Ini melepaskan keagresifan itu. Anda memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, dan merelaksasi fisiologis. Jadi pada saat jam 15 : 00 itu, hampir tidak mungkin bagi pasien untuk menjadi agresif, karena Anda menumbangkan parameter fisiologis. Itu salah satu contoh.

Ketika Anda memandang penyakit skizofrenia dan autisme, keduanya memiliki sistem disfungsional motor, sebanyak 40 – 50 persen dari bagian serebelum (otak kecil yang ada di bagian belakang, berfungsi mengoordinasikan gerakan) tidak berfungsi pada kelompok penderita ini. Jadi Anda tidak mungkin memberi mereka musik rhythm. Mereka tidak bisa memprosesnya seperti kebanyakan orang.

Pada penderita Alzheimer, korteks motor mereka bekerja dengan baik. Jadi Anda bisa memasukkan banyak irama. Instrumen yang saya suka mainkan pada pasien Alzheimer adalah piano, karena itu benar-benar berirama, instrumen perkusi. Ia juga memiliki jangkauan yang sangat luas.

Jika Anda menginginkan hasil yang sama pada penderita skizofrenia dan autisme, maka dapat Anda mainkan mereka alunan gitar klasik, suara biola yang hangat dan lembut, cello tinggi, dan suara klarinet yang hangat. Anda ingin memengaruhi arena eksekutif yang bekerja dengan baik. Gitar menjadikan lagu jauh lebih lembut, detak berirama non-perkusif, sedangkan instrumen solo sering kali memainkan melodi panjang, melibatkan melodi dari suasana hati yang tunggal atau fokus kognitif. Hal ini membuat mental pasien terfokus, namun secara fisik kurang aktif.

Saya merancang intervensi musik untuk peneliti. Sekarang saya bekerja pada satu bidang anak-anak autis, bersama dengan seorang peneliti yang menjalin kerjasama dengan institut Kennedy Krieger di Johns Hopkins. Anak-anak ini mengalami kesulitan tidur di malam hari. Pikiran mereka benar-benar sibuk. Jadi saya menggunakan lagu-lagu tanpa rhythm dan menyanyikannya dengan banyak penekanan udara serta bertatap muka dengan si anak. Misalnya saya menyanyikan lagu When you Wish Upon a Star. Saya bernyanyi dengan nada lembut dan suara berbisik.

Lalu Anda tiupkan udara ke wajah anak ini, dan dalam 10 detik kelopak mata mereka terasa berat, dan dalam 60 detik tubuh mereka telah roboh. Jadi Anda memberi asupan fisiologi ke dalamnya. Juga pusat tonal lagu sangat mengelak. Dibutuhkan seperti 40 not untuk sampai ke beranda [akar not]. Mereka mengikutinya, dan otak mereka tidak cukup berkembang untuk menghentikan respon fisiologis. Mereka tak berdaya.

Epoch Times: Ceritakan tentang rencana Anda untuk membuat program lagu bagi iPod. Apa yang menjadi kategori playlist terapi?

Linda: Ini model yang menghubungkan klinis, dan saya sedang mencari pendanaan dari NIH. Suatu usaha besar. Saya sedang merancang intervensi dengan menggunakan prinsip-prinsip itu.

Pada dasarnya, dibutuhkan semua demografi dari seorang individu, seperti usia, jenis kelamin, BMI, berat badan, profil psikologis, introvert / ekstrovert, profil kejiwaan yang unik, obat farmasi dan efek samping dari mereka, dan preferensi musik (jika Anda tidak menyukai musik opera, maka saya tidak akan memberikan musik opera selama setahun atau lebih). Ada juga latar belakang budaya. Saya berasal dari Irlandia, sehingga begitu ada lagu-lagu Celtic yang bagus maka saya ingin mendengarkannya. Jangan meremehkan pengaruh genetik pada preferensi musik. Kita tidak menjauh diri dari negara asal kita.

Saya juga meneliti jadwal kegiatan, dan jadwal masalah. Jadi, jika Anda sulit bangun di pagi hari, maka ada sepotong musik yang akan membuat Anda bahagia dan riang, serta secara fungsional mengeluarkan Anda dari tempat tidur dan memasuki hari dengan senang hati, dan pikiran yang terang. Segala macam musik akan melakukannya.

Saya juga mengamati diagnosis kasus klinis terbaik Anda. Apakah Anda perlu menurunkan 5 kilogram dan berolahraga pada pukul 15:00 setiap harinya? Kemudian, musik akan mulai pukul 15:00. Ini akan membantu Anda dalam memasang sepatu, dan keluar pintu dengan tendangan langkah semangat Anda. Apa yang Anda ingin lakukan dengan hidup Anda? Apakah Anda ingin berkebun? Apakah Anda ingin mulai memasak? Apakah Anda ingin melakukan mosaik? Ada musik untuk masing-masing aktivitas. Komposisi Gustav Mahler misalnya, penuh dengan suara alam. Ketika Anda mendengar sepo-tong musik Mahler, Anda akan berpikir, “Saya ingin pergi ke toko kembang.” Musik dapat memacu Anda menuju sehat, hasil yang Anda inginkan. Ada kemampuan begitu banyak transformasi melalui musik.

Setiap 10 sampai 14 hari, Anda akan mendapatkan playlist baru yang dibuat berdasarkan campuran musik yang Anda tidak pernah dengar sebelumnya. (Epochtomes/Conan Milner/Ajg)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular