Kita semua pernah mengalami mendengar bunyi gemeretak ketika hendak berdiri atau berjinjit. Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada sendi di saat itu, dan apakah itu pertanda buruk? Bagaimana jika kita dengan sengaja menggemeretakkan sendi jari? Akankah berakibat menderita artritis seperti yang dikatakan oleh orangtua kita?

Bunyi gemeretak yang kita dengar pada sendi cenderung disebabkan oleh pergerakan tendon di atas tulang. Tendon adalah sekumpulan jaringan ikat berserat kuat yang melekatkan otot ke tulang dan agak mirip seperti karet gelang yang membentang di atas sendi. Diperkirakan tendon dapat menimbulkan bunyi gemeretak ketika tendon bergerak cepat melintasi sendi.

Ketika sendi bergerak, posisi tendon relatif berubah terhadap sendi. Kadang tendon akan sedikit bergeser posisinya, maka ketika tendon kembali ke posisi normal semula, tendon menimbulkan bunyi gemeretak. Bunyi gemeretak dapat keras atau lembut, sering terjadi atau tidak terjadi, semuanya ini adalah normal.

Degenerasi tulang rawan sendi yang kronis, yang dikenal sebagai osteoartritis, menyebabkan kekakuan dan pergerakan sendi berkurang. Ketika tulang rawan sendi ini rusak, permukaan tulang saling bergesekan satu sama lain selama gerakan, menyebabkan nyeri.

Banyak faktor yang menyebabkan artritis, dan orang mengalami nyeri sendi karena berbagai alasan, seperti faktor genetik, usia, berat badan dan mengalami cedera sebelumnya.

Beberapa penyebab osteoartritis telah diidentifikasi dan cara pencegahan perlu dikembangkan. Tetapi, tidak ada bukti yang kuat yang menjelaskan hubungan sebab akibat antara bunyi gemeretak dengan osteoartritis.

Jika Anda mengalami nyeri atau pembengkakan sendi ketika bunyi gemeretak terjadi, maka Anda harus diperiksa oleh dokter apakah hal tersebut disebabkan oleh kelainan struktur sendi seperti tulang rawan yang longgar atau cedera ligamen. Jika sendi terkunci atau macet ketika bunyi gemeretak terjadi, dapat menunjukkan adanya masalah yang harus diperiksa oleh dokter.

Perilaku kebiasaan menggeretakkan jari tangan untuk waktu yang lama, cenderung meningkatkan terjadinya artritis di kemudian hari. Meskipun pemikiran ini telah berlangsung dari generasi ke generasi, hanya dalam beberapa dekade terakhir baru ada penelitian yang secara ilmiah mencari jawaban apa akibat perilaku kebiasaan menarik menggeretakkan tangan sampai menimbulkan bunyi gemeretak.

Cairan sinovial adalah zat yang ditemukan dalam rongga sendi. Cairan sinovial mirip seperti putih telur yang berguna untuk melumasi sendi supaya mengurangi gesekan selama gerakan.

Penelitian awal menunjukkan ketika sendi digeretakkan, maka tekanan di dalam sendi menjadi sangat berkurang, sehingga menyebabkan gas terlarut di dalam cairan sinovial membentuk gelembung atau lubang mikroskopis. Akhirnya, cairan sinovial berpindah dengan cepat ke daerah tekanan yang rendah sehingga gelembung yang lebih besar pecah, menimbulkan bunyi gemeretak.

Pada tahun 2015, sekelompok peneliti dari Kanada menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk menyelidiki mekanisme bunyi gemeretak akibat menggeretakkan sendi jari. Peneliti menyimpulkan bunyi gemeretak akibat menggeretakkan sendi jari terjadi sebagai akibat dari terbentuknya ruang-ruang di antara gelembung-gelembung di dalam cairan sinovial daripada akibat dari runtuhnya gelembung karena cairan sinovial berpindah dengan cepat ke daerah tekanan yang rendah.

Donald L. Unger adalah seorang dokter yang ingin tahu mengenai efek jangka panjang menggeretakkan sendi jari sehingga menimbulkan bunyi gemeretak, maka ia menggeretakkan sendi jari salah satu tangannya selama 60 tahun. Ia menemukan tidak ada perbedaan kejadian artritis di antara kedua tangannya pada saat ini.

Ada beberapa penelitian formal mengenai topik ini. Pada sebuah makalah pada awal tahun 1990 tercatat menggeretakkan sendi jari tangan sehingga menimbulkan bunyi ugemeretak untuk jangka waktu yang lama dikaitkan dengan pembengkakan dan berkurangnya kekuatan memegang pada beberapa orang. Namun, penulis tidak menemukan perbedaan kejadian artritis di antara kedua tangan orang-orang yang terbiasa menggeretakkan sendi jari tangannya  dibandingkan dengan orang tidak terbiasa.

Sebuah penelitian pada tahun 2011 menilai hasil radiografi peserta penelitian yang berusia 50 tahun hingga 89 tahun, tergantung seberapa sering mereka menggeretakkan sendi jari tangannya sehingga menimbulkan bunyi gemeretak. Terbukti lagi, kecenderungan terjadinya osteoartritis pada tangan peserta penelitian adalah sama di antara peserta penelitian yang sering menggeretakkan sendi jari tangannya dibandingkan dengan peserta penelitian yang jarang melakukannya.

Jadi menarik sendi jari tangannya sehingga menimbulkan bunyi gemeretak adalah tidak berbahaya serta tidak bermanfaat. Mengutip sebuah studi dari Western Journal of Medicine. (Epoctimes/Andrew Lavender/Vivi)

Andrew Lavender adalah dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Curtin.

Share

Video Popular