Oleh: Wen Pinrong

Seorang pria berusia 49 tahun yang berpenampilan terpelajar dan menarik, telah mengalami dua kali serangan stroke. Uban memenuhi kepalanya, kaki dan tangan kirinya tidak bertenaga. Saat berjalan kaki kirinya harus diseret, sulit untuk berjalan normal.

Dokter mengatakan ia tidak akan bisa sembuh. Ahli terapis mengatakan kondisinya akan tetap seperti itu. Tahu dirinya tidak bisa kembali normal ia merasa putus asa dan sedih, temperamennya pun menjadi semakin buruk. Istri yang merawatnya akhirnya tidak tahan lagi, suatu kali ketika berobat di klinik sang istri berteriak padanya, “Aku sudah tidak tahan lagi!”

Saat berbicara, wajah dan mulut pria ini selalu gemetar, jadi ia harus memegang rahang bawahnya untuk berbicara. Dengan emosi ia menceritakan kesakitan yang diderita tubuhnya, insomnia yang dialaminya, ketakutannya, sakit maag, jalan tidak bertenaga, serta pinggang dan sendi kaki dan tangan yang nyeri tak bertenaga.

Ia  juga mengeluhkan berbagai pengobatan tidak bisa menyembuhkannya. Sambil bercerita tiba-tiba kedua matanya melotot menatap saya, dan dengan nada serius bertanya pada saya, “Dokter, apakah saya benar-benar tidak ada harapan lagi?”

Saya menjawab, “Jika Anda terus seperti ini, selalu menyalahkan takdir dan orang lain, merasa rendah diri, pasti tidak ada harapan lagi! Tubuh ini adalah milikmu sendiri, Anda harus menjadi tuan rumah bagi diri Anda sendiri, tidak bisa seluruhnya mengandalkan peralatan medis dan dokter. Jika Anda merusak tubuh Anda, maka tubuh Anda ini akan protes dan menagih hutang pada Anda! Seharusnya Anda bertabiat arogan dan keras kepala! Anda telah mengalami satu kali stroke, tapi bukan hanya tidak mejaga diri, sehingga terjadi stroke yang kedua, Anda ini bermain-main dengan nyawa!”

Mendengar kata-kata saya, ia tertunduk, kedua tangannya diletakkan di atas meja.
Saya melanjutkan, “Kalau begitu, mari kita buat perencanaan untuk membangkitkan lagi kekuatan Anda, bagaimana? Anda masih muda, anak-anak masih sekolah, apakah Anda mau melewatkan sisa hidup seperti ini? Hawa Qi (energy vital, Red.) pada ginjal Anda belum pupus, seharusnya masih ada jalan untuk membaik, jika Anda berusaha, maka hidup Anda akan mandiri, Anda pun dapat bergerak lebih leluasa.”

Melihat matanya yang penuh keraguan, ia bergumam, “Sungguhkah? Benarkah?”
Saya memberitahunya, “Mulai hari ini, setiap hari Anda harus berjalan kaki selama 60 menit, bisa dibagi beberapa tahapan. Titik akupunktur Anda yang saya tusuk dengan jarum, setiap hari harus Anda tekan sebanyak 9 kali atau 36 kali. Semua itu harus Anda lakukan sendiri, boleh dilakukan secara perlahan.”

Setelah itu saya juga berkata pada istrinya, “Urusan dia, biarkan ia lakukan sendiri, jangan bantu dia, jangan papah dia, biarkan dia sendiri. Jika ia marah, jangan pedulikan dia, biarkan saja, semakin baik Anda merawat orang yang terkena stroke, akan semakin lama ia pulih, bahkan tidak akan bisa pulih lagi.”

Kemudian dilanjutkan dengan tusuk jarum. Menurunkan tekanan otak, tusuk jarum di titik akupunktur Yang Ling Quan, Tai Chong, dan Xing Jian. Memperlancar aliran darah ke otak dan mengatasi gangguan otak, tusuk jarum di titik akupunktur Bai Hui sampai ke ubun-ubun depan, Tong Tian sampai Cheng Guang, Lu Gu sampai Jiao Sun, Feng Chi, Feng Fu, dan Yong Quan.

Sulit berbicara, tusuk jarum di titik akupunktur Ya Men, Cheng Jiang, dan Jian Quan. Ngilu pada tangan dan bahu, tusuk jarum di titik akupunktur Jian Jing, Jian Liao, Jian Wai Yu, Qu Chi, Shou San Li, San Yang Luo, dan He Gu.

Betis sulit diangkat, tusuk jarum di titik akupunktur Zu San Li, Jue Gu, dan Fu Tu. Pinggang nyeri dan kaki temas, tusuk jarum di titik akupunktur Yang Ling Quan, Feng Shi, Zhong Zhu, Shen Yu, Zhi Bian, Huan Tiao, Wei Zhong, Qiu Xu, dan Kun Lun.

Untuk menenangkan jiwa dan pikirannya, tusuk jarum di titik akupunktur Da Zhong, Shen Men, Jian Shi, Tai Chong, dan Yin Tang. Setiap kali dilakukan bergiliran, dan dikurangi menyesuaikan kondisi penyakitnya.

Walaupun awalnya kemajuan yang dicapai agak lambat, tapi perlahan terlihat ada perbaikan, mulai dari duduk lalu berdiri. Tidak lagi kesulitan, betisnya juga sudah bisa agak diangkat. Saat berbicara mulutnya tidak lagi gemetar, tekadnya untuk sembuh semakin kuat.

Hal yang paling memusingkan adalah, rumahnya terletak di sebelah gudang pendingin, setiap hari suara mesin bongkar muat cukup memekakkan telinga! Ini membuatnya sakit kepala, dada nyeri, dan sakit maag, tidak bisa dihindari, ini membuatnya hampir gila! Berbagai cara sudah dilakukan tapi tidak berguna, awalnya cukup efektif, tapi tak lama kemudian menjadi tidak manjur lagi.

Akhirnya saya mengajarkannya, “Begini saja, cobalah Anda berkata pada suara berisik itu, aku tidak takut padamu, sebanyak tiga kali. Karena gelombang suara juga merupakan sejenis substansi, yang merupakan gerakan partikel. Karena hawa Qi empedu Anda lemah, ditambah lagi dengan stress, membuat kemampuan Anda menerima gangguan menjadi lemah pula, semakin Anda merasa suara itu bising, semakin suara itu akan mempengaruhi Anda. Cobalah. Jangan menyerah.”

Segera ia benar-benar mengucapkan “aku tidak takut padamu” sebanyak tiga kali di ruang klinik saya, kemudian matanya bersinar, parasnya sungguh menyenangkan! Lalu ia mengambil satu langkah besar maju ke depan, rasa takut berhasil diatasinya, lambung dan jantungnya tidak lagi terasa nyeri.

Setelah itu, setiap kali terapi akupunktur, ia terus mengalami kemajuan, bahkan sudah bisa mulai membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, dirinya menjadi lebih ceria dan optimis. Jalan hidup setiap orang memang harus dilalui sendiri. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular