Oleh: Xia yǔ

“Karena aktivitas matahari akan turun hingga 60 persen, sehingga bumi akan menghadapi zaman es mini sekitar 15 tahun lagi, teori ini seketika memicu perdebatan,” kata Valentina Zharkova, profesor dari Northumbria University, Inggris.

Teori Zharkova seketika menimbulkan perdebatan sengit dari kalangan dunia, peneliti yang mendukung teori pemanasan global (AGW) mengkritik pandangan tersebut, demikian laporan Central News Agency yang dikutip dari The Inquisitr.

Meskipun peneliti AGW tidak menyangkal keakuratan prediksi Zharkova terkait aktivitas matahari yang akan turun drastis pada 2030 mendatang, namun, mereka bersikeras mengatakan teori Zharkova tidak cukup untuk meniadakan fenomena pemanasan global yang sedang terjadi.

Menurut penuturan Zharkova, bahwa fenomena alam yang akan terjadi 15 tahun lagi itu akan mengarah kepada kondisi Maunder Minimum. Istilah tersebut dikenal sebagai penurunan aktivitas Matahari yang membuat Bumi memiliki cuaca yang sangat dingin. Fenomena itu pernah terjadi pada periode antara 1645 dan 1715 silam. Saat itu wilayah Eropa dan Amerika Utara menghadapi cuaca yang sangat dingin.

Akibatnya kawasan Eropa mengalami cuca dingin ekstrim dalam sejarah. Banyak sungai-sungai membeku, bahkan sungai Thames di Inggris dikatakan telah membeku total saat itu. Ini berarti aktivitas matahari akan menurun tajam sekitar 60% dalam 15 tahun ke depan dan diprekdisi zaman es akan kembali melanda bumi pada 2030.

“Tidak peduli apa yang kita lakukan terhadap Bumi, jika semuanya hanya bergantung pada matahari, maka suhu akan turun drastis dengan skala yang mirip seperti pada kondisi Maunder Minimum, setidaknya memang seperti itu di belahan bumi utara. Kita belum melakukan banyak pengukuran terhadap belahan bumi selatan, dan kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi kita tahu akan bagaimana jadinya di belahan bumi utara itu,” kata Zharkova.

Para ilmuwan khawatir, hal ini menunjukkan bahwa Bumi akan mengalami bencana iklim dingin “Zaman Es Mini”.

Menurut sang profesor, kacaunya siklus matahari tersebut dikarenakan tidak seiramanya gerakan lapisan luar matahari dengan lapisan dalamnya. Ketika Maunder Minimum terjadi, kedua lapisan tersebut akan saling mengganggu. Akibatnya matahari tidak bisa mengeluarkan energi seperti biasanya. Bahkan saat Maunder Minimun yang terjadi 370 tahun silam, dikatakan jika bintik-bintik matahari sempat hilang sama sekali.

Zharkova mengatakan bahwa pendukung AGW meminta Royal Astronomical Society menarik penelitiannya.

Prediksi zaman es itu berdasarkan aktivitas matahari 11 tahunan. Aktivitas matahari itu tak sama pada tahun yang dimaksud. Pada siklus tersebut, aktivitas matahari mengalami fluktuasi di atas siklus 10 hingga 12 tahun.  Siklus semacam itu telah ditemukan peneliti pada 172 tahun lampau.

Sementara itu, dalam Temu Astronomi Nasional di Wales pada pekan lalu, profesor Zharkova telah mempresentasikan model baru yang bisa memprediksi siklus matahari dengan berbasis efek dinamo pada dua lapisan matahari.

Dalam uji coba model tersebut, Zharkova menemukan komponen gelombang magnetik muncul berbarengan, yang berasal dari dua lapisan berbeda dari bagian dalam matahari.

“Keduanya memiliki frekuensi yang kira-kira 11 tahun, meskipun frekuensi ini sedikit berbeda dan berimbang dalam waktu kali ini,” ujarnya.

Dengan kombinasi kedua gelombang yang bersama dan membandingkan dengan data real siklus matahari saat ini, Zharkova yakin prediksi yang ditunjukkannya sangat akurat.

Tim Zharkova mengatakan timnya memprediksi hal ini akan mengarahkan ke Maunder Minimum. Dalam catatan sejarah, ‘zaman es’ pernah melanda daratan bumi. Hal itu terjadi pada musim dingin antara 1645 dan 1715. Pada tahun tersebut, seluruh Sungai Thames di Inggris membeku. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular