Komisi Nasional dan Keluarga Berencana RRT baru-baru ini merilis sebuah laporan yang menunjukkan bahwa, sejak kebijakan 2 anak diberlakukan mulai 1 Januari tahun ini, angka kematian ibu melahirkan pada paro pertama tahun ini sedah meningkat sebesar 30 %.

Para pakar percaya bahwa naiknya angka kematian ini memiliki hubungan erat dengan operasi caesar “tanpa rasa sakit” yang beresiko tinggi saat kelahiran anak pertama.

Operasi caesar yang meninggalkan bahaya pada organ reproduksi wanita

Media ‘Oriental Daily’ pada Rabu (2/11/2016) memberitakan, seorang wanita warga Shenzhen berusia 32 tahun pada Kamis pekan lalu mengalami pendarahan berat saat melahirkan anak dengan cara opperasi caesar.

Hal itu memaksa ahli medis bekerja keras selama 7 jam untuk melakukan penyelamatan nyawa ibu dan anaknya. Meskipun nyawa keduanya dapat diselamatkan, namun wanita tersebut harus menukar nyawanya dengan menjalani operasi histeroktomi.

Dokter ahli bernama Su Fangming menjelaskan, wanita tersebut di waktu lalu melahirkan anak pertamanya dengan cara caesar, sehingga ada bekas luka di rahimnya. Dinding rahim yang terluka karena operasi berpotensi menumbuhkan parutan uterus (scarred womb) yang akan meningkatkan resiko saat mengandung anak kedua.

Dalam pemeriksaan pekan ke 31 kehamilan wanita tersebut dokter  menemukan gejala terjadinya plasenta previa dengan implantasi plasenta dalam kondisi kritis. Karena itu ia kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Rakyat Kota Shenzhen untuk mendapatkan perawatan intensif.

Kamis pekan lalu dokter memutuskan untuk mengangkat bayi dalam kandungannya yang baru berusia mendekati 37 pekan melalui tindak operasi ceasar.

Awalnya ahli medis lebih memilih untuk mempertahankan rahim sang ibu, tetapi karena pendarahan yang hebat, sehingga terpaksa memilih tindakan histeroktomi demi menyelamatkan nyawa.

Dokter mengatakan, operasi caesar akan meninggalkan bekas luka di rahim. Pada saat ibu kembali mengandung, dan bertepatan dengan embrio berimplantasi di dinding rahim bekas luka, maka hal itu memungkinkan terjadinya gejala plasenta previa atau plasentra accreta.

Sedangkan probabilitas untuk terjadinya plasenta accreta pada kehamilan anak pertama adalah 20 % dan menjadi 40 % pada kehamilan anak kedua. Sering terjadi wanita terpaksa menjalani histerektomi karena pendarahan yang hebat, membutuhkan transfusi darah dan menyumbati pembuluh darah arteriuterina.

Jumlah wanita Tiongkok yang melahirkan anak dengan cara caesar terlalu banyak

Menurut survei Organisasi Kesehatan Dunia, tingkat ibu melahirkan anak lewat operasi caesar di Tiongkok antara Oktober 2007 hingga Mei 2008 mencapai 46.2%. Namun dalam beberapa tahun  hingga 2014, angka tersebut mengalami penurunan hingga mencapai sekitar 35 %. Tetapi masih jauh lebih tinggi dari angka yang direkomendasikan WHO yakni antara 10 – 15 %.

Ada media yang melaporkan bahwa biaya untuk operasi caesar di daerah pedalaman Tiongkok bisa mencapai lebih dari 2 kali lipat kota besar dengan waktu yang diperlukan lebih pendek sekitar 10 jam. Karena itu, banyak rumah sakit bersalin demi kepentingan ekonomi lalu membujuk para ibu hamil untuk melahirkan anak melalui operasai caesar yang katanya “Tidak terasa sakit”.

Pada saat itu, karena kebijakan 1 anak maka banyak ibu hamil yang tidak lagi mempertimbangkan resiko melakukan operasi caesar.

Banyak masalah muncul menyusul kebijakan 2 anak diterapkan

Profesor Rumah Sakit Kesehtan Ibu dan Anak provinsi Guangdong, Xia Jianhong dalam analisanya menyebutkan, meningkatnya angka kematian ibu melahirkan di Tiongkok jelas memiliki hubungan erat dengan kebijakan 2 anak.

Selain banyak kasus kematian yang diakibatkan oleh masalah mengenai  parutan uterus (scarred womb), juga karena banyak ibu yang melahirkan di luar usia produktif, masalah skill dari para bidan termasuk pula tingkat pemeriksaan pada saat sebelum dan sedang kehamilan yang tidak cukup.

Saat ini, 60 % – 70 % wanita yang mengandung anak kedua di Tiongkok sudah berusia di atas 35 tahun. Mereka itu sudah tergolong wanita yang di luar usia produktif, dan memiliki resiko terkena infeksi pada sistem reproduksi lebih tinggi.

Selain menghadapi kesulitan hamil, mudah mengalami keguguran kandungan, lagi pula gangguan hipertensi, gula darah tinggi dan komplikasi lainnya juga menambah resiko kematian saat kelahiran.

Sebelum kebijakan 2 anak diterapkan, para tenaga medis yang membantu kelahiran sudah dirasakan kurang dan tentunya sibuk. Setelah kebijakan diterapkan maka jumlah ibu yang melahirkan makin bertambah, tetapi tenaga medisnya tidak bertambah.

Apalagi kebanyakan tenaga medis adalah wanita yang juga ingin memiliki anak pertama atau kedua, sehingga kemampuan untuk melayani pasien di rumah sakit bersalin menjadi makin menurun.

Setelah kebijakan 2 anak diterapkan, sejumlah ibu yang belum menyadari penyakit yang tersembunyi dalam diri mereka, juga ikut berlomba ingin memiliki anak kedua. Jadi mereka ini juga termasuk yang ikut memicu meningkatnya angka kematian.

Selain itu, pemeriksaan terhadap kandungan yang tidak dilakukan secara rutin juga ikut memberikan andil kematian pada ibu yang melahirkan.

Terutama para wanita karir yang baru ingin memiliki anak pertama, mereka lebih sering menunda-nunda pemeriksaan kandungan karena sibuk dengan pekerjaan. Sehingga melewati waktu terbaik untuk mendeteksi kesehatan, skrining penyakit pada janin.

Kemudian merasa ‘sudah berpengalaman’ karena kelahiran anak pertama berjalan lancar, karena itu mereka makin kurang memperhatikan perlunya melakukan pemeriksaan pada saat mengandung anak yang kedua. Termasuk mengabaikan ‘peringatan-peringatan’ kesehatan yang dikeluarkan baik oleh janin atau diri sendiri.

Direktur Ilmu Kebidanan Rumah Sakit Keenam Afiliasi Universitas Sun Yat-Sen Gao Yu mengingatkan, bahwa ketika ibu yang berusia di luar produktif ingin memiliki anak kedua, mereka jangan sekali-kali lupa melakukan persiapan diri sesempurna mungkin, meningkatkan jumlah pemeriksaan kesehatan sesuai dengan kondisi fisik masing-masing.

“Terutama melakukan pemeriksaan terhadap fungsi hati dan parut uterus,” kata Gao Yu.

Beberapa rumah sakit besar memiliki klinik / fasilitas khusus untuk memeriksakan gangguan sulit terdeteksi yang dialami oleh para ibu berusia di luar produktif. Jadi jika mereka ini merasakan tidak enak badan, dapat datang langsung untuk melakukan perawatan darut di sana.  (Li Hongbo/sinatra/rmat)

Share

Video Popular