Parlemen Eropa mengumumkan, penghargaan HAM Sakharovrights prize tahun ini dianugerahkan kepada dua orang wanita yang melarikan diri dari cengkeraman kaum radikal ISIS yakni dua orang wanita berdarah Irak etnis Yazidi. Kedua wanita tersebut sempat disandera oleh ISIS dan dijadikan budak seks serta mengalami penganiayaan.

Sejak 1988, setiap tahun Parlemen Eropa menganugerahkan hadiah Sakharovrights prize, sebagai penghargaan bagi orang atau organisasi yang melindungi HAM, melindungi hak bagi kaum minoritas, melindungi hukum internasional dan kebebasan beragama. Hadiah penghargaan Sakharovrights prize ini sebesar 50.000 Euro (714 juta rupiah).

Kelompok bersenjata ISIS pada musim panas 2014 mengepung wilayah suku Yazidi di sebelah utara Irak, menyandera ribuan wanita dan anak perempuan Yazidi, dan menjadikan mereka sebagai budak seks.

Dua orang wanita Yazidi yakni Nadia Murad dan Lamiya Aji Bashar juga ditawan oleh ISIS dan dijadikan budak seks, mimpi buruk ini telah berlangsung selama berbulan-bulan. Mereka yang telah mengalami derita luar biasa itu akhirnya berhasil melarikan diri, keduanya menjadi tokoh yang berupaya melindungi suku Yazidi, dan meraih penghargaan Sakharovrights prize.

 Tak Mampu Lagi Menanggung Pelecehan Seksual dan Siksaan

Central News Agency melaporkan, Nadia Murad yang bertutur kata lembut ditangkap oleh ISIS pada Agustus 2014 silam dari kampung halamannya Desa Kocho di Kota Sinjar, wilayah utara Irak, dan dibawa ke Mosul.

Nadia yang kini berusia 23 tahun itu menjadi tawanan ISIS, mengalami siksaan juga pelecehan seksual. ISIS bahkan memaksanya untuk melepaskan agama kepercayaan Yazidi kunonya. Ajaran Yazidi memiliki sekitar 500.000 orang pengikut, yang mayoritas tersebar di wilayah utara Irak dekat perbatasan Suriah.

Pada awal tahun ini di Kantor Pusat PBB di Geneva, pernyataan Nadia diterjemahkan dengan bahasa Arab mengatakan, “Hal pertama yang mereka lakukan adalah memaksa kami untuk menganut agama Islam.”

Desember 2015 lalu di depan DK-PBB di New York dia berpidato, menceritakan bagaimana ISIS memaksanya untuk “menikah” dengan seorang anggota ISIS. Dia berkata, pria itu melecehkannya, memukuli dirinya, menyuruhnya berdandan dan berpakaian tidak senonoh.

Ketika ditanya mengapa memutuskan untuk melarikan diri, dia menjawab, “Saya sudah tidak kuat lagi menahan siksaan dan pelecehan seksual yang mereka lakukan.”

Setelah lolos dari cengkeraman ISIS, Nadia menjadi duta muhibah PBB, yang menghimbau masyarakat internasional agar memperhatikan penderitaan para korban human trafficking.

Saat diculik dia baru berusia 16 tahun

Seorang wanita lainnya yang ditangkap adalah Lamiya Aji Bashar yang juga berasal dari Desa Kocho, saat ditangkap dia masih berusia 16 tahun.

Jan Kizilhan yang membantu Lamiya mendapatkan psiko-terapi di Jerman mengatakan pada wartawan, “Dia adalah seorang wanita yang sangat tegar, saya tidak berharap penderitaan yang telah dialaminya akan terjadi pada orang lain.”

Kizilhan mengatakan, “Banyak teman dekat dan kerabat Lamiya dibunuh di depan matanya oleh ISIS, dia ditangkap dan dijadikan budak, berkali-kali diperjualbelikan, dan sama seperti wanita Yazidi lainnya, dia berulang kali mengalami pelecehan seksual.”

Selama 20 bulan disekap, Lamiya telah berkali-kali berusaha melarikan diri. Akan tetapi setelah berhasil lari, dia jatuh ke tangan seorang kepala rumah sakit kota Hawjiah Iraq, dan bersama beberapa orang lainnya mereka kembali dianiaya dan dilecehkan. Akhirnya dia dan dua orang temannya melarikan diri, tapi dalam perjalanan menuju Kirkuk, seorang temannya menginjak ranjau dan tewas di tempat.

Pendiri ormas Air Bridge Iraq bernama Mirza Dinnayi selama ini selalu merawat Lamiya sejak dia tiba di Jerman pada April lau. Meskipun Lamiya berhasil selamat, tapi wajah remajanya telah mengalami luka bakar serius akibat ledakan dan mata kanannya mengalami buta. Lamiya kini telah bisa berjalan sendiri, dan sekarang berdiam di sebelah selatan Jerman. Impiannya adalah menjadi guru SD dan menetap di Jerman.

“Lamiya tidak kehilangan keberaniannya, dan sedang berjuang untuk terus eksis. Walau kehilangan penglihatan mata kanannya dan wajahnya rusak akibat luka bakar serius, tapi Lamiya terus berusaha meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap daerah-daerah yang mengalami musibah, dan terus membantu para budak berikut wanita dan anak-anak yang mengalami perbudakan dan penganiayaan,” kata Kizilhan.

Sakharov Rights

Penghargaan HAM Sakharovrights prize diambil dari nama seorang fisikawan peraih Hadiah Nobel Perdamaian dari bekas Uni Soviet dulu yang bernama Andrei Sakharov (1921-1989). Para anggota Parlemen Eropa memutuskan untuk menganugerahkan penghargaan ini untuk mendorong terwujudnya HAM dan demokrasi di seluruh dunia. Tahun lalu penghargaan ini dianugerahkan kepada seorang Blogger asal Saudi Arabia bernama Raif Badawi.

20 November 2013, di dalam rapat seluruh anggota Parlemen Eropa, ketua parlemen bernama Martin Schulz menyerahkan penghargaan Sakharovrights prize kepada seorang gadis asal Pakistan yang bernama Malala Yousafzai (16), atas upayanya memperjuangkan hak mengenyam pendidikan bagi kaum wanita. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular