Pegunungan Unters yang terletak di perbatasan Jerman dan Austria, tepatnya di sebelah kampung halaman Mozart yakni Salzburg, sejak zaman dulu kala banyak kisah legenda berasal dari tempat ini.

Menurut legenda ada seorang pemburu tiba-tiba menghilang di pegunungan ini. Setahun kemudian ia muncul kembali pada pemakaman dirinya sendiri. Ada juga legenda mengatakan ada yang pernah melihat sinar terpancar dari gunung ini, juga ada legenda mengatakan di gunung itu berdiam orang-orang kuno seperti Karl yang agung.

Oleh karena itu ada yang menyebutnya “gunung sihir” (Zauberberg), ada yang menyebutnya “gunung gaib” (Wunderberg), dan ada juga yang menyebut gunung itu “gunung cahaya” (Berg des Lichts).

Karl Agung dan akhir dunia

Legenda tentang gunung yang didiami raja dan kaisar ini adalah yang paling disukai, lalu apa sebenarnya yang terjadi?

Menurut legenda, Kaisar Karl yang Agung (Karl I der Große, 2 April 742 – 28 Januari 814), yang juga dikenal sebagai tokoh yang digambar pada kartu King pada permainan poker ala Prancis itu, sebenarnya tidak pernah mati, dan tetap berdiam di dalam gua di Gunung Unters (Untersberg) itu. Setiap 100 tahun Karl akan terbangun dan pergi ke luar gua untuk melihat-lihat, jika burung gagak terbang mengitari gunung itu, Karl akan kembali ke gua dan tidur untuk 100 tahun lagi.

Tokoh utama lain dalam legenda ini bukan Kaisar Karl, melainkan Raja Friedrich I Barbarossa, sekitar tahun 1122 – 10 Juni 1190, yang juga dikenal dengan sebutan Raja Janggut Merah. Menurut legenda ia juga berdiam dalam gua di Untersberg dan selalu tidur, tapi janggutnya terus bertumbuh dan panjangnya telah mengelilingi meja sebanyak dua putaran. Pada saat janggutnya telah mengitari meja sampai tiga putaran, maka dunia akan kiamat.

Satu hari di gua sama dengan satu tahun di luar

Berbagai legenda mengenai Untersberg selalu diselimuti cadar misteri. Selain itu, penulis modern bernama Wolfgang Stadler juga pernah mengalami hal gaib disana, dan menuliskannya dalam novel berjudul “Steine der Macht,” nama samarannya adalah Stan-Wolf.

Menurut laporan Media Web.de, dalam wawancaranya Stan-Wolf pernah mengatakan, di dalam gunung terdapat banyak “gua waktu” (Zeitlöcher). Ia pernah menemukan sebuah pintu logam di sana, lewat pintu itu bisa memasuki bagian gunung yang sangat dalam. Disana ada orang-orang dari zaman lain. Dan waktu di dalamnya 300 kali lipat lebih lambat daripada waktu di luar. Jika berdiam sehari saja di tempat itu, waktu di luar telah berlalu selama setahun.

Kedengarannya sangat mustahil, dan hal itu telah menarik dugaan dan kecurigaan banyak orang. Bahkan penulis itu juga menulis di situsnya, “Banyak hal yang tidak bisa dipercaya disana… otak manusia hanya mampu memahami apa yang diketahuinya. Oleh karena itu saya menulis novel ini menjadi buku.”

Menurut penuturan di situs internetnya, latar belakang penulisan novel itu berawal dari satu kasus hilangnya orang. Pada 15 Agustus 1987, 3 orang Jerman tiba-tiba menghilang di Untersberg, mereka pergi ke sana untuk meneliti fenomena dimensi waktu itu.

Saat itu telah dikerahkan 152 orang dan 3 unit helicopter untuk melakukan pencarian, tapi setelah seminggu tidak ada hasil. Dua bulan kemudian, terdengar kabar mengenai 3 orang itu di sebuah kapal barang di Laut Merah.

Beberapa tahun sebelum kejadian menghilangnya 3 orang Jerman itu, Stan-Wolf sudah bertemu ketiga orang Jerman ini, ia pun melakukan penelitian mendetil selama 15 tahun atas fenomena ini. Akhirnya, ia menuliskan pengalamannya itu dalam bentuk novel.

Rombongan akad nikah menghilang secara misterius

Hingga sekarang belum ada orang yang mampu menjelaskan peristiwa misterius ini, namun legenda yang beredar tetap menjadi hal yang sering dibicarakan, seperti kejadian “rombongan akad nikah yang menghilang.”

Menurut legenda, ada sepasang pengantin yang kaya raya. Karena ingin merayakan pernikahan di rumah keluarga pengantin wanita, mereka membawa serta seorang pelayan dan beberapa orang pemusik berangkat dari desanya menuju desa orang tua mempelai wanita.

Saat melewati Untersberg, salah seorang mulai bercerita. Dulu ada seorang raja dan beberapa prajuritnya lewat di tempat ini dan menghilang, sejak saat itu, disini sering muncul roh halus, dan memberikan sesuatu pada orang-orang yang lewat disini.

Mendengar cerita itu pengantin pria pun memanggil roh, dan meminta agar mereka diberikan sesuatu. Saat itu, gunung terbuka dan muncullah seorang kerdil yang mengenakan baju abu-abu, dan menunjuk ke arah dalam.

Mereka mengikuti orang kerdil itu dan tiba di sebuah kamar yang indah, dengan sebuah meja di tengahnya dan dipenuhi berbagai masakan lezat. Rombongan pernikahan yang telah kelelahan itu pun duduk dan menyantap makanan itu. Kemudian semua orang yang sudah kelelahan dan mabuk itu pun tertidur di samping meja.

Ketika siuman, roh gunung mengantarkan mereka keluar. Tiba di permukaan tanah, mereka melihat sekelilingnya telah berubah total, orang yang mereka jumpai, bahasa yang mereka dengar sama sekali tidak mereka pahami, seolah mereka tiba di sebuah dunia baru.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di sebuah desa, dan bermaksud mencari orang yang mereka kenal, tapi tidak satu pun berhasil ditemui. Belakangan, mereka bertemu seorang pendeta, dan menceritakan kejadian yang mereka alami pada pendeta itu.

Sang pendeta mencari di buku catatan sejarahnya, didapati suatu kisah sekitar 500 tahun silam. Ada sepasang pengantin yang baru akan menikah beserta sejumlah pemain musik dan pelayannya menghilang secara misterius setelah berangkat dari desa itu, dan hingga sekarang tidak diketahui rimbanya. (The Epoch Times/joni/rmat)

Share

Video Popular