Kasus sulit untuk memperoleh keturunan masyarakat Tiongkok terus meningkat setiap tahunnya. Di antaranya, berbagai bentuk pencemaran lingkungan telah memberikan pengaruh buruk yang tak terhitung nilainya termasuk dampaknya terhadap masalah tersebut.

Artikel yang baru-baru ini dirilis di media Tiongkok ‘The Paper’ menunjukkan bahwa pada 20 tahun yang silam, penduduk Tiongkok usia subur yang terkena gangguan infertilitas rata-rata adalah 3 %. Tetapi pada akhir 2011 angka tersebut sudah naik menjadi 12 % dan di beberapa daerah bahkan mencapai 15 %.

Analisa mereka menunjukkan bahwa pencemaran lingkungan, tekanan kerja, gaya hidup yang tidak sehat adalah penyebab utama dari menurunnya kemampuan untuk memiliki anak bagi para muda-mudi usia subur.

Hasil analisa pakar menunjukkan, pencemaran lingkungan telah meningkatkan intensitas penduduk usia produktif dalam negeri terkena gangguan infertilitas. Zat-zat beracun melalui air yang terkontaminasi, makanan diserap melalui kulit ke dalam tubuh menyebabkan gangguan pada reproduksi manusia, gangguan perkembangan kesehatan, melemahkan sistem kekebalan tubuh tertentu, penyakit kanker tertentu juga berdampak buruk terhadap sistem saraf.

Pencemaran lingkungan mengakibatkan gangguan bagi kaum pria berupa azoospermia (sedikit atau nyaris tidak ada sel sperma), oligozoospermia (konsentrasi sperma rendah), asthenozoospermia  (pergerakan sperma lambat) atau kerusakan yang parah pada sel spermatogenik, kualitas sperma menurun.

Dibandingkan dengan keadaan di 30 – 40 tahun lalu, jumlah sel sperma yang terkandung dalam  mililiter air mani pria Tiongkok telah menurun dari sekitar 100 juta menjadi sekitar 20 – 40 juta, bahkan bagi pria yang hidup di daerah yang tingkat modernisasi makin tinggi, kualitas sperma mereka makin cepat menurunnya.

Bagi kaum wanita di Tiongkok, tekanan dalam pekerjaan merupakan penyebabkan utama mereka terkena gangguan infertilitas. Dengan meningkatnya tekanan hidup, kaum wanita cenderung untuk menunda pernikahan, melewati usia subur tentunya akan menurunkan kemampuan memiliki keturunan. Wanita setelah melewati usia 35 tahun kemampuan untuk memiliki keturunan akan makin menurun.

Media Tiongkok mengutip data Sperm Bank China (Bank Sperma Tiongkok) pernah memberitakan, pasien infertilitas di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir terus bertambah, sekitar 100.000 orang bayi tabung lahir setiap tahun. Saat ini penderita infertilitas di seluruh Tiongkok sudah mencapai 40 juta orang yang merupakan 12.5 % dari jumlah penduduk usia subur. Gangguan infertilitas cenderung menghampiri pasangan dengan usia muda.

Kaum wanita usia produktif Tiongkok yang membutuhkan progresteron untuk membantu kehamilan kini mencapai sekitar 3 juta orang. Di antaranya yang diakibatkan oleh gangguan sperma pria adalah 40 %. Pasien azoospermia menyumbang 15 – 20 %.

Analis lain percaya bahwa terlalu sering melakukan aborsi juga menjadi salah satu alasan wanita mengidap infertilitas. Menurut hitungan tidak resmi, diperkirakan sedikitnya ada 13 juta kasus pengguguran kandungan yang dilakukan di Tiongkok setiap tahunnya. Dan bahkan lebih dari separo jumlah itu adalah wanita yang belum menikah, tetapi sudah lebih dari 2 kali menjalankan operasi aborsi. (Secretchina/ Chen Qiuying/sinatra/rmat)

Share

Video Popular